Next

ALI BIN ABI THALIB A.S. PASCA PEMBUNUHAN UTSMAN BIN AFFAN (2)

Kufah Menjadi Ibukota Pemerintahan Islam

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Ali bin Abi Thalib a.s. dan pasukannya bergerak menuju Kufah untuk dijadikan sebagai ibukota negara. Sebelum itu, ia mengirim utusan ke sana untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Ali bin Abi Thalib juga telah mengutus Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di sana, dan menjelaskan kepadanya secara lengkap bagaimana bersikap dan menghadapi warga kota pasca perang Jamal.

Alasan Ali bin Abi Thalib a.s. memilih Kufah sebagai ibukota baru negara Islam dapat diurai sebagai berikut:

1.  Perluasan wilayah negeri Islam yang harus diimbangi dengan sebuah ibukota yang terpusat secara administratif dan politis. Untuk itu, ibukota harus berada di wilayah yang strategis sehingga dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negeri Islam.

2.  Pertimbangan utama lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Ali bin Abi Thalib a.s. dalam menumpas pasukan Jamal. Mereka adalah tokoh-tokoh dan warga Irak. Dan bantuan perang yang paling banyak adalah dari Kufah.

3.  Situasi buruk politik dan ketegangan akibat pembunuhan atas Utsman bin Affan dan perang Jamal membuat Ali bin Abi Thalib memilih Kufah sebagai ibukota baru untuk memastikan dan memberikan jaminan keamanan kepada daerah-daerah di sekitarnya.

Ali bin Abi Thalib dan Golongan Qasithin (Pasukan Shiffin)

Persiapan Muawiyah

Pemindahan ibukota pemerintahan Islam oleh Ali bin Abi Thalib ke Kufah sangat menggusarkan Muawiyah bin Abu Sufyan, sebab dia melihat bahwa pemindahan itu dengan maksud menyatukan negara Islam dan membangun kekuatan Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunah Nabi saw. Reaksi pertama yang dilakukannya ialah meminta bantuan Amr bin Ash sebagai konsultannya, karena Amr terkenal dengan tipu muslihatnya, terutama adanya kesamaan dalam membenci Islam dan Ali bin Abi Thalib.

Setelah menerima surat Muawiyah, Amr bin Ash tidak membuang-buang waktu. Selama ini yang menjadi keinginan Amr adalah ketamakannya kepada dunia. Ia tidak menganggap penting agama, sekalipun dapat menjaminnya masuk surga.

Sesaat ketika tiba di Syam, Amr bin Ash� langsung melakukan siasat awalnya, yaitu membohongi masyarakat dengan menangis tersedu-sedu seperti seorang wanita menangisi keluarga terdekatnya yang meninggal. Setelah menyusun rencana tipu muslihat, Muawiyah dan Amr tawar menawar harga yang harus diterima. Amr memberikan syarat; bila rencananya berhasil dalam menghadapi Ali bin Abi Thalib, ia menjadi gubernur di Mesir. Muawiyah menerima syarat tersebut dan membuat surat perjanjian.

Dari kesepakatan itu mereka menyiapkan rencana dan taktik menghadapi dan menjatuhkan Ali bin Abi Thalib a.s. Seperti biasa, rencana dan taktik yang akan diambil tidak jauh dari tipu muslihat. Tanpa tipu muslihat, mereka tidak akan mencapai tujuannya dan gagal menghadapi Ali selaku pewaris sejati kekhalifahan dan pembawa bendera kebenaran dan keadilan.

Mereka sepakat untuk memanfaatkan baju Utsman bin Affan; orang yang sebelumnya sengaja ditinggalkannya sampai terbunuh. Baju Utsman ini dipakai untuk mengecoh emosi dan akal masyarakat yang tidak sadar. Mereka berdua mengangkat baju Utsman bin Affan di atas mimbar-mimbar setelah dibawa ke Syam oleh Nu�man bin Basyir. Ketika orang-orang melihat baju Utsman yang dikenakannya ketika ia dibunuh, serentak mereka menangis tersedu-sedu. Tanpa disadari, rasa kebencian menguat dan membara di dada mereka. Mereka menjadi seoleh-oleh buta akan petunjuk dan kebenaran.

Muawiyah membutuhkan dukungan yang lebih kuat dari masyarakat. Untuk itu, Amr bin Ash menggunakan rencana lain lagi. Dia memanfaatkan Syarahbil bin Samth Al-Kindi sebagai provokator awal. Syarahbil dikenal sebagai orang yang banyak ibadah dan ditokohkan oleh kabilah-kabilah Syam. Syarahbil membenci Jarir selaku utusan Ali bin Abi Thalib yang datang ke Syam menemui Muawiyah. Sifat yang membuat Syarahbil mudah dimanfaatkan oleh Amr ialah karena ia tidak mendapatkan informasi dari sumber-sumber langsung. Hasutan ini berlangsung sempurna karena Syarahbil ternyata menuntut Muawiyah untuk membalas dendam atas darah Utsman bin Affan. Tanpa sadar ia telah menjadi alat cuma-cuma di tangan Muawiyah untuk mempengaruhi masyarakat dalam rangka memerangi Ali bin Abi Thalib.

Menguasai Sungai Furat

Setelah mobilisasi warga Syam untuk berperang, Muawiyah meminta baiat dari mereka dan menulis surat kepada Ali bin Abi Thalib a.s. untuk menantangnya berperang yang dibawa oleh Jarir; seorang yang taat kepada Ali. Kemudian Muawiyah membawa pasukannya dengan cepat bergerak ke dataran yang lebih tinggi dari sungai Furat; di lembah yang bernama Shiffin. Ia sengaja menduduki tempat itu untuk menahan Ali bin Abi Thalib dan pasukannya dari air sungai Furat.

Dalam strategi perang Muawiyah, menguasai daerah sungai Furat adalah kemenangan pertama. Dan benar demikian; keterlambatan Ali bin Abi Thalib sampai di daerah itu memaksanya meminta kepada Muawiyah untuk membiarkan pasukannya meminum air sungai Furat. Permintaan Ali itu ditolak mentah-mentah olehnya.

Rasa haus mencekik pasukan Ali yang sebagian besar mereka terdiri dari orang Irak. Keadaan ini semakin mempersulit dirinya, karena mereka menuntut untuk tidak perlu lagi mengambil posisi bertahan di hadapan pasukan Muawiyah. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib memberi izin kepada pasukannya untuk menyerang pasukan Muawiyah yang berada di pinggiran sungai. Serangan itu berhasil mengusir kekuatan Muawiyah dari daerah itu.

Kini, pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. menguasai sungai Furat. Ternyata, ia tidak melakukan pembalasan dengan melakukan cara yang telah digunakan oleh Muawiyah. Ali a.s. memperkenankan pasukan Muawiyah untuk mengambil air dari sungai Furat.

Usaha Perdamaian

Ali bin Abi Thalib telah berusaha untuk terus melayangkan surat dalam rangka melakukan rekonsiliasi guna mencari jalan keluar dari konfrontasi militer, bahkan ia telah membuka beberapa kanal yang dapat menampung maksud Muawiyah agar tetap setia pada baiatnya. Namun demikian, Muawiyah bersikeras untuk memeranginya. Ia mantap dengan niatnya untuk menghancurkan Ali dan pasukannya dengan segala cara.

Melihat itu, Ali bin Abi Thalib belum putus asa untuk tercapainya perdamaian kedua pasukan. Setelah menguasai sungai Furat, ia mengusulkan agar dilakukan gencatan senjata sementara. Dan ia memanfaatkan kondisi ini dengan mengirim� beberapa utusan kepada Muawiyah. Para utusan itu adalah Basyir bin Muhsin Al-Anshari, Said bin Qais Al-Hamadani dan Syibts bin Rub�i At-Tamimi. Ali bin Abi Thalib berpesan kepada mereka: �Temui lelaki itu (Muawiyah) dan ajaklah ia kepada Allah, ketaatan dan jama�ah (persatuan)!�.

Namun, jawaban Muawiyah lagi-lagi pedang dan perang. Kepada para utusan Ia mengatakan: �Enyahlah kalian dari sisiku. Antara kita tidak ada lagi yang tersisa selain pedang�.

Perang Pasca Gencatan Senjata

Telah terjadi kontak senjata sporadis antara kedua pasukan sebelum menjadi peperangan besar. Segera setelah itu kedua pasukan berbaris dengan kekuatan penuh, saling berhadapan. Perang pun pecah dan terhenti ketika memasuki bulan Muharam tahun 37 H. Segera gencatan senjata disepakati untuk kedua kalinya.

Selama gencatan ini, Ali bin Abi Thalib berusaha untuk mencapai perdamaian dengan Muawiyah. Strateginya adalah mengajak untuk duduk berdamai, menyatukan kalimat dan tidak menumpahkan darah muslimin. Sementara itu, Muawiyah mengajak pasukan Ali untuk mencampakkan baiat mereka kepadanya sekaligus menuntut darah Utsman bin Affan.

Gencatan senjata berlangsung selama satu bulan penuh. Perang kecil-kecilan yang terjadi cukup lama mengakibatkan kedua belah pasukan mengalami kelelahan. Kemudian Ali bin Abi Thalib a.s. menyiapkan pasukannya untuk peperangan besar, hal yang sama juga dilakukan oleh Muawiyah. Kembali kedua pasukan saling berhadapan dan siap memulai peperangan yang sangat hebat dan mencekam.

Kepada pasukan, Ali senantiasa berpesan: �Jangan kalian membunuh musuh sebelum mereka melakukannya terlebih dahulu. Alhamdulillah kalian berada di atas kebenaran�. Ia melanjutkan: �Bila mereka memerangi kalian, pasti kalian dapat mengalahkan mereka. Jangan membunuh panglima, orang yang terluka! Jangan pula membuka aurat dan berpura-pura mati!�.

Peperangan terus berlanjut. Ada yang melarikan diri dari medan pertempuran, ada pula yang masih banyak tinggal dan bertempur. Jumlah yang mati dan terluka dari kedua belah pihak sangat banyak; mencapai angka puluhan ribu.

Kematian Ammar bin Yasir

Diriwayatkan bahwa Ammar bin Yasir keluar dari barisan pasukan dan berkata: �Sesungguhnya aku melihat wajah-wajah yang senantiasa saling membunuh sehingga para penumpas kebatilan mulai ragu. Demi Allah! Seandainya kami berhasil mengalahkan musuh, mereka bagaikan orang-orang yang berpenyakit kurap yang ditelantarkan. Kami melakukan perang atas dasar kebenaran, sementara mereka ata dasar kebatilan�. Setelah itu, Ammar maju ke depan dan menyerang pasukan Muawiyah sambil melantunkan syair:

Sebelumnya kami perangi mereka karena tanzil (dzahir wahyu)

Kini kami perangi mereka karena takwil (batin wahyu)

Perang yang melenyapkan angan-angan dari orangnya

Yang membinasakan kecintaan dari sang pecinta

Atau kebenaran kembali di atas� jalannya

Ammar bin Yasir yang terkenal dengan kebenaran, ketulusan dan keberanian terus maju dan menerobos pertahanan musuh. Anak-anak panah telah menghunjam di tubuhnya, sampai akhirnya Abu Adiyah dan Ibnu Jun As-Siksiki menikamnya sehingga menemui ajal. Ketika berada di atas kepala Ammar, dua orang ini berselisih tentang siapa yang akan memenggal dan mengirimkannya kepada Muawiyah, sementara Abdullah bin Amr bin Ash sedang duduk di tempat kejadian. Ia menukas: �Berusahalah kalian berdua menunjukkan budi pekerti yang baik kepada tuannya. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata kepada Ammar bin Yasir: �Wahai Ammar! Sekelompok orang yang zalim akan membunuhmu�.

Adapun Ali bin Abi Thalib a.s. sangat resah ketika Ammar bin Yasir muncul ke medan perang. Ia tak henti-hentinya menanyakan keadaan Ammar, sampai akhirnya orang-orang memberitakan kesahidannya. Mendengar itu, Ali a.s. segera� menuju tempat terbunuhnya Ammar. Ia tampak begitu sedih dan menitikkan air matanya. Telah berpisah darinya seorang penolong setia, pemberi nasihat dan saudara yang tepercaya. Kemudian ia menyalati dan mengebumikannya.

Berita kematian Ammar bin Yasir menyebar ke dua belah pihak. Menghadapi berita itu, pasukan Muawiyah mulai gentar dan ragu, karena mereka tahu ihwal� Ammar dan hadis Rasulullah saw. tentang kematiannya. Namun, krisis itu tidak berlangsung lama karena lagi-lagi tipu muslihat Muawiyah mampu meredamnya. Itu dipermudah dengan keluguan bala tentaranya. Muawiyah meyakinkan mereka bahwasanya yang membunuh Ammar adalah mereka yang membawanya ke medan perang. Ironisnya, orang-orang Syam yang lugu itu malah mempercayainya.

Diriwayatkan bahwa kabar tipu muslihat yang diberitakan oleh Muawiyah akhirnya sampai ke telinga Ali bin Abi Thalib dan akhirnya beliau berkata, �Kami juga yang membunuh Hamzah karena mengajaknya ikut perang di Uhud?

Muslihat di Balik Angkat Mushaf

Peperangan berlanjut berhari-hari. Tampak pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. masih menyimpan ketabahan dan ketegaran, karena tujuan mereka adalah memperjuangkan kebenaran. Lalu Ali a.s. berpidato dan memberi semangat kepada pasukannya untuk terus berjihad di jalan Allah. Ia mengatakan: �Wahai para sahabatku! Kalian telah sampai pada tujuan kalian, dan itulah musuh seperti yang kalian lihat. Yang tersisa dari mereka adalah nafas terakhir. Jika situasi perang ini berbalik, maka yang akhir akan berubah menjadi awal. Mereka telah bersabar melakukan peperangan melawan kita, walaupun tidak di jalan agama. Sementara jihad yang kita lakukan telah melibas mereka. Dan besok, dini pagi, aku akan menghakimi mereka atas dasar hukum Allah.�

Kabar pidato Ali bin Abi Thalib itu terdengar oleh Muawiyah. Ia melihat kekalahan sudah di depan mata pasukannya. Segera ia memanggil Amr bin Ash sebagai konsultannya agar mencarikan rencana peperangan esok hari. Ia berkata kepada Amr: �Sekarang ini malam, bila besok pagi kita belum punya rencana, Ali akan mengalahkan kita. Apa pendapatmu?�

Amr bin Ash berkata: �Menurutku, pasukanmu sudah tidak seperti bala tentara Ali, dan kau juga bukan dia. Ali akan memerangimu karena kebenaran, sedangkan kau memeranginya karena perkara lain. Kau berperang untuk tetap hidup, tetapi dia berperang agar cepat mati. Orang-orang Irak takut kepadamu bila kau memenangkan peperangan ini. Sementara penduduk Syam tidak takut bila Ali yang memenangkan peperangan ini. Sekarang, lemparkan sebuah isu yang bila diterima oleh pasukan Ali sekaligus membuat mereka berselisih satu dengan lainnya, dan bila mereka menolaknya, tetap saja dampaknya sama; mereka akan berselisih. Ajak mereka untuk meletakkan Al-Quran sebagai pemutus dan hakim antara engkau dan mereka�.

Muawiyah segera memerintahkan pasukannya untuk mengangkat mushaf (kitab) Al-Quran ke atas dengan cara menancapkannya di ujung tombak. Orang-orang Syam kemudian berteriak memanggil seterunya dari Irak: �Wahai orang-orang Irak! Ini adalah Kitab Allah di antara kami dan kalian, lengkap dari awal hingga akhir ayat. Siapakah di belakang Al-Quran yang berada di dalam lobang orang-orang Syam, dan siapa pula di belakangnya yang berada di lobang orang-orang Irak?�

Seruan yang penuh dengan tipu muslihat ini bagaikan petir yang menyambar kepala pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. Keadaan mulai tidak tenang, timbul bisik-bisik di sana sini. Akhirnya, mereka pun terpengaruh dengan seruan tersebut dan mengatakan: �Kami akan menyambut seruan itu dan mengikutinya. Kami akan kembali kepada Al-Quran�. Dari pasukan Ali yang paling getol mengampanyekan seruan tersebut ialah seorang komandan yang bernama Al-Asy�ats bin Qais.

Menyaksikan keadaan yang semakin kacau dan tak terkendali, Ali bin Abi Thalib a.s. berkata kepada mereka: �Wahai hamba-hamba Allah! Lanjutkan rencana kalian sebagai hak kalian yang berada di atas kebenaran, dan perangi musuh-musuh kalian. Muawiyah, Amr bin Ash, Ibnu Abi Mu�ith, Habib bin Abi Maslamah dan Ibnu Abi Sarh serta Ad-Dhahhak bukanlah orang yang teguh pada agama dan Al-Quran. Aku lebih mengenal mereka daripada kalian. Aku telah mengenal mereka sejak masih kecil sampai besar dan tua. Sejak masa kanak-kanak, mereka adalah orang-orang yang tidak baik. Aku ingin mengingatkan kalian, demi Allah, bahwa tujuan mereka mengangkat Al-Quran hanyalah untuk menipu dan melemahkan kalian. Kalimat yang mereka ucapkan memang benar, namun maksud ucapan mereka adalah kebatilan�.

Mayoritas orang Irak itu berkata kepada Ali bin Abi Thalib dengan memanggil namanya: �Wahai Ali! Kabulkan keinginan mereka sesuai dengan Kitab Allah bila engkau diajak untuk berpegang padanya. Seandainya kau menolak seruan tersebut,� kami akan meninggalkanmu seorang diri dan berperanglah dengan mereka, atau kami akan melakukan sebagaimana yang telah dilakukan terhadap Utsman bin Affan!�

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak dapat berbuat apa-apa di depan pasukannya yang telah termakan tipu muslihat musuh. Akhirnya ia berkata: �Bila kalian masih menaati aku, mari kita bergerak dan berperang. Namun bila kalian ingin membangkang dari perintahku, lakukanlah sesuka kalian�.

Di medan pertempuran, Malik Al-Asytar maju dengan gagah berani dan penuh keyakinan. Ia berhasil merangsek ke depan dan memukul mundur barisan musuh sampai mendekati posisi Muawiyah. Sebagian pasukan Ali bin Abi Thalib yang melihat Malik demikian berkata kepada Ali: �Perintahkan bala tentara untuk menemui Malik agar kembali!� Akan tetapi, Malik Al-Asytar tidak menggubris dan mendesak maju. Ia tahu bahwa pengangkatan mushaf Al-Quran hanyalah tipu daya Muawiyah.

Namun, mereka tidak diam dan mengancamnya akan membunuh Ali bin Abi Thalib. Melihat kenyataan itu, Malik Al-Asytar kembali dan langsung menuding mereka sambil mengatakan: �Demi Allah! Kalian telah termakan tipu muslihat musuh. Kalian diminta untuk menghentikan peperangan lalu kalian menerimanya. Wahai orang-orang yang berdahi hitam! Bukankah kita percaya shalat kalian sebagai tameng dari godaan dunia dan menambah kerinduan berjumpa dengan Allah? Apa yang aku lihat hanyalah pelarian kalian dari kematian menuju dunia�.

Mereka maju ke depan dan menjawab bahwa Ali bin Abi Thalib setuju dengan seruan Muawiyah. Padahal, Ali hanya terdiam, tidak berkata satu patah kata pun sambil mengelus kepala dengan sedih. Pasukannya benar-benar telah termakan oleh tipu daya dan perang urat syaraf yang dilancarkan oleh musuh, sampai akhirnya� mereka menjadi pembangkang. Ali tidak lagi sanggup berbuat apa-apa. Ia� mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya: �Bila kemarin aku adalah pemimpin kalian, kini aku menjadi rakyat yang dipimpin. Dan bila kemarin aku melarang kalian untuk berbuat sesuatu, kini aku yang dilarang oleh kalian�.

Tahkim (Penghakiman) dan Rekonsiliasi

Ternyata, ujian yang menimpa Ali bin Abi Thalib tidak hanya datang dari pasukannya yang telah teperdaya. Karena, mungkin sekali setelah itu pasukan musuh akan� mendapatkan kepentingan politis lewat perundingan yang akan diadakan sebagai konsekuensi menerima seruan sebelumnya. Peluang tersebut akan semakin terbuka bila para pembangkang perintah Ali a.s. mau mengikuti permainan yang sedang dijalankan musuh; dengan memilih seorang juru runding dalam proses rekonsiliasi tersebut. Bila itu sampai terjadi, Ali sudah mempersiapkan orang untuk berunding dengan pihak Muawiyah. Orang itu adalah Abdullah bin Abbas atau Malik Al-Asytar, sebab ia percaya pada keikhlasan dan kewaspadaan dua sahabat ini.

Namun pada saat yang sama, orang-orang yang telah teperdaya oleh provokasi Muawiyah bersikeras agar Abu Musa Al-Asy�ari dijadikan sebagai juru runding mereka. Ali bin Abi Thalib segera berbicara tegas: �Sebelum ini, kalian telah membangkang perintahku, maka sekarang jangan kalian membangkang lagi. Aku tidak mengutus Abu Musa karena dia tidak bisa dipercaya. Dia telah memisahkan dirinya dariku dan menjauhkan orang-orang dariku; ketika hendak berperang dengan pasukan Aisyah di Kufah, kemudian ia lari dariku lalu aku memberi jaminan keamanan kepadanya beberapa bulan setelah kejadian itu�.

Muawiyah dan Amr bin Ash mampu memorak-porandakan kubu Ali bin Abi Thalib karena dibantu dari dalam oleh Al-Asy�ats bin Qais yang memainkan peran musuh dalam selimut. Secara aklamatif, Amr bin Ash terpilih menjadi juru runding kubu Muawiyah untuk merumuskan poin-poin kesepakatan bersama Abu Musa Al-Asy�ari. Amr tidak menyetujui penyantuman kata �Amir Mukminin� di akte perjanjian. Ali a.s. langsung teringat dan berkata: �Inilah hari yang sama pada perjanjian damai Hudaibiyah, ketika Suhail bin Umar berkata kepada Nabi: �Engkau bukan rasul Allah�. Lalu Nabi berkata kepadaku: �Apa yang terjadi padaku kelak akan menimpamu. Engkau terpaksa menerimanya karena kondisimu waktu itu tertekan�.

Poin penting dalam perjanjian itu adalah gencatan senjata dan pembubaran perang, dan kedua pihak harus kembali kepada Kitab Allah dan Sunah Nabi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Pelaksanaan kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak ditunda hingga bulan Ramadhan tahun 37 H. Perjanjian itu sendiri ditulis pada bulan Safar di tahun yang sama.

Yang aneh adalah masalah penuntutan balas atas pembunuhan Utsman bin Affan. Masalah ini sama sekali tidak dicantumkan, walaupun hanya sekedar sinyalemen saja. Padahal sebelumnya, penuntutan balas ini telah dijadikan alasan peperangan oleh orang-orang seperti Muawiyah dan kroni-kroninya; mereka yang diberi amnesti pasca pembebasan kota Mekkah.

Dan telah disepakati bahwa tempat perundingan dua juru itu untuk prose tahkim akan diadakan di Daumatul Jandal.

Langkah Cerdas Malik Al-Asytar

Diriwayatkan bahwa Malik Al-Asytar diminta untuk menjadi saksi tahkim dan perjanjian rekonsiliasi tersebut dan hendaknya membubuhkan tanda tangan di dalamnya. Malik Al-Asytar berkata: �Tangan kanan dan kiriku tidak dapat membantuku untuk menuliskan nama di atas akte perjanjian ini. Bukankah ini akan menjadi bukti di hadapan Tuhanku atas kebenaran sikapku dalam menghadapi musuh? Dan bukankah kalian telah melihat kemenangan di hadapan mata?!�

Mereka mencoba mengadukan sikap Malik itu kepada Ali bin Abi Thalib a.s., bahwa ia tetap menolak apa yang telah disepakati dalam perjanjian, dan bahwa ia menginginkan agar terus berperang dan mengalahkan musuh.

Ali bin Abi Thalib a.s. menjawab: �Demi Allah! Aku sendiri tidak rela dan belum memberikan jawaban atas apa yang telah kalian lakukan�. Lalu ia menambahkan: �Aku sangat berharap bila saja aku memiliki dua orang seperti Malik Al-Asytar di antara kalian. Andai ada seorang saja dari kalian yang sepertinya; dalam memandang musuh sebagaimana aku memandang, tentu ia akan meringankan bebanku dari kalian. Aku sangat berharap ada sebagian yang tetap bertahan untuk melanjutkan peperangan, dan ini akan membuatku rela pada kalian. Aku telah melarang, namun kalian tetap saja membangkang laranganku. Demi Allah! Kalian telah melakukan perbuatan yang menghancurkan kekuatan kita, meruntuhkan kenikmatan serta meninggalkan kelemahan dan kehinaan�.

Ali Kembali dan Khawarij Menyempal

Ali bin Abi Thalib a.s. kembali ke Kufah dengan berat hati, perasan yang berkecamuk dan dengan kesedihan yang dalam. Ia melihat kebatilan yang diusung oleh Muawiyah mulai menguat dan hampir sempurna. sementara dari sisi lain, ia melihat pasukannya yang telah menjadi pembangkang yang tidak lagi taat pada perintahnya.

Ali bin Abi Thalib a.s. memasuki kota Kufah dan melihat penduduk kota sedih meratapi mereka yang terbunuh di medan perang. Pada saat yang sama, ada sekelompok orang dari pasukannya yang berjumlah dua belas ribu memisahkan diri dari induk pasukan. Mereka tidak ikut dengan pasukan Ali memasuki kota Kufah, namun melintasi daerah Bahrwara�.

Kelompok ini kemudian mengangkat panglima perang dari mereka sendiri. Dia bernama Syabts bin Rub�i. Sementara sebagai imam shalat, mereka mengangkat Abdullah bin Kawai Al-Yasykari. Setelah itu, mereka bersama-sama mencampakkan baiat mereka kepada Ali bin Abi Thalib lalu menyerahkannya ke proses pemilihan kaum muslimin sendiri. Sikap mereka ini muncul setelah penulisan perjanjian damai antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyah. Ini sungguh aneh, karena dengan begitu berarti mereka tidak setuju dengan semboyan �Tidak ada hukum selain hukum Allah�, padahal merekalah yang mendesak Ali bin Abi Thalib untuk menerima tahkim (penghakiman) atas dasar Kitab Allah.

Ali bin Abi Thalib berusaha meluruskan cara pandang mereka melalui nasihat. Untuk itu, ia mengirim Abdullah bin Abbas sebagai utusannya dan mewanti-wantinya agar tidak terburu-buru terlibat dalam perdebatan dengan mereka, karena itu bisa membangkitkan kebencian dan emosi permusuhan mereka. Kemudian ia menyusul Abdullah bin Abbas. Di sana ia berbicara, berargumentasi dan meruntuhkan klaim mereka. Kelompok sempalan ini kemudian menerima apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib dan ikut bersama-sama memasuki kota Kufah.

Pertemuan Dua Utusan

Tibalah saatnya pertemuan kedua juru runding dari Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Ali mengutus empat ratus orang yang dipimpin oleh Syuraih bin Hani. Ia juga memerintahkan Abdullah bin Abbas untuk menyertai mereka, menjadi imam shalat jama�ah dan mengatur urusan mereka. Abu Musa Al-Asy�ari juga berada dalam� rombongan. Sedangkan Muawiyah mengutus empat ratus orang yang dikepalai oleh Amr bin Ash. Kedua kelompok ini kemudian bertemu di Daumatul Jandal.

Sebelum segala sesuatu, beberapa orang dari sahabat tepercaya Ali bin Abi Thalib a.s. segera memberikan pengarahan kepada Abu Musa Al-Asy�ari. Mereka berusaha sekuat tenaga mengarahkannya agar memahami secara baik bagaimana mengambil keputusan. Mereka sangat kuatir akan tipu muslihat Amr bin Ash.

Keputusan Tahkim (penghakiman)

Bertemulah dua juru runding dari kedua belah pihak; Abu Musa Al-Asy�ari dan Amr bin Ash. Abu Musa adalah seorang yang buta politik, lemah akidah dan kurang percaya pada Ali bin Abi Thalib a.s. Sementara Amr bin Ash terkenal sebagai ahli diplomasi, cerdik, ahli muslihat dan senang melihat Ahlul� Bait a.s. enyah dari medan politik. Selain itu, ketamakannya akan kekuasaan yang didukung oleh mitra politiknya; Muawiyah bin Abu Sufyan.

Tidak berapa lama pertemuan itu berlangsung, Amr bin Ash sudah dapat mengetahui titik-titik lemah Abu Musa Al-Asy�ari dan bagaimana cara menguasainya sehingga dia dapat melakukan keinginannya. Mereka berdua sepakat untuk bertemu di ruang tertutup untuk menggugurkan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Kemudian, kedua-duanya memilih Abdullah bin Umar bin Khatthab sebagai khalifah kaum muslimin.

Ketika itu, Ibnu Abbas memperingatkan Abu Musa Al-Asy�ari agar berhati-hati dan tidak tidak terjebak ke dalam kelicikan Amr bin Ash. Kepadanya Ibnu Abbas berkata: �Waspadalah! Demi Allah, aku punya firasat bahwa Amr bin Ash telah menipumu, dan kalian berdua telah bersepakat atas satu perkara yang tidak engkau kehendaki. Ingat! Aku mengusulkan kepadamu agar memberikan kesempatan lebih dahulu kepada Amr bin Ash untuk berbicara, setelah itu giliranmu untuk berbicara. Amr bin Ash adalah seorang yang cerdik dan licik. Aku tidak percaya bahwa dia akan memberikan engkau kesempatan yang membuatmu dan dia rela dan sepakat. Bila engkau berdiri di hadapan manusia, ia akan membelakangimu dan tidak akan menyetujui keputusanmu�.

Namun, Abu Musa Al-Asy�ari berdiri dan berbicara di hadapan khalayak.� Kemudian dia menurunkan Ali bin Abi Thalib a.s. dari kekhilafahan. Setelah itu, giliran Amr bin Ash berdiri dan berpidato lalu menegaskan kembali penurunan Ali yang dilakukan Abu Musa itu. kemudian, dia menetapkan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai khalifah.

Dengan tipu muslihat itulah Muawiyah memenangkan pertarungannya dengan Ali bin Abi Thalib a.s. Orang-orang Syam kemudian mengucapkan selamat kepadanya sebagai pemimpin kaum muslimin. Sementara di sisi lain, orang-orang Irak tenggelam dalam fitnah dan mulai percaya akan kesalahan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Setelah peristiwa itu, Abu Musa Al-Asy�ari segera melarikan diri ke kota Mekkah. Sedangkan Ibnu Abbas dan Syuraih kembali ke Kufah menemui Ali bin Abi Thalib a.s.

Ali bin Abi Thalib dan Mariqin (Khawarij)

Dapat dikatakan bahwa, secara alami, munculnya Khawarij karena peperangan yang terjadi di Jamal dan Shiffin. Sebagaimana tidak dapat di pisahkan penyimpangan yang terjadi pada mereka dalam masalah kekhalifahan dikarenakan penyimpangan mereka dari garis Ahlul Bait a.s. Salah satu sifat penting orang-orang Khawarij adalah kebekuan, kejumudan, kontekstual dalam memahami agama,, fanatisme, kekerasan dan ketidakmampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Mereka sangat cepat dipengaruhi oleh isu dan dengan sedikit keraguan mereka akan kembali kepada sikap awalnya.

Nabi sendiri sebelumnya telah menjelaskan sifat-sifat mereka. Diriwayatkan dari Nabi saw.: �Akan keluar dari umat ini�tanpa menyebutkan nama�sebuah kelompok yang meremehkan shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak lebih dari pelasnya suara dari tenggorokan. Mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya�.

Ali bin Abi Thalib tidak mampu mengobati penyakit dan penyimpangan orang-orang Khawarij. Pemberontakan dan peperangan di perang Jamal dan Shiffin dalam waktu singkat lebih dahulu dari usaha yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. Barangkali dapat dianalisis kemunculan golongan Khawarij ini pada beberapa poin:

1.  Frustrasi dan lemah dalam mewujudkan kemenangan, khususnya peperangan Ali bin Abi Thalib a.s. melawan pembangkangan orang-orang yang mengaku muslim secara lahiriah. Golongan Khawarij gagal memahami upaya Ali a.s. untuk menyelesaikan masalah dengan para pembangkang. Mereka tidak kuasa menerima hasil tahkim. Pada waktu yang sama, mereka sendiri yang memaksa Ali bin Abi Thalib a.s. untuk menerima proses tahkim. Mereka tidak berani menghadapi diri sendiri setelah menemukan penyimpangan yang dilakukan. Akhirnya mereka berusaha untuk membiarkan dan melemparkan kesalahan-kesalahan kepada orang lain yang tidak lain Ali bin Abi Thalib a.s.

Next