Pada
hari-hari terakhir hayatnya Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. telah sampai pada
puncak
kematangannya, baik secara fisik, mental maupun pemikiran. Ketaqwaan dan imannya yang
kuat
telah teruji dalam pengalaman membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ilmu-ilmu
Ilahiyah
yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. telah cukup untuk
menghadapi
dan
menanggulangi berbagai problem yang akan muncul di kalangan umat Islam. Tentang
hal
itu
Nabi Muhammad s.a.w. sendiri telah menegaskan: "Aku ini adalah kotanya
ilmu, sedang Ali
adalah
pintunya."
Penegasan
Nabi Muhammad s.a.w. tentang kecerdasan dan kematangan fikiran Imam Ali r.a.
kiranya
cukup menjadi ukuran sejauh mana ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dituangkan
beliau
kepada putera pamannya itu.
Pandangan
Nubuwwah
Adalah
wajar bila Rasul Allah s.a.w. bangga mempunyai seorang keluarga yang telah
dibekali
syarat-syarat
untuk dapat meneruskan kepemimpinannya atas kaum muslimin. Berkat
ketajaman
pandangan nubuwwahnya, Nabi Muhammad s.a.w. telah melihat akan terjadinya
hal-hal
yang tidak menggembirakan sepeninggal beliau di masa mendatang.
Mengenai
hal yang terakhir ini, Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah,
jilid X
halaman
182-183 mengatakan: "Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk
menghadapi
rongrongan Romawi di Balqa --di bawah pimpinan Usamah bin Zaid-- Nabi
Muhammad
s.a.w. berziarah ke makam Buqai'. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan:
'Assalamu
'alaikum, ya ahlal-qubur'. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang
daripada
yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi
seperti
datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir."
Setelah
memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat:
"Biasanya
Jibril menghadapkan Al Qur'an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini
menghadapkan
kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat."
Keesokan
harinya Rasul Allah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema'ah para sahabat.
Beliau
berkata: " Hai orang-orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari
tengah-tengah kalian.
Barang
siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan
kembali
kepadanya.
Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera
kulunasi.
Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau
urusan
apa
pun yang dapat mendatangkan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal
perbuatan.
Janganlah
ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi
Allah
yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan
selain
amal perbuatan disertai cinta-kasih. Seandainya aku berbuat durhaka aku pun
pasti
tergelincir.
Ya Allah ..., amanat-Mu telah kusampaikan!"
Dari
ucapan-ucapan Rasul Allah s.a.w. malam hari di makam Buqai' dan dari khutbah
beliau
yang
diucapkan keesokan harinya, jelaslah bagi kaum muslimin kesukaran-kesukaran
yang bakal
dihadapi
sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Kesukaran-kesukaran yang hanya dapat
ditanggulangi
dengan
amal perbuatan yang disertai cinta-kasih, sesuai dengan ajaran Allah dan
Rasul-Nya.
Secara
tidak langsung pun beliau memperingatkan, bahwa barang siapa berbuat durhaka,
ia
pasti
akan tergelincir ke jalan yang tidak diridhoi Allah s.w.t.
Jatuh
sakit
Canang
dan peringatan Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya itu diucapkan di kala kaum
muslimin
di seluruh jazirah Arab sudah dalam keadaan mantap. Hanya dalam waktu 10 tahun,
jazirah
yang seluas itu telah bernaung di bawah kibaran panji-panji agama Allah. Untuk
pertama
kalinya dalam sejarah, jazirah yang dihuni oleh qabilah-qabilah, suku-suku dan
puakpuak
yang
saling bertentangan, bersaingan dan bercerai-berai itu, kini telah berhasil
dipersatukan
dalam satu agama, satu aqidah dan satu pimpinan. Agama Islam aqidahnya ialah
tauhid
dan pimpinannya ialah Rasul Allah s.a.w.
Atas
kehendak Allah s.w.t. dan rakhmat-Nya serta berkat kebijaksanaan Rasul-Nya,
perjuangan
mengakhiri
paganisme (agama keberhalaan) telah mencapai prestasi yang luar biasa besarnya.
Missi
suci menyebarkan agama Islam, praktis telah diselesaikan dengan sukses oleh Nabi
Muhammad
s.a.w.
Sekembalinya
dari ibadah haji wada', Rasul Allah s.a.w. mengangkat Usamah bin Zaid bin
Haritsah
sebagai panglima pasukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa,
sebelah
utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru berusia 22 tahun itu,
menimbulkan
kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih
terdapat
panglima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk
jabatan
itu. Namun Rasul Allah s.a.w. tetap berpegang teguh pada kebijaksanaan yang
telah
ditetapkan.
Secara
psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda
yang
cerdas
dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang
kecil dalam
jajaran
pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu'tah sebagai pahlawan syahid dalam
pertempuran
melawan pasukan Romawi. Karena itu diharapkan Usamah akan mendapat
kesempatan
baik untuk menuntut balas atas kematian ayahnya.
Pada
waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga,
tibatiba
Rasul
Allah s.a.w. jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya.
Beliau
menderita
penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan
di
jalan Allah s.w.t., kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat
resah melihat
penyakit
beliau yang tampak gawat.
Meskipun
demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang
manusia
utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit.
Lebihlebih
karena
di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresahan fikiran sementara
sahabat
yang kurang bisa menerima pengangkatan Usamah.
Mengenai
Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil
tak
dapat
ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin
ekspedisi
ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda.
Muhammad
Husein
Haikal dalam bukunya "Hayat Muhammad" tentang hal itu mengatakan:
"Timbul
keyakinan
di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat.
Kebijaksanaan
beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri
memikul
beban tanggung jawab yang besar dan berat."
Makin
hari penyakit yang diderita-Rasul Allah s.a.w. makin gawat. Semula beliau tetap
berusaha
agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami shalat jama'ah.
Akan
tetapi
ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash
Shiddiq
r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu. Perintah Nabi
Muhammad
s.a.w. kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diartikan orang
sebagai
petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan
ummat
Islam sepeninggal Rasul Allah s.a.w.
Wasiyat
Dalam
keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasul Allah s.a.w.
menyampaikan
pesan
kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga
hubungan
baik dengan kaum Anshar. "Mereka itu", yakni kaum Anshar, kata Nabi
Muhammad
s.a.w.,
"adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi
perlindungan
kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan
memaafkan
mereka bila ada yang berbuat salah."
Imam
Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadits, dengan sanad
Ubaidillah bin
Abdullah
bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasul Allah s.a.w. sedang
mendekati
ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara
mereka
itu
terdapat Umar Ibnul Khattab r.a. Nabi Muhammad s.a.w. berkata:
"Marilah…,
akan kutuliskan untuk kalian suatu kitab (secarik surat wasyiat) dengan mana
kalian
tidak
akan sesat sepeninggalku."
Mendengar
itu Umar bin Ibnul Khattab r.a. berkata kepada sahabat-sahabat lainnya:
"Nabi
dalam
keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur'an. Cukuplah Kitab Allah
itu
bagi
kita."
Menanggapi
perkataan Umar r.a. itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya
segera
disediakan alat tulis agar Rasul Allah s.a.w. menuliskan wasiyatnya yang
terakhir. Ada
pula
yang sependapat dengan Umar r.a. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasul
Allah
s.a.w.
akhirnya menghardik: "Nyahlah kalian!"
Hadits
itu tidak perlu lagi dipersoalkan kebenarannya. Sebab Al-Bukhari sendiri
meriwayatkan
hadits
tersebut di berbagai tempat dalam Shaihnya. Juga Muslim dalam Shahihnya pada
bagian
"Wasiyat
terakhir" meriwayatkan hadits tersebut dari Sa'ad bin Zubair yang berasal
dari Ibnu
Abbas
pula.
At-Thabrani
dalam "Al-Ausath" mengemukakan: "Pada waktu Rasul Allah s.a.w.
menghadapi
ajal,
beliau berkata: "Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan
untuk kalian yang
dengan
itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya."
Mendengar
ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wanita yang menunggu di belakang tabir
(hijab)
berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: "Tidakkah
kalian
mendengar
apa yang dikatakan oleh Rasul Allah ?"
Umar
Ibnul Khattab r.a. segera menyahut: "Kukatakan, kalian itu sama dengan
wanita-wanita
yang
mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasul Allah sakit kalian mencucurkan air mata dan
jika
beliau
sehat kalian menunggangi lehernya!"
Mendengar
ucapan Umar r.a. itu Rasul Allah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan:
"Biarkan
mereka
itu, mereka itu lebih baik daripada kalian."
Hadist
yang diketengahkan oleh At-Thabrani itu terdapat dalam "Kanzul
'Ummal", jilid III, hlm
138.
Penyakit
Rasul Allah s.a.w. mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Sitti
Maimunah
r.a., salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta
supaya
dibawa ke tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. Dengan berikat kepala, beliau
keluar dan
berjalan
sambil bertopang pada Imam Ali r.a. dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat
kediaman
Sitti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali.
Beberapa
hari kemudian, di saat banyak orang sedang menunaikan shalat jama'ah yang
diimami
oleh
Abu Bakar r.a., tiba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka
dengan
bertopang
pada Imam Ali r.a. serta Al Fadhl bin Abbas. Shalat subuh berjama'ah itu hampir
saja
tertunda
karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasul Allah
s.a.w.
memerintahkan
supaya shalat dilanjutkan.
Abu
Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam
shalat
kepada
beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap
setengah
berbisik: "Teruskan mengimami shalat". Beliau kemudian mengambil
tempat di
samping
kanan Abu Bakar r.a. dan menunaikan shalat sambil duduk.
Seusai
shalat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap kebelakang dan bertatap-muka
dengan
jama'ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasul Allah s.a.w.
berangsur
sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata: " Hai kaum muslimin,
api neraka
sudah
bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku
tidak
akan
menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur'an. Aku pun tidak akan
mengharamkan
sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur'an. Terkutuklah orang yang
menggunakan
pekuburan sebagai tempat bersujud (Masjid)."
Kesehatan
Rasul Allah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat
tersiar
luas
dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. Usamah bin Zaid, yang
semula
sudah
siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasul Allah s.a.w. sakit keras, kemudian
menghadap
beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a.
sendiri
pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kembali menjalankan tugas sehari-hari.
Begitu
pula
Umar Ibnul Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak
meninggalkan
masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing.
Wafat
Akan
tetapi kondisi kesehatan beliau yang seperti itu ternyata hanya semu belaka.
Beberapa
saat
kemudian penyakitnya berubah menjadi gawat kembali. Detik-detik terakhir
hayatnya tiba
dikala
beliau berbaring di pangkuan isterinya, Sitti Aisyah r.a.
Agak
lain dari itu, menurut Imam Ahmad bin Hanbal dalam Masnadnya jilid II, halaman
300, dan
menurut
At-Thabariy dalam Dzakha'irul'Uqba' halaman 73, beliau wafat di atas pangkuan
Imam
Ali
r.a. Ucapan terakhir yang keluar pada detik kemangkatan beliau ialah "Ar
Rafiqul A'laa.
minal
jannah…"
Ada
yang mengatakan beliau wafat pada bagian akhir bulan shafar tahun 11 hijriyah.
Ada pula
sejarawan
yang menyebut permulaan Rabi'ul Awwal sebagai hari wafat beliau. Kaum Syi'ah,
misalnya,
mengatakan bahwa beliau wafat dua hari terakhir bulan shafar. Tetapi banyak
penulis
sejarah lainnya mengatakan pada permulaan bulan Rabi'ul Awwal tahun 11
Hijriyah,
atau
tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi.
Tentang
hari dan tanggal wafatnya Rasul Allah s.a.w. bukanlah suatu masalah yang perlu
dipersoalkan.
Yang penting dan yang sangat perlu ditekankan, bahwa pada saat-saat terakhir
hayatnya,
beliau tidak mengatakan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan atas
ummatnya.
Hal ini di belakang hari akan menjadi titik perbedaan pendapat tentang
kepemimpinan
ummat di kalangan kaum muslimin.
Rasul
Allah s.a.w pulang keharibaan Allah Rabbul'alamin hanya meninggalkan Kitab
Allah yang
berisi
firman-firman-Nya, dan ajaran serta tauladan beliau yang kemudian dikenal
sebagai
Sunnah
Rasul Allah s.a.w. Beliau mangkat meninggalkan Islam sebagai buah risalah suci
dalam
keadaan
lengkap dan sempurna, yang kehadirannya di permukaan bumi akan melahirkan
peradaban
baru dalam kehidupan manusia.
Nabi
Muhammad s.a.w. wafat meninggalkan keluarga dan para sahabat, yang ketangguhan
Iman
dan
kesetiaannya kepada Islam bisa diandalkan untuk menjamin kelestarian agama
Allah dan
mengembang-luaskan
manusia pemeluknya. Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap.
Itulah
motto perjuangan ummat Islam yang mau tidak mau harus diperhitungkan oleh
kekuatankekuatan
kuffar
di Barat dan kekuatan-kekuatan musyrikin di Timur.
Kemangkatan
Rasul Allah s.a.w. merupakan peristiwa yang tidak diduga akan secepat itu.
Kejadian
yang terasa sangat mengejutkan itu, mengakibatkan banyak kaum muslimin
terombang-ambing
antara percaya dan tidak. Bahkan sahabat terdekat beliau sendiri, yaitu
Umar
Ibnul Khattab r.a. masih juga tidak mau percaya mendengar berita tentang
wafatnya
Rasul
Allah s.a.w. Hingga saat ia sendiri menyaksikan jenazah suci terbaring di rumah
Sitti
Aisyah
r.a., masih tetap berseru kepada semua orang: "Rasul Allah tidak wafat!
Beliau hanya
menghilang
dan akan kembali lagi!"
Umar
Ibnul Khattab r.a. tetap membantah, bahkan mengancam-ancam setiap orang yang
mengatakan
bahwa Rasul Allah telah wafat. Apa yang diperlihatkan oleh Umar Ibnul Khattab
r.a.
itu hanya menunjukkan betapa hebatnya goncangan kaum muslimin mendengar berita
tentang
wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Seorang
sahabat lainnya, Al-Mughirah, berusaha meyakinkan Umar r.a. bahwa Rasul Allah
s.a.w.
benar-benar wafat. Dengan geram Umar r.a. menuduhnya sebagai pembohong. Umar
r.a.
menjawab: "Beliau hanya pergi menghadap Allah, sama seperti Musa bin Imran
yang
menghilang
dari tengah-tengah kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi kepada
mereka."
Banyak
orang yang dituduh oleh Umar r.a. sebagai munafik, hanya karena memberitakan
kemangkatan
Rasul Allah s.a:w. Kepada orang-orang yang sedang berkerumun di masjid
Nabawi,
Umar r.a. meneriakkan ancaman: "Barang siapa berani mengatakan Rasul Allah
telah
wafat,
akan kupotong kaki dan tangannya!" Ancaman Umar r.a. yang seperti itu
cukup
menambah
bingungnya kaum muslimnin yang sedang dirundung duka cita.
Abu
Bakar r.a. yang baru saja datang dari Sunh, ketika mendengar Umar r.a.
melontarkan katakata
sekeras
itu, berusaha meyakinkan dengan mensitir ayat 144 Surah Ali Imran, yang dalam
bahasa
Indonesianya: "Muhammad itu tiada lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya
telah
berlalu
sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu
berbalik
ke
belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang ia tak dapat mendatangkan
mudharat
kepada
Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang
bersyukur."
Mendengar
itu sadarlah Umar Ibnul Khattab atas kekhilafannya.
Pemakaman
Pada
saat wafatnya Rasul Allah s.a.w. Imam Ali r.a. adalah orang pertama yang segera
turun
tangan
untuk merawat dan mempersiapkan pemakaman jenazah manusia terbesar di dunia,
yang
paling dicintai dan dikaguminya. Untuk pertama kali kaum muslimin menghadapi
cara
pemakaman
jenazah orang yang paling mereka hormati dan mereka cintai sebagai pemimpin
agung.
Seorang
manusia pilihan Allah, Nabi dan Rasul-Nya. Seorang besar yang tak akan pernah
ada
bandingannya
dalam sejarah. Seorang arif bijaksana yang telah berhasil mengubah
tatakehidupan
bangsanya.
Seorang yang telah menunjukkan kesanggupan merombak secara
menyeluruh
nilai-nilai lama dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang mulia dan luhur,
yaitu
Islam. Seorang manusia agung yang jauh lebih mulia dibanding dengan
kepala-kepala
qabilah,
pemimpin-pemimpin golongan, bahkan raja-raja sekalipun. Seorang yang hanya
dalam
waktu
kurang lebih dua dasawarsa sanggup mengubah wajah dunia Arab dan mengangkat
derajat
satu bangsa yang tadinya dipandang rendah menjadi sangat disegani oleh
kekutankekuatan
raksasa
seperti Romawi dan Persia. Jauh lebih besar lagi, karena Nabi Muhammad
s.a.w.
datang ke tengah-tengah ummat manusia membawa agama besar untuk menegakkan
kebenaran
dan keadilan di permukaan bumi.
Tata-cara
yang direncanakan untuk memakamkan jenazah suci itu ternyata banyak
menimbulkan
perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, terutama mengenai problema:
siapa
yang berhak memandikan, siapa yang berhak menurunkan ke liang lahad dan lain
sebagainya.
Tentang
di mana jenazah suci akan dikebumikan juga menimbulkan perbedaan pendapat di
kalangan
para sahabat. Sebagian menuntut supaya jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan di
Makkah.
Sebagai alasan dikatakan, di kota itulah beliau dilahirkan. Sebagian lain
menuntut
supaya
jenazah beliau dimakamkan di Madinah, di pemakaman Buqai', dengan alasan agar
beliau
bersemayam bersama-sama pahlawan syahid yang gugur dalam perang Uhud. Akhirnya
perbedaan
pendapat ini dapat disudahi, setelah Abu Bakar r.a. mengumumkan, bahwa ia
mendengar
sendiri penegasan Rasul Allah s.a.w.: "Semua Nabi dimakamkan di tempat
mereka
wafat".
Berdasarkan itu bulatlah mereka memakamkan jenazah Nabi Muhammad s.a.w. di
rumah
beliau di Madinah.
Tentang
masalah siapa yang akan mengimami shalat jenazah secara berjama'ah juga
terdapat
pertikaian.
Pertikaian itu terjadi karena hal itu dipandang suatu kehormatan yang sangat
tinggi
bagi
seorang yang bertindak selaku Imam shalat jenazah bagi manusia agung seperti
Nabi
Muhammad
s.a.w. Karena tidak tercapai kesepakatan, akhirnya tiap orang melakukan shalat
jenazah
sendiri-sendiri. Sementara itu terdapat riwayat lain yang mengatakan, bahwa di
kala
itu
Imam Ali r.a. mengusulkan shalat jenazah secara berjema'ah. Usul tersebut
diterima oleh
kaum
muslimin, bahkan disepakati ia bertindak sebagai imam.
Begitu
pula, tentang siapa yang akan mendapat kehormatan menurunkan jenazah suci ke
liang
lahad.
Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasul Allah s.a.w. mengusulkan supaya Abu
Ubaidah
bin
Al Jarrah saja yang menurunkan ke liang lahad. Sebagai alasan dikemukakan,
bahwa dia
sudah
biasa menggali lahad dan mengembumikan orang-orang Makkah. Imam Ali r.a.
berpendirian
lain. Ia mengusulkan agar Abu Thalhah Al-Anshariy saja yang turun ke liang
lahad.
Alasannya
senada dengan paman Rasul Allah s.a.w. di atas, hanya kotanya lain: "Ia
sudah biasa
menggali
lahad dan memakamkan orang-orang Madinah."
Setelah
melalui pertukaran pendapat beberapa lamanya, akhirnya terdapat saling
pengertian
dan
Abu Thalhah mendapat kehormatan menggali liang lahad. Kemudian timbul pula
problema
baru.
Siapa yang akan menyertai Abu Thalhah dalam melaksanakan tugas terhormat itu?
Problema-problema
seperti di atas timbul, karena tidak ada seorang pun yang diakui
otoritasnya
untuk mengatur dan menentukan tata-cara pemakaman. Juga karena tidak ada
wasiyat
apa pun dari Rasul Allah s.a.w. tentang sesuatu yang perlu dilakukan kaum
muslimin
pada
saat beliau wafat. Soal-soal yang bagi orang zaman sekarang dianggap kurang
penting,
pada
masa itu benar-benar dipandang sebagai satu soal yang besar. Lebih-lebih karena
yang
dihadapi
kaum muslimin ialah jenazah Rasul Allah s.a.w. Hal itu wajar. Rasanya tidak ada
kehormatan
yang lebih tinggi dari pada memperoleh kesempatan memberikan pelayanan
terakhir
kepada jenazah suci itu.
Akhirnya
Imam Ali r.a. dengan terus terang dan tegas berkata: "Tidak ada orang yang
boleh
turun
ke liang lahad bersama Abu Thalhah selain aku sendiri dan Abbas."
Sungguh
pun sudah ada ketegasan seperti itu dari Imam Ali r.a., namun dalam praktek ia
membolehkan
juga Al-Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid turun ke liang lahad. Hal itu
menimbulkan
rasa kurang enak di kalangan kaum Anshar. Mereka menuntut agar ada seorang
dari
kaum Anshar yang ikut. Tuntutan yang adil itu akhirnya disepakati dan
ditunjuklah
orangnya,
Aus bin Khauliy. Aus dulu pernah ikut aktif dalam perang Badr melawan kaum
musyrikin
Qureiys.
Dalam
semua kegiatan membenahi pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a.
benarbenar
memainkan
peranan yang sangat dominan. Bahkan waktu memandikan jenazah beliau,
Imam
Ali r.a.lah satu-satunya orang yang menjamah jasad manusia agung itu. Hal itu
dimungkinkan
karena sebelumnya banyak orang yang sudah mendengar, bahwa Rasul Allah
s.a.w.
sendiri pernah menyatakan, hanya Imam Ali r.a. saja yang boleh melihat aurat
beliau.
Kesan
Imam Ali r.a. yang sangat mendalam dan selalu terkenang dari peristiwa
memandikan
jenazah
suci itu ialah: "…kubalikkan sedikit saja, jasad beliau sudah menurut.
Sama sekali tidak
kurasakan
berat. Seolah-olah ada tangan lain yang membantuku, bukan lain pasti tangan
Malaikat."
Riwayat
lain mengatakan, bahwa yang memandikan jenazah Rasul Allah s.a.w. bukan hanya
Imam
Ali r.a., tetapi juga Abbas bin Abdul Mutthalib serta dibantu oleh dua orang
puteranya
yang
bernama Al-Fadhl dan Qutsam, di samping Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid dan
Syukran,
yang
sampai saat terakhir menjadi pembantu Rasul Allah s.a.w., dua-duanya menuangkan
air.
Jasad
jenazah suci dimandikan tetap dalam mengenakan pakaian. Di saat memandikan Imam
Ali
r.a. tertegun oleh keharuman bau semerbak dan sambil bergumam mengucapkan:
"Demi
Allah,
alangkah harumnya engka.u di waktu hidup dan setelah meninggal!"
Sementara
riwayat mengatakan pula, hahwa pemakaman jenazah suci itu dilakukan pada
malam
hari di bawah cahaya gemerlapan bintang-bintang di langit hening. Di tengah
keheningan
malam itu terdengar detak-denting suara orang menggali lahad, bercampur suara
saling
berbisik, seolah-olah jangan sampai mengusik ketenangan jenazah agung yang
sedang
menuju
ke pembaringan terakhir. Tidak jauh dari tempat pamakaman terdengar suara haru
para
wanita tertahan mengendap-endap rintihan duka. Innaa Lillahi wa innaa ilaihi
raaji'uun…
KHALIFAH
ABU BAKAR ASH SHIDDIQ
Di
saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasul Allah
s.a.w.,
sejumlah
kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk
memperbincangkan
masalah penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. Ikut serta bersama
mereka
seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah.
Di
dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis
Al-Jauhary
mengetengahkan
riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan)
Bani
Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin
'Ubadah,
dalam
keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan
tersebut.
Karena
tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin
Sa'ad,
supaya
meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara
lantang
Qeis
meneruskan kata-kata ayahnya:
"Kalian
termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya
dimiliki
oleh
satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun
di
tengah-tengah
kaumnya, Rasul Allah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah
dan
meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang
beriman
kepada
beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasul Allah s.a.w. Mereka
tidak
mampu
memperkokoh agama Allah . Tidak mampu membela beliau dari serangan
musuhmusuhnya.
"Kemudian
Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan
kemuliaan
kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah
melimpahkan
nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang
melawan
musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi
siapa
pun juga yang menentang Rasul Allah s.a.w. Kalian juga merupakan orang-orang
yang
lebih
ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan
Allah,
suka atau tidak suka.
"Dan
orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam,
sampai tiba
saatnya
Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab
di
bawah
pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad s.a.w. keharibaan-
Nya
dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah
kepemimpinan
di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling
afdhal
untuk memegang urusan itu!"
Kata-kata
Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir
memenuhi
Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu
memperoleh
dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak
mereka
hampir
serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami
merasa
puas
terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!"
Setelah
menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan
pendapatpendapat
tentang
kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah
yang
harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak
atas
kepemimpinan
ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasul
Allah
dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai
kerabat
Nabi
dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian
menentang
kami
memegang kepemimpinan sepeninggal Rasul Allah? Bagaimana kalau timbul problema
seperti
itu?
Pertanyaan
itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul
pertanyaanpertanyaan
seperti
itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan
menyarankan:
Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga
dan
merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah
yang
melindungi
dan membela Rasul Allah s.a.w. Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama
bernaung
di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat
menghitung-hitung
jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk
mengungkit-ungkit
mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan
mereka
pun mempunyai pemimpin sendiri!"
"Inilah
awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah
mendengar usul
kompromi
dari kaumnya.
Nyata
sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin
'Ubadah
sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasul
Allah
s.a.w. Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab r.a.
Konon yang
menyampaikan
berita tentang hal itu kepada Umar r.a. ialah seorang yang bernama Ma'an bin
'Addiy.
Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasul Allah s.a.w.
Pada
mulanya Umar r.a. menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari
orang
banyak
yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. Tetapi karena Ma'an
terus
mendesak,
akhirnya Umar r.a. menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab r.a. Ma'an
memberitahukan
segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan
dan
kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar r.a. Akhirnya ia
bertanya:
"Coba,
bagaimana pendapat anda?"
Tanpa
menunggu jawaban Umar r.a. yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih
lanjut:
"Sampaikan
saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian
pilih
sendiri
siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah
sudah
ternganga.
Semoga Allah akan segera menutupnya."
Umar
r.a. sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar
berita
itu.
Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu
Bakar
Ash
Shiddiq r.a. yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah
Rasul
Allah
s.a.w. Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar r.a. menjawab: "Aku sedang
sibuk. Rasul
Allah
belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?"
Umar
r.a. terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar r.a. ia berkata:
"Tidak boleh
tidak,
engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a
tidak dapat
mengelak
dan menuruti ajakan Umar r.a.
Abu
Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah
Sambil
berjalan Umar Ibnul Khattab r.a. menceritakan semua yang didengar tentang
pertemuan
yang
sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar r.a. merasa cemas dengan
terjadinya
perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman
jenazah
Rasul Allah s.a.w. Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk
bersama-sama
berangkat
menuju Saqifah Bani Sa'idah.
Setibanya
di Naqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di
tengah-tengah
mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang
sakit.
Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar r.a.
yang
terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar r.a. yang
sudah
mengenal
tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti.
Dengarkan
dulu
apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar r.a.
Umar r.a.
diam,
tak jadi bicara.
Abu
Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai
berbicara.
Setelah
mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata
dengan
tegas dan lemah lembut.
"...Allah
Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang
benar.
Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah
membukakan
hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita
semua,
kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.
Barulah
kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita.
"Kami
orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Kami adalah orang-orang
Arab dari
keturunan
yang tidak berat sebelah.
"Kalian
(kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam
agama
dan
selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang
paling
kami
cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima
takdir
Allah,
dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian
kaum
Muhajirin.
Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati
terhadap
mereka.
Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka
dalam
keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar
Islam
tidak
sampai mengalami kerusakan."
Demikian
Abu Bakar r.a. menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam
buku
Syarh
Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12.
Orang-orang
Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri
hati
terhadap
kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada
orang
yang
lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak
mengangkat
seorang
pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi
dengan
syarat,
apa bila ia sudah tiada lagi --karena meninggal dunia atau lainnya-- tiba
giliran kami
untuk
memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila
ia
sudah
tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin
dari kaum
Muhajirin.
Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada.
"Itu
merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat
Muhammad.
Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai
menyeleweng
sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan
menjaga
diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang
Anshar."
Mendengar
pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar r.a. tampil lagi berbicara: "Pada
waktu Rasul
Allah
s.a.w. datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak
meninggalkan
agama
nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah
mentakdirkan
kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan
beriman
kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasul Allah dan bersama
beliau
dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya
sendiri.
"Mereka
tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah
manusia-manusia
pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah.
Merekapun
orang-orang pertama yang beriman kepada Rasul Allah. Mereka adalah orang-orang
kepercayaan
dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan
sepeninggal
beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang
dzalim."
"Sesudah
kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk
Islam
selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi
pemimpin-pemimpin dan
kalian
menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan
mengistimewakan
orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa
kalian."
Mendengar
penjelasan Abu Bakar r.a. tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir
bersitegang-leher.
Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa
yang
ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah
orang-orang yang
berada
di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia
menjalankan
sesuatu,
selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan
membela
Rasul
Allah s.a.w. Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan
Iman.
Demi
Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah
kalian dan di
negeri
kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di
masjid-masjid
kalian.
Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang
kalian. Oleh
karena
itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah
dari kita
seorang
pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!"
Sekarang
tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab r.a. berbicara. Dengan nada keras
tertahan-tahan
ia
berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin
berada dalam satu
sarung!
Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka
bukan
berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan
diserahkan
kepada
golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka.
"Itulah
alasan kami," kata Umar r.a. selanjutnya, "yang sangat jelas bagi
orang-orang yang tidak
sependapat
dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang
menentang
pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai
kepemimpinan
Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah
bahwa
kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah
orang-orang
yang
hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka
sajalah
orang-orang
yang celaka!"
Hubab
bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar,
jangan kalian
dengarkan
perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika
mereka
tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari
negeri
kalian,
dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah
orang-orang
yang
paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup
menyelesaikan
persoalan
ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku
sering
berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup
pengalaman
dan
pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah,
jika masih ada
orang
yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan
pedang
ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya.
Abu
Bakar r.a. di Bai'at
Ibnu
Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di
Saqifah
Bani
Sa'idah itu sebagai berikut:
"Pada
waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat
mengangkat
Sa'ad
bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah
orang dari
qabilah
Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai
Khalifah.
Berkatalah
Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang
yang dini
memeluk
agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk
memperoleh
keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak
berteletele,
dan
kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi.
Muhammad
Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak
mewarisi
kepemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku
untuk
menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah.
Janganlah
kalian menentang atau membelakangkan mereka!"
Mendengar
suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a.
berkata
lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang
kalian sukai!"
Tetapi
dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menyahut dengan tegas: "Demi
Allah, kami
berdua
tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling
afdhal
di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasul Allah di dalam
gua, dan
engkau
jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau
sakit.
Shalat
adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau
kubai'at."
Tanpa
berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu --
yakni
Umar
r.a. dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda
membai'at.
Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah.
Pada
saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau
memecah belah!
Engkau
berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak
pamanmu," yakni
Sa'ad
bin 'Ubadah.
Begitu
melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar r.a., seorang
terkemuka
dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut
menyatakan
bai'atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari
qabilah
Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa'ad
bin
Ubadah
terbaring tak mereka hiraukan.
Sampai
hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at
kepada Abu
Bakar
r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a.
berusaha
hendak
menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a.
bahwa
usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau
menyatakan
bai'atnya.
Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras
dan
bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: "Kalau sampai Sa'ad mati
terbunuh,
anggota-anggota
keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau
gugur.
Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan
berpangku
tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj
diperangi,
maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang
Khazraj."
Pendapat
Imam Ali r.a.
Ketika
berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sebagai Khalifah
untuk
meneruskan
kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut
terlibat
di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w.
Hampir
tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali r.a. pada
waktu
mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai
Khalifah.
Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap
terus terang,
sukar
menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah
Azzahra
r.a.
berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus
kepemimpinan
Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya.
Pendirian
Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali r.a. adalah
satusatunya
kerabat
terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih
berhak
ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali r.a.
juga
sangat
dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan
kekeluargaan
maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan
menegakkan
agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran
dan
pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu
merupakan
syarat-syarat
terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan
Rasul
Allah s.a.w. atas ummatnya.
Dengan
gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada
suatu
malam
dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at
Abu
Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu
menanggapi
tuntutan
Sitti Fatimah r.a. dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasul Allah s.a.w.,
pembai'atan
Abu
Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam
Ali r.a.)
datang
kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih
orang
lain."
Imam
Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan:
"Patutkah
aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…,
hanya
untuk mendapat kekuasaan?"
Pembicaraan
dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk
antara
Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a.
dan
Umar
r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi.
Sebagai
akibatnya
hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah
berlangsung
secara
baik.
Sebagai
orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali r.a.
tidak
meyakini
tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu
Bakar
r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang
diterimanya
dari Rasul Allah s.a.w.
Dalam
masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam
kelestarian
dan kesentosaan ummat.
Demi
untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya
perpecahan,
akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama
dengan
khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang
menjadi
kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu
tercermin
dengan
jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:
"Aku
tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang
meninggalkan
Islam
dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama
Muhammad
s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan
terjadinya
perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar
dibanding
dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain
hanyalah
suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah
ada
pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti
lenyapnya
awan.
Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan
tersingkir
musnah,
dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"
Sejak
saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum
muslimin,
terutama
pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a.
Kesempatan-kesempatan
semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan
kepada
kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari
ketentuanketentuan
Allah
dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif
(tanfidziyyah),
maupun
judikatif (qadha'iyyah).
Dialog
Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a.
Dalam
buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid
mengetengahkan
suatu
keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai
Khalifah.
Keterangan
itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar
simpatinya
kepada Bani Hasyim.
"Aku
adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib.
"Pada waktu
Rasul
Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya
rencana
hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah
kekhalifahan.
Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil.
Padahal
waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku
ragu-ragu
menemui
orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah
s.a.w.
Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka
orangorang
Qureiys."
"Demikian
itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat
itu.
Sementara
itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani
Sa'idah.
Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai
Khalifah."
"Tak
lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah
bin Al-
Jarrah
dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan
yang
baru
saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang
berpapasan
dengan
mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar
sebagai
tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.
"Kemudian
malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul
Haitsam
bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan
musyawarah
kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar
oleh
Abu Bakar dan Umar."
"Berangkatlah
Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin
Abdul
Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah
s.w.t., Abu
Bakar
berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad s.a.w.
sebagai Nabi
kepada
kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya
Rasul
Allah
di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi
kehendak-
Nya."
"Rasul
Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa
yang
akan
diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku
untuk
melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka.
Pilihan
mereka
itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan
Allah
dan
bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut.
Bagiku tak
ada
taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku
bertawakkal,
kepada-Nya
jualah aku akan kembali."
"Tetapi,
belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan
kata-kata
yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya.
Orang
itu
hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang
terserahlah
kepada
kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh
orang
banyak,
ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak
mereka."
"Kami
datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah
itu. Kami
tahu
bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin
mengetahui
kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu
mereka
pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian,
orangorang
Bani
Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga."
Menurut
Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnul Khattab menukas perkataan Abu Bakar r.a.
dengan
cara-caranya
sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: "Kami datang
bukan
kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin
dari kalian
yang
turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk
kayu
bakar
di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan
bersamasama
kaum
muslimin."
Menanggapi
ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu
itu
Abbas
menjawab:
"…Sebagaimana
anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w.
sebagai
Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan
karunia
kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi
kehendak-Nya.
Rasul Allah s.a.w. telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan
sendiri
urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin
mereka.Mereka
tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa
nafsu.
"Jika
atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian,
sebenarnya
hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum
muslimin,
kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka."
"Dalam
persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami
tidak
mencari
pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya
persoalan.
Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum
muslimin,
kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya."
"Alangkah
jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada
yang
menentang,
di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda
katakan
kepada
kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak
anda
berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika
memang
menjadi
hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri.
Namun
jika hal itu menjadi hak kami,
kami
tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama
sekali
bukan
berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah
anda
terima.
Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan
penjelasan."
"Adapun
ucapan anda yang mengatakan 'Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga', maka
beliau
sesungguhnya
berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian
adalah
tetangga-tetangganya."
"Mengenai
yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan
diperbuat
oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak
kalian
katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon
pertolongan."
Kekhalifahan
Abu Bakar r.a.
Masa
kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam
waktu yang
singkat
itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan
perkembangannya.
Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di
utara,
pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan
berbagai
macam
provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja
kehilangan
pemimpin agungnya.
Dekat
menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencanakan sebuah pasukan ekspedisi
untuk
melawan
bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima.
Tetapi
belum
sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat.
Setelah
Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah
dilanjutkan.
Pada
mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan
pengangkatannya
sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih
ingusan.
Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat
persenjataannya
dan
lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan
pasukan
Persia
dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil
pula
merebut
kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah
jatuh ke
tangan
orang-orang Persia.
Dengan
dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada
amanat
Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan
tepatnya
kebijaksanaan
Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya
Usamah
bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke
utara.
Pengangkatan
Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya
dan
kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.
Bahaya
desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula
keselamatan
ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi".
Muncul
pula
kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara
terang-terangan
menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta
berbalik
haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul
Allah
masih
segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau
wafat, mereka
memperlihatkan
belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya
itu
dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.
Demikian
pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai
peluang
untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.
Tidak
kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan
kedudukan
setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha
merebut
kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang
mereka
ini
Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat:
"Hati-hatilah kalian
terhadap
sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang,
matanya
mengincar-incar
dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.
Awaslah
kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah
kalian sampai
seperti
dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian
tetap
takut
kepada Allah…"
Berkat
kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah
s.a.w.,
seperti
Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain,
krisis-krisis
tersebut
di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang
demokratis,dan
kearifannya
yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti
Imam
Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru
saja
kehilangan
Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.
Dengan
masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi
persatuan
ummat,
menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin
keamanan
dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.
Abu
Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi
ramah
dan
lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah
menghadapi
masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak
segan-segan
mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.
Konon
ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba.
Menurut
buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad",
sebenarnya
Abu
Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu
setelah
hijrah
ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak
sembuh,
tetapi
tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat
pada
usia
63 tahun.
KHALIFAH
UMAR IBNUL KHATTAB R.A.
Di
samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a.
terkenal sebagai
orang
yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu
Bakar Ash
Shiddiq
r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan
Islam
dan
muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan
selain
perintah
Allah dan Rasul-Nya.
Kekuatan
fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilannya, ditambah lagi dengan
keberaniannya
bertindak, membuatnya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat
dihormati
dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tauladan yang
diberikan
Rasul
Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum
sengsara,
terutama
mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.
Bila
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin,
maka Umar
Ibnul
Khattab r.a. dibai'at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan
oleh Abu
Bakar
r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a.
berlangsung
selama kurang lebih 10 tahun.
Sukses
dan Tantangan
Di
bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan kecepatan
luar
biasa.
Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan
Byzantium,
seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid.
Penduduk
di daerah-daerah luar Semenanjung Arabia berbondong-bondong memeluk agama
Islam.
Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah
rnenjadi
agama
berbagai bangsa.
Sukses
gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar
Ibnul
Khattab
r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi
pemerintahan
sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah berkembang. Demikian pula di
bidang
hukum. Dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan
memanfaatkan
ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam
Ali
r.a., sebagai Khalifah ia berhasil menfatwakan bermacam-macam jenis hukum
pidana dan
perdata,
disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan.
Tetapi
bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, sekarang kaum rnuslimin sendiri
mulai
dihadapkan
kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya
wilayah
Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini
menjadi
daerah
kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas
penguasa
lama
(Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan
hidup
keduniawian.
Hanya
mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana
indah, kotakota
gemerlapan,
ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.
Kaum
muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam
yang
hendak
mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi
jauh
lebih
berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari
kiri-kanan, mukabelakang.
Tantangan
berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar Ibnul
Khattab
r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan
para
sahabat
Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a.
berhasil
menekan
dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara
tokoh
kaum
muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan
tegas dan
keras,
cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap
kekayaan
negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin
yang
jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri,
keluarga
dan
golongannya, pasti melawan dan memusuhinya.
Selama
berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum
muslimin
memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan
hidup
duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.
Dalam
menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit
menerima
bantuan
dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual
itu,
Imam
Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam.
Dengan
segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama
para
sahabat-sahabat
Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir
meluncur
ke arah negatif.
Umar
r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan
rakyat,
terutama
mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang
hendak
diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh
anakanaknya
yang
kelaparan.
Jika
Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang
dikumpulkannya
lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam
melaksanakan
peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran,
maka
hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran
itu
dilakukan oleh orang lain.
Dengan
kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang
sangat
mendalam
di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut
dicontoh
dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak
ada
bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga
rakyat
hanya
makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega
melihatnya
makan
roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya
bisa makan
roti
kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat
seperti itu
juga."
Memanggil
calon pengganti
Kepemimpinan
Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan
ciri
khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup
kenegaraan
dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil.
Umar
Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka
tikaman senjata
tajam
yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam
keadaan
kritis
di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar
prosedur
bagi
pemilihan Khalifah penggantinya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan
kepemimpinan
ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di
ambang
kehidupannya.
Dalam
saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan
sejarah
terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak
menduduki atau
memegang
pimpinan tertinggi ummat Islam.
Umar
Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa
kerakyatan.
Sehingga
ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar,
putera
sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a
menolak. Ia
mengatakan:
"Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas
itu.
Cukuplah
sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung
resiko.
Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!"
Demikian
kata
Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.
Sehabis
mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa
sebelum
wafat,
Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu
Ali bin
Abi
Thalib, 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin Al 'Awwam, Sa'ad
bin Abi
Waqqash
dan Abdurrahman bin 'Auf. "Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih
jauh, "sebaiknya
kuserahkan
kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan
dipilih."
Kemudian
seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa
orangnya
yang
akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih
baik dari
aku,
yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun
pernah
dilakukan
oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."
Tanpa
menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Khalifah Umar r.a. kemudian
memerintahkan
supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil.
Kondisi
fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat
pada
saat
keenam orang yang dipanggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah
penuh
harap
menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa
tenaganya
Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan ketenangan. Tiba-tiba ia melontarkan
suatu
pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. "Apakah kalian
ingin
menggantikan
aku setelah aku meninggal?"
Tentu
saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat
mengejutkan
semua yang hadir. Mula-mula mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar
r.a.
menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai
perasaan.
Di satu fihak tentunya mereka itu sangat sedih melihat pemimpin mereka dalam
kondisi
fisik yang begitu merosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu
kemana arah
pertanyaan
yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang
menjawab,
Khalifah Umar r.a. mengulangi lagi pertanyaannya.
Setelah
itu barulah Zubair bin Al-'Awwam menanggapi. Ia menjawab: "Anda telah
menduduki
jabatan
itu dan telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys
sebenarnya
kami
ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah dibanding dengan anda.
Sedangkan dari
segi
keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak
berada di
bawah
anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?"
Tampaknya
kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair karena menyadari bahwa tokoh yang
berbaring
di hadapannya itu sudah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui
dari
komentar
sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al
Jahidz.
Ia mengatakan: "Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera
wafat di depan
matanya,
pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan
berani
mengucapkan
sepatah kata pun."
Kata-kata
Zubair bin Al 'Awwam itu tidak langsung ditanggapi oleh Khalifah Umar r.a.
Seakanakan
kata-kata
itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a.
melanjutkan
perkataannya: "Bisakah kuajukan kepada kalian penilaianku tentang diri
kalian?"
Kembali
Zubair menukas dengan nada sinis: "Katakan saja. Tokh kalau kami minta
supaya kami
dibiarkan,
anda akan tetap tidak membiarkan kami!"
Penilaian
Kata-kata
Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yang sabar
itu.
Sambil
memandang tajam ke arah Zubair, Umar r.a. berkata: "Tentang dirimu,
Zubair…, kau itu
adalah
orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang
kausukai
hanyalah
hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang
tidak
kausukai.
Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang
lain
engkau
adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu
ketika
engkau
akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang."
Khalifah
Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolaholah mengambil nafas untuk
mengumpulkan
kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah
engkau,
jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang
pada
saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang
kemarahan?"
Tanpa
menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh kearah Thalhah bin
Ubaidillah,
yang
segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa
itu.
Bukan
rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa
waktu
lamanya
Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini.
Peristiwanya
bermula
pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan
suatu
kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul
Khattab
r.a
Setelah
memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara
atau
diam
saja?"
"Bicaralah!"
sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Tokh anda tidak akan berkata
baik
mengenai
diriku!"
"Aku
mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah
Umar r.a.
kepada
Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada
dirimu. Rasul
Allah
wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang
kauucapkan
ketika ayat Al-Hijab turun."
Menurut
catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang
dimaksud
ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya
sampai
juga
ke telinga Rasul Allah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi
Rasul Allah s.a.w.)
sekarang
ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!"
Habis
berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin
Abi
Waqqash.
Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda
perang.
Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata
yang
kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah (asal Saad), kurang
tepat
untuk
memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin."
Tibalah
sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf, yang
rupanya
sudah
siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya
ditimbang
dengan
imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat.
Tetapi
kekhalifahan
tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Qabilah
Zuhrah
(asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu."
Abdurrahman
tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia
membiarkan
Khalifah berbicara lebih lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. "Ya Allah,
alangkah
tepat
dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!" kata Khalifah Umar r.a.
dengan nada suara
yang
agak meninggi. Kemudian dengan suara merendah dikatakan: "Seandainya anda
nanti yang
akan
memimpin ummat, anda pasti akan membawa mereka menuju kebenaran yang terang
benderang."
Imam
Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yang sangat
dikaguminya.
Juga ia tidak memberikan tanggapan terhadap penilaian yang positif atas
dirinya.
Khalifah
Umar r.a. akhirnya dengan serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya
sudah
makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri
untuk
menilai
orang keenam yang ada di hadapannya itu. "Aku merasa seakan-akan orang
Qureiys
telah
mempercayakan kekhalifahan kepada anda," kata Khalifah dengan suara
lembut, "karena
besarnya
rasa kecintaan mereka kepada anda."
Wajah
Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, seolah-olah sedang menahan
perasaan
getir
yang menyelinap ke dalam kalbu. "Tetapi aku melihat nantinya anda akan
mengangkat
orang-orang
Bani Umayyah dan Bani Mu'aith di atas orangorang lain. Kepada mereka anda akan
menghamburkan
harta ghanimah yang tidak sedikit." Suara Khalifah meninggi pula:
"Akhirnya
akan
ada segerombolan 'serigala' Arab datang menghampiri anda, lalu mereka akan
membantai
anda
di atas pembaringan."
Dengan
nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri
kata-katanya:
"Demi
Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan
'srigala' itu
pasti
akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar
terjadi,
ingatlah
kepada kata-kataku ini! Semua itu akan terjadi"
Cara
Pemilihan
Berbicara
tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al
Jahidz
juga
mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari
Ibnu
Abbas.
Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah
dikatakan
Umar
Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: "Jika kalian
saling
membantu,
saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat
kepada
kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling
dengki,
saling
membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu
akhirnya
akan
jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!".
Perlu
diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan
sudah
beberapa
tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala
daerah
oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan
oleh
Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan.
Klimaks
dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu
Thalhah
A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada
didekat
pembaringannya,
berkatalah Khalifah Umar r.a. dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang
melepaskan
sisa tenaganya yang terakhir:
"Abu
Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah
50
orang
Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka
(6
orang
Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di
antara
mereka
itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah
rumah.
Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka
bermusyawarah
untuk memilih salah seorang di antara mereka.
"Jika
yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang
menentang
itu!
J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang
itu! Jika
tiga
orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada
tiga orang
yang
diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan
tiga
orang
ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja
leher tiga
orang
yang bersikeras itu!.
"Jika
sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk
menyelesaikan
urusan
mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin
sendiri
memilih
siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !".
Dari
sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya
rasa
tanggung-jawab
dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan
terperinci,
sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan caracara pengangkatan
seorang
Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka
tikaman
sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat
Islam
sebaik-baiknya.
KHALIFAH
UTSMAN BIN AFFAN R.A.
Setelah
jenazah Umar Ibnul Khattab r.a. dimakamkan, Abu Thalhah Al Anshariy segera
mengumpulkan
6 orang Ahlu Syuro yang ditunjuk Umar r.a., di sebuah rumah. Sesuai dengan
wasiyat
Khalifah Umar r.a. maka 50 orang Anshar lengkap dengan pedangnya
rnasing-masing,
ditugaskan
menjaga pintu-pintu rumah. Kepada 6 orang itu dipersilakan berunding untuk
memilih
siapa di antara mereka yang akan ditetapkan sebagai Khalifah pengganti Umar
Ibnul
Khattab
r.a.
Pelaksanaan
Pemilihan
Tentang
pelaksanaan pemilihan Khalifah pengganti Umar r.a. terdapat beberapa riwayat.
Menurut
Abu Utsman Al-Jahidz, pelaksanaannya sebagai berikut:
Keenam
Ahlu Syuro itu mulai bermusyawarah dan berdebat. Thalhah bin Ubaidillah tampil
sebagai
pembicara pertama. Ia langsung saja mengatakan mendukung Utsman bin Affan
sebagai
calon
Khalifah. Alasan yang diajukannya untuk bersikap demikian, karena ia yakin
tidak akan
ada
seorang pun yang akan mencalonkan dirinya (Thalhah) sebagai Khalifah, selama
Imam Ali
r.a.
dan Utsman bin Affan r.a. masih ada.
Kemudian
tampil Zubair bin Al 'Awwam. Ia menentang pencalonan Utsman bin Affan r.a.,
seperti
yang diajukan Thalhah. Ia memberikan dukungan kepada Imam Ali r.a. Orang
memperkirakan
bahwa Zubair mencalonkan Imam Ali r.a. karena hubungan kekeluargaan.
Seperti
diketahui Zubair adalah anak lelaki bibi Imam Ali Shafiyyah binti Abdul
Mutthalib, dan
ayah
Imam Ali r.a. sendiri adalah saudara ibu Zubair.
Setelah
ini muncul usul ketiga, yang datangnya dari Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia
mengajukan
misanannya
sendiri, anak pamannya, yaitu Abdurrahman bin 'Auf sebagai Khalifah. Usul Sa'ad
ini
pun
masih berbau fikiran kekerabatan. Kedua-duanya berasal dari qabilah Bani
Zuhrah. Selain
itu
Sa'ad sendiri pun sudah merasa kecil kemungkinannya untuk terpilih sebagai
Khalifah.
Sekarang
tinggal 3 orang yang belum mengajukan usul pencalonan. Abdurrahman kemudian
bertanya
kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a.: "Siapa di antara kalian
berdua yang
bersedia
mengundurkan diri sebagai calon? Sebab, masalah pemilihan sekarang ini hanya
bergantung
kepada kalian berdua."
Ternyata
tak seorang pun di antara dua tokoh itu yang menanggapi pertanyaan Abdurahman
bin
Auf.
Setelah beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dan semua mata tertuju kepada
Imam
Ali
r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Abdurrahman bin Auf berkata lagi: "Sekarang
aku menyatakan
menarik
diri dari pencalonan." Seterusnya ditambahkan: "Dengan demikian aku
dapat memilih
salah
seorang di antara kalian berdua."
Pernyataan
Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi, baik oleh kedua orang calon, maupun orang
lainnya.
Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa untuk melancarkan jalannya
pemilihan.
Kepada Imam Ali r.a. ia bertanya: "Bagaimana kalau aku membai'at anda
untuk
bekerja
berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang
Khalifah
yang
lalu?"
Menghadapi
pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Imam Ali r.a. menjawab:
"Tidak!
Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul
s.a.w.
dan ijtihadku sendiri."
Tanpa
mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Imam Ali r.a., Abdurrahman bin Auf
mengajukan
pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas
Utsman
bin Affan r.a. menjawab: "ya!"
Mendengar
jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan
pertanyaan
yang sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula.
Akhirnya
Abdurrahman
bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini
sebagai
tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa
Abdurrahman
bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk
menggantikan
Khalifah Tlmar r.a. yang telah wafat.
Di
samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan
Khalifah
Utsman
r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan
penjajagan,
akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin
supaya
berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan menggunakan sorban yang dahulu
pernah
dipakai
oleh Rasul Allah s.a.w., dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat
Rasul
Allah
s.a.w. dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara
lirih.
Sebenarnya
perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan
hadirin.
Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum
pernah
berbuat
demikian.
Sambil
memandang ke tempat Imam Ali r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh
wibawa:
"Hai Ali, majulah engkau!"
Imam
Ali r.a. segera memenuhi permintaan Abdurrahman bin Auf. Sebelum Imam Ali r.a.
mengetahui
benar apa yang menjadi maksud sahabatnya itu, tiba-tiba Abdurrahman memegang
tangannya
sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras. Isi kata-katanya sama dengan
apa
yang telah dikemukakan oleh Abu Utsman Al-Jahidz di dalam bukunya. Begitu pula
proses
seterusnya.
Hanya
dalam versi ini ditambahkan, bahwa Abdurraman bin Auf menyambut kesanggupan
Utsman
bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu dengan berkata : "Ya Allah,
saksikanlah! Ya
Allah,
saksikanlah!"
Imam
Ali r.a., para sababat Rasul Allah s.a.w. lainnya, dan semua yang hadir dalam
masjid itu
tanpa
ragu-ragu menerima Usman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu sebagai
pemimpin
tertinggi mereka yang baru.
Pembai'atan
seorang Khalifah melalui pemilihan salah satu di antara 6 orang Ahlu Syuro,
merupakan
kejadian pertama dalam sejarah kekhalifahan ummat Islam. Khalifah Abu Bakar
r.a.
dibai'at
langsung oleh kaum muslimin. Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. ditetapkan
berdasarkan
wasiyat
Kahlifah Abu Bakar r.a.
Akan
tetapi sejalan dengan pembai'atan Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah,
banyak sekali
orang
bertanya-tanya tentang jawaban yang diberikan Imam Ali r.a. kepada Abdurrahman
bin
Auf.
Mengapa ia mengatakan "Tidak?"
Tidak
ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban pasti. Imam Ali r.a. sendiri
tidak
pernah
mengemukakan secara terbuka alasan apa yang melandasi jawabannya. Yang pasti,
Imam
Ali r.a. tidak pernah menyesal karena ia gagal menjadi Khalifah disebabkan
jawabannya
itu.
Dengan ikhlas ia menerima Utsman bin Affan r.a. sebagai Amirul Mukminin.
Sementara
itu ada yang menafsirkan, bahwa perkataan "Tidak!" itu bukan
ditujukan kepada
pertanyaan
Abdurrahman bin Auf yang berkaitan dengan keharusan berpegang kepada Kitab
Allah
dan Sunnah Rasul Allah, melainkan tertuju kepada keharusan mengikuti jejak
Khalifah
Abu
Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.
Imam
Ali r.a. tidak dapat membenarkan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar r.a. dalam
mengambil
keputusan tentang tanah Fadak. Yaitu tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w. yang
dicabut
oleh Khalifah Abu Bakar r.a. sepeninggal beliau dan dijadikan hak milik kaum
muslimin
(Baitul
Mal). Demikian juga terhadap kebijaksanaan Khalifah Umar r.a. yang mengadakan
penggolongan-penggolongan
dalam membagi-bagikan kekayaan Baitul Mal kepada kaum
muslimin.
Terbuka
Kesempatan
Peristiwa
yang berlangsung secara wajar menurut norma kaum muslimin pada masa itu,
ternyata
ditanggapi secara lain oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah. Peristiwa terbai'atnya
Utsman
bin
Affan r.a. sebagai Khalifah, diartikan oleh mereka, sebagai awal kemenangan
Bani Umayyah
atas
orang-orang Bani Hasyim.
Padahal
Rasul Allah s.a.w. sendiri tidak pernah memandang ummatnya dari kaum apa atau
dari
keturunan
mana. Semua kaum muslimin adalah saudara. Prinsip yang mulia itu nampaknya
tidak
mudah direalisasi, karena adat istiadat dan tradisi kuat yang berabad-abad
bercokol di
kalangan
orang-orang Arab.
Waktu
Utsman bin Affan r.a. terpilih sebagai Khalifah, penyakit sukuisme dan
keqabilahan
muncul
kembali dan malah dibesar-besarkan oleh orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a.
dan
orang-orang
dari Bani Hasyim lainnya, mereka nilai sebagai mengalami kekalahan dalam
persaingan
melawan Utsman bin Affan r.a.; yang berasal dari Bani Umayyah.
Padahal
Utsman bin Affan r.a. sendiri pada saat terbai'at sebagai Khalifah, sama sekali
tidak
menyimpan
fikiran seperti yang diteriakkan oleh kaum kerabatnya. Utsman bin Affan r.a.
seorang
sahabat terdekat Rasul Allah s.a.w., bahkan sampai dua kali ia
menjadi
menantu Nabi. Pertama kali ia nikah dengan Roqayah binti Muhammad Rasul Allah
s.a.w.
Kemudian setelah Roqayah r.a. meninggal, ia nikah lagi dengan Ummu Kaltsum
binti
Muhammad
Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu Utsman bin Affan r.a. terkenal dengan
sebutan
"Dzun
Nurain" (pemilik dua cahaya). Ia memeluk Islam di tangan Abu Bakar r.a.
dan setelah
menjadi
orang beriman, ia sangat besar taqwanya kepada Allah dan setia kepada
Rasul-Nya.
Dalam
perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin
Affan
r.a.
tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta
benda dan
jiwanya
diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan
amal
perbuatannya,
yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir
Romah"
untuk
kepentingan semua kaum muslimin.
Utsman
bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar
masjid
Rasul Allah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung
jemaah
yang
bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada
saat
mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan
guna
menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uang
dari
koceknya
untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang
hartawan
dan hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.
Pada
saat menerima tugas dan tanggung jawab sebagai Khalifah, Utsman bin Affan sudah
lanjut
usia.
Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah yang
ada di
sekelilingnya.
Dalam hal ini yang paling menonjol peranannya ialah Marwan bin Al Hakam,
misanannya,
yang menjadi pembantu utama paling dipercaya. Demikian juga Muawiyyah bin Abi
Sufyan,
seorang Gubernur atau Kepala Daerah Syam, daerah yang sangat makmur dan subur
di
sebelah
utara jazirah Arab. Kedua tokoh Bani Umayyah itu mempergunakan peluang secara
maksimal
ketika usia Khalifah Utsman r.a. makin lanjut dan tidak lagi aktif sepenuhnya
mengatur
kehidupan negara, pemerintahan dan ummat. Secara pandai orang-orang itu merebut
hati
Khalifah, menanamkan pengaruh dan memperkuat posisi mereka di bidang kekuasaan.
Gejala
individualisme, mementingkan diri sendiri dan golongan, yang pada masa Khalifah
Umar
r.a.
berhasil dipangkas tunas-tunasnya, ternyata tumbuh kembali dengan suburnya,
terutama
pada
masa-masa terakhir Khalifah Utsman r.a. Sistem pemerintahan yang sangat
demokratis
yang
telah dirintis oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah
Umar r.a.
setapak
demi setapak digantikan dengan sistem oligarki (pemerintahan keluarga) oleh
para
pembantu
Khalifah Utsman r.a. Harta Baitul Mal yang seharusnya digunakan untuk
kemaslahatan
ummat Islam, mulai banyak disalahgunakan. Muncullah penguasa-penguasa
hartawan
yang mempunyai ratusan ekor unta, kuda dan hamba sahaya, serta rumah-rumah
indah
di Bashrah, Kufah dan Iskandariyah.
Melihat
perkembangan ummat meluncur ke bawah ini, Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam
diri.
Sebagai
sahabat baik, dengan tulus ikhlas, diminta atau tidak diminta, ia menyampaikan
saransaran,
nasehat-nasehat
serta gagasan-gagasan kepada Khalifah Utsman r.a. Tentu saja sikap
dan
tindakan yang diambil Imam Ali r.a. menimbulkan rasa tidak senang, bahkan sikap
permusuhan,
dari mereka-mereka yang sedang menikmati hasil perjuangan ummat Islam untuk
kepentingan
diri mereka sendiri.
Cara
hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan para penguasa
pemerintahan
Khalifah,
dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan
rasa
tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam, khususnya di kalangan
qabilahqabilah
tertentu
yang hidup merana.
Khalifah
Utsman r.a. sendiri dalam batas kemampuan yang ada pada dirinya, telah berusaha
untuk
mengatasi keadaan yang semakin kritis itu, karena ia menyadari bahayanya
bilamana
dibiarkan
begitu saja. Akan tetapi karena usianya yang telah lanjut
ia
tidak berdaya menghadapi "permainan" Marwan bin Al-Hakam dan Muawiyah
bin Abi Sufyan.
Khalifah
Utsman praktis sudah tidak dapat lagi mengendalikan aparaturnya.
Dikorbankan
Apa
yang di ramalkan oleh Khalifah Umar r.a. pada saat menjelang ajalnya, ternyata
memang
benar-benar
terjadi. Beberapa waktu setelah terbai'at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan
r.a.
mengangkat
orang-orang dari kalangan Bani Umayyah dan di tempatkan pada kedudukankedudukan
penting
atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisiposisi
penting
dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai
Kepala
Daerah atau Gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau
diserahi
tanah-tanah yang sangat luas.
Salah
satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman r.a., ummat lslam berhasil
membebaskan
Afrika
Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan
(ghanimah)
yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang
dihadiahkan
oleh Khalifah Utsman r.a. kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al
Hakam.
Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu.
Ibnu
Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah
mengungkapkan
kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. yang dikendalikan oleh Marwan dan
kawankawannya,
yang
sangat meresahkan kaum muslimin.
Diantara
tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada
Abdullah
bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman r.a. juga merehabilitasi dan membolehkan
Al-
Hakam
bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah
diusir oleh
Rasul
Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin.
Bahkan
oleh
Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan
Khalifah68
khalifah
yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil
oleh
Rasul
Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.
Masih
ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah
Utsman
r.a.
atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan
yang
menyuburkan
benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat
perdagangan
di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama "Mazhur", oleh
Khalifah
Utsman
dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal
tempat
itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin
sebagai
milik
umum.
Begitu
pula daerah Fadak, yang dahulunya berupa tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w.;
oleh
Khalifah
diserahkan kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini menurut hukum di
bawah
kekuasaan pribadi Rasul Allah s.a.w.
Dalam
sejarah Islam, daerah Fadak ini menjadi sangat terkenal, karena tuntutan dan
gugatan
yang
diajukan oleh Sitti Fatimah r.a. kepada Khalifah Abu Bakar r.a., untuk
memperoleh hak
atas
tanah yang dahulu berada di bawah kekuasaan ayahandanya.
Khalifah
Utsman r.a. juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk
Madinah.
Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang
secara
tradisional
sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi
ternak
milik orang-orang Bani Umayyah.
Lebih
dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan
wilayah-wilayah
Marokko,
Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya
kepada
Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Abdullah adalah saudara sesusuan
dengan
Khalifah. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak
di
daerah
itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.
Kepada
Abu Sufyan bin Harb, yang dahulu terkenal peranannya sebagai salah seorang
tokoh
paling
getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru terpaksa masuk Islam setelah
jatuhnya
kota
Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman r.a. diberi hadiah sebesar
200.000
dirham.
Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut
sebagai
menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman
r.a.
membekalinya
lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal.
Sebenarnya
semua kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah Utsman r.a. merupakan pelaksanaan
imla
(dikte) yang disodorkan para pembantu yang diberi kepercayaan penuh. Khalifah
Utsman
r.a.
menyadari bahwa pribadinya ditunggangi sedemikian rupa dan sedang digiring ke
marabahaya
yang sangat fatal oleh orang-orang kepercayaannya. Seorang Khalifah yang kurang
lebih
berusia 80 tahun itu, oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah dikorbankan untuk
kepentingan
pribadi-pribadi,
golongan dan qabilah.
Penyalahgunaan
harta Baitul Mal seperti tersebut di atas, sudah tentu menimbulkan
kegelisahan
masyarakat muslimin pada masa itu. Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah
Utsman
r.a. mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada
menantunya,
Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal bernama Zaid bin Arqam,
menghadap
Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal.
Dengan
keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: "Mengapa engkau
menangis?
Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?"
"Tidak",
jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. "Aku menangis
karena
aku
menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda
yang
dahulu
anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah
s.a.w.
masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan
itu
sungguh
terlampau banyak."
"Hai
Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!" hardik Khalifah dengan wajah merah padam.
"Kami bisa
mendapatkan
orang lain yang tidak seperti engkau."
Pada
masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat
menyolok
antara
kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang
sekarang
ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan
dan
ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.
Banyak
para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan
Khalifah
Utsman
r.a. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi
Muhammad.
Seorang
mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau
golongannya.
Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko
dalam
berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.
Abu
Dzar dibuang
Abu
Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling
tidak disukai
oleh
oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a.,
seperti
Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.
Ia
berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam
terkenal amat liar,
kasar
dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka
menjadi
sasaran
penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin
terkemuka
di kalangan mereka.
Ia
mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak
menyembunyikan sesuatu
yang
menjadi pemikiran dan pendiriannya.
Ia
mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w.
menyebarkan
da'wah
risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang
lebih
oleh
10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan
secara
terang-terangan
keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah
pemukimannya
dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk
agama
Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula
di
Islamkan.
Demikian
gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul
Allah
s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan
Bani
Aslam,
Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: "Ghifar…, Allah telah
mengampuni
dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!"
Sejak
menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan
bintang
kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan
kebenaran
Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap
penyembahan
berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan
kesetiaan
Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai "cahaya terang
benderang."
Pada
pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam
ucapan
dan
perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri
sendiri atau
orang
lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.
Kesetiaan
pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan
ketinggian
daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya,
Abu
Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan
prinsip
sabar
dan hati-hati.
Pada
suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa
kira-kira yang
akan
diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang
mengangkangi
harta
ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: "Demi
Allah, yang
mengutusmu
membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!"
Menanggapi
sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang
bijaksana
memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: "Kutunjukkan cara yang
lebih baik
dari
itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!"
Rasul Allah
s.a.w.
mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata
lisan.
Sampai
pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada
nasehat
beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang
dicanangkan
oleh
Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a.,
berkat
ketegasan
dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum
muslimin,
penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan
masyarakat.
Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan r.a.,
penyakit
yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim
hujan.
Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak berdaya menanggulanginya.
Nampaknya
karena
usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi
sepenuhnya
oleh
para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.
Pada
waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan,
hanya
karena
mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada
salah
seorang
di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa
potong
roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan
makin
bertambah
kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum
muslimin
banyak disalah-gunakan untuk
kepentingan
pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para
sahabat
Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti
ayam
mati kelaparan di dalam lumbung padi.
Melihat
gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar
Al-Ghifari
sangat
resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia
tidak
betah
lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia
berangkat
menuju
Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan
menghunus
pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu
terngiang-ngiang
terus
di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.
Mulai
saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa
dan
orang-orang
yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka
kembali
kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di
Syam,
ia selalu memperingatkan orang: "Barang siapa yang menimbun emas dan perak
dan
tidak
menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka
akan
mendapat
siksa yang Pedih. Pada hari kiamat
Di
Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin
dan
orang-orang
yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye
Abu
Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali
prinsipprinsip
kebenaran
dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.
Muawiyah
bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam,
memandang
kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk
membendung
kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi
pengaruh
kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati
Abu
Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang:
"Aku sungguh
heran
melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau
keluar
menghunus
pedang!"
Seruan
Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin
yang
menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang
telah
memperkaya
diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.
Keberanian
Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi
lidahnya
pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan
ajaranajaran
kemasyarakatan
yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: "Semua
manusia
adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…," "Tak ada
manusia yang lebih
afdhal
selain yang lebih besar taqwanya…", "Penguasa adalah abdi
masyarakat," "Tiap orang
dari
kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas
kegembalaannya...."
dan lain sebagainya.
Para
penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah
sangat
kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu
Dzar,
tetapi
lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi
dan
kepadanya
dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh
Abu
Dzar. Ia makin bertambah berani.
Pada
suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan
tandas
ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di
Makkah
sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun
ditanyakan
pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar
berkata:
"Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai penumpuk emas dan
perak,
dan
yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!"
Betapa
pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw
iyah
bin
Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia
dapat
berbuat
apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera
ditulis
sepucuk
surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah
melaporkan
tentang
Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil
salah
satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar
menolak
dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.
Khalifah
Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap.
Kepada
Abu
Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah
itu,
Abu
Dzar dengan singkat dan jelas berkata: "Aku tidak membutuhkan
duniamu!"
Khalifah
Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: "Tinggal
sajalah di
sampingku!"
Sekali
lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: "Aku tidak membutuhkan
duniamu!"
Sebagai
orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk
menegakkan
kebenaran
dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki
supaya
kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan
oleh
Rasul
Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru
itulah yang
sangat
sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia harus memotong urat nadi
para
pembantu
dan para penguasa bawahannya.
Abu
Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan
tekanan
para
pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil
keputusan:
Abu
Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun
mengajaknya
berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau
mengantarkannya
dalam perjalanan.
Bagi
Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah
s.w.t.
selalu
bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman
r.a.
ia
berkata: "Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib
yang tinggi atau di
atas
bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu
lebih baik
bagiku.
Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain,
aku
akan
taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik
bagiku. Dan
seandainya
besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar
dan
berserah
diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku."
Itulah
Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata
berjuang
untuk
menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang
pahlawan
yang
dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid
yang
penuh
taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan
melanda
ummat.
Peristiwa
dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin,
khususnya
para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya.
Bersama
segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam
kepada
Abu Dzar.
Abu
Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan
riwayat
yang
bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan
Khalifah
Utsman r.a. di atas:
Khalifah
Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan
mengantarnya
sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani
mendekati
Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam
Ali
r.a.,
yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin
Yasir.
Menjelang
saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu
Marwan
bin Al-Hakam dengan bengis menegor: "Hai Hasan, apakah engkau tidak
mengerti
bahwa
Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti,
ketahuilah
sekarang!"
Melihat
sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya.
Sambil
membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: "Pergilah
engkau
dari
sini! Allah akan menggiringmu ke neraka."
Sudah
tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat
marah,
tetapi
ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali
menghadap
Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap
karena
merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota
keluarganya.
Tindakan
Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani
mendekati
Abu
Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang
bernama
Dzakwan
maula Ummi Hani binti Abu Thalib.
Dzakwan
di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar
apa
yang
dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan:
"Hai Abu Dzar
engkau
marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah,
takut
kepadamu,
sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan
membuangmu.
Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi
hamba
itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar.
Hai Abu
Dzar,
tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang
menjengkelkan
hatimu selain kebatilan!"
Atas
dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: "Hai Abu Dzar, apa
lagi yang
hendak
kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun
tahu
bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada
Allah,
sebab
taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati.
Ketahuilah,
tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain
sama
artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus
asa."
Kemudian
Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: "Jika seorang yang hendak mengucapkan
selamat
jalan
diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus
segera
pulang,
tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan
terus
berkepanjangan.
Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu.
Buang
sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya.
Buanglah
perasaan
sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa
mendatang.
Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar
ridho
kepadamu."
Setelah
Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: "Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t.
berkuasa
mengubah
semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan
kekuasaan-Nya.
Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa
butuhnya
mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah
s.w.t.
dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan
sama
artinya
dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan
kebatilan
tidak akan menunda datangnya ajal!"
Dengan
nada marah Ammar bin Yasir menyambung: "Allah tidak akan membuat senang
orang
yang
telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang
menakut-nakutimu.
Seandainya
engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang
mencegah
orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang
yang
merasa
puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong
kepada
kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang.
Oleh
karena
itu banyak orang "menghadiahkan" agamanya masing-masing kepada
mereka, dan
sebagai
imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan
berbuat
seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah
itu
suatu
kerugian yang senyata-nyatanya?!"
Sambil
berlinangan air mata Abu Dzar berkata: "Semoga Allah merahmati kalian,
wahai Ahlu
Baitur
Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku
di
Madinah
selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku
merasa
berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah
saudarasaudaraku
di
kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang
ke
satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain
Allah s.w.t.
Demi
Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku
tidak takut
menghadapi
kesulitan…"
Tutur
Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali
r.a.
segera
datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah
bertanya
dengan hati gusar: "Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku
--yakni
Marwan--
dan meremehkan perintahku?"
"Tentang
petugasmu," jawab Imam Ali r.a. dengan tenang "ia mencoba
menghalang-halangi
niatku.
Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak
meremehhannya."
"Apakah
engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu
Dzar?"
ujar Khalifah dengan marah.
"Apakah
setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus
kuturut?"
tanggap
Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.
"Kendalikan
dirimu terhadap Marwan!" ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a.
"Mengapa?"
tanya Imam Ali r.a.
"Engkau
telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya" jawab Khalifah.
"Mengenai
untanya yang kucambuk," Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas
keterangan
Khalifah
Utsman r.a., "bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia
sampal
memaki
diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian
yang
sama.
Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!"
"Mengapa
dia tidak boleh memakimu?" tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh.
"Apakah
engkau
lebih baik dari dia?!"
"Demi
Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!" sahut Imam Ali r.a. dengan
tandas. Habis
mengucapkan
kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.
Beberapa
waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh
kaum
Muhajirin
dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia
menyatakan
keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.
Menanggapi
keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara
menasehatkan:
"Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih
baik."
"Aku
memang menghendaki itu," jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa
orang dari
pemuka
muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali
r.a.
dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada
Imam Ali
r.a.
mereka bertanya: "Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan
untuk
meminta
maaf?"
"Tidak,"
jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. "Aku tidak akan datang kepada Marwan dan
tidak
akan
meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau
datang
kepadanya."
Tak
lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a.
datang
bersama
beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah
s.w.t.,
Imam Ali r.a. berkata: "Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu
Dzar, waktu
aku
mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau
menentang
keputusanmu.
Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu
Marwan
menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang
telah
diberikan Allah 'Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa
menghalanghalangi
Marwan,
sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku
kepadamu,
itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku,
yang
sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya."
Sebagai
tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata
dengan
nada lemah lembut: "Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah
kuikhlaskan. Dan
apa
yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu.
Adapun
mengenai
apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang
bersungguhsungguh
dan
tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu....!"
Imam
Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a.
dan
dilekatkan
pada dadanya.
Bagaimana
keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama
isteri
dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun
bisa
turut
menangis sedih!
Menurut
riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan,
dituturkan
sebagai berikut:
Setelah
ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara.
Berhari-hari
sebelum
akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia
mengajak
isterinya
pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan. Keberangkatan mereka
berdua
diiringi
tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak
menemukan
apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara
sangat
dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah
membalik.
Isterinya
menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: "Mengapa engkau menangis?"
"Bagaimana
aku tidak menangis," jawab isterinya yang setia itu, "kalau
menyaksikan engkau
mati
di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang
cukup untuk
dijadikan
kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus
pemakamanmu!''
Betapa
hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih
ia
berkata:
"Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari
kaum muslimin
yang
lewat!"
"Bagaimana
mungkin?" jawab isterinya. "Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu
sekarang
sudah
lenyap!"
"Pergilah
kesana, nanti engkau akan melihat," kata Abu Dzar menirukan beberapa
perkataan
yang
dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. "Jika engkau melihat ada
orang lewat,
berarti
Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau
tidak
melihat
seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan.
Bila
kaulihat
ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia
sudah
hampir
menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!"
Dengan
tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat
ke sanake
mari
dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia
sedang
mengarahkan
pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang
kafilah
lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat
isteri
Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah
itu
melihat,
lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya,
kemudian
bertanya: "Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?"
"Apakah
kalian orang muslimin?" isteri Abu Dzar balik bertanya. "Bisakah
kalian menolong kami
dengan
kain kafan?"
"Siapa
dia?" mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.
"Abu
Dzar Al-Ghifari!" jawab wanita tua itu.
Mereka
saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya,
bahwa
seorang
sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. "Sahabat
Rasul Allah?"
tanya
mereka untuk memperoleh kepastian.
"Ya,
benar!" sahut isteri Abu Dzar.
Dengan
serentak mereka berkata: "Ya Allah...! Dengan ini Allah memberi kehormatan
kepada
kita!"
Mereka
meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar.
Orangtua
yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada
orang-orang
yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:
"Demi
Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan
untuk
membungkus
jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan
bajuku
sendiri atau baju isteriku.....Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun
dari
kalian
yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai."
Mendengar
pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara
mereka
ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: "Hai paman,
akulah yang
akan
membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil
jerihpayahku.
Aku
mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk
kupergunakan
sebagai pakaian ihram…"
"Engkaukah
yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!"
Sahut
Abu
Dzar.
Sambil
mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama
kemudian ia
memejamkan
mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan
tenang
berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal
teriring tiupan
angin
gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru.
Saat
itu
Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.
Selesai
di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil
berdoa: "Ya
Allah,
inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah
sujud
kepada-Mu,
berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau
mengubah
agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan
lidah
dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang
ia mati
dalam
keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang
membuangnya
jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!"
Mereka
mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan "Aamiin" dengan
khusyu'.
Orang
mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah
berkata:
"Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku..."
Krisis
politik dan pemberontakan
Krisis
politik yang menggoncangkan pemerintahan Khalifah Utsman r.a. di Madinah
prosesnya di
mulai
dari Mesir. Dalam bukunya 'Aisyah was Siyasah, halaman 48, Said Al-Afghani,
sejarawan
Islam
terkemuka, menuturkan proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman
r.a.
sebagai
berikut:
Abdullah
bin Abi Sarah, yang dalam periode kekhalifahan Utsman r.a. menjadi Gubernur
atau
Kepala
Daerah Mesir dengan kekuasaan penuh, banyak rnelakukan tindakan yang
menimbulkan
rasa
tidak puas dan jengkel di kalangan penduduk. Keluhan penduduk Mesir itu
mendapat
tanggapan
baik dari Khalifah Utsman r.a. Tetapi Khalifah sendiri tidak dapat bertindak
tegas.
Bahkan
orang-orang Mesir yang mengadu kepada Khalifah, sekembalinya dari Madinah
dibunuh
oleh
Abdullah bin Abi Sarah.
Peristiwa
semacam itu mengugah kemarahan rakyat yang semakin memuncak. Hampir 700
orang
bersenjata meninggalkan Mesir. Mereka menuju Madinah untuk menghadap Khalifah.
Khalifah
didesak supaya bertindak terhadap Abdullah bin Abi Sarah dan memecatnya dari
kedudukan
sebagai Kepala Daerah.
Semua
sahabat Rasul Allah s.a.w., termasuk Imam Ali r.a. dan Sitti 'Aisyah r.a. turut
mendesak
Khalifah
Utsman r.a. agar memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Bagaimana pun juga alasannya
tindakan
Abdullah bin Abi Sarah itu bertentangan dengan hukum Islam dan tidak dapat
dipertanggung
jawabkan oleh Khalifah. Khalifah Utsman. r.a. menyatakan persetujuannya dan
akan
bertindak memecat Abdullah bin Abi Sarah.
Sejalan
dengan pengangkatan Kepala Daerah baru (yang berangkat langsung dari Madinah ke
Mesir),
berangkat juga kurir khusus membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada
Abdullah
bin
Abi Sarah. Dalam surat rahasia itu terdapat tanda-tangan Khalifah Utsman r.a.
Isinya
memerintahkan
Abdullah bin Abi Sarah supaya segera membunuh Kepala Daerah baru setibanya
di
Mesir. Kepala Daerah baru itu ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.
Celakanya,
kurir yang membawa surat rahasia itu dipergoki di tengah jalan oleh
iring-iringan
Kepala
Daerah yang baru diangkat dan yang akan melakukan timbang terima jabatan dari
Kepala
Daerah yang lama. Terbongkarlah permainan politik yang sangat curang dan kotor
itu.
Kemarahan
rakyat Mesir tambah meningkat dan mendidih.
Penduduk
Mesir menuding bahwa Marwan Al-Hakam-lah biang keladi permainan politik yang
sangat
berbahaya itu. Mereka menuntut agar Khalifah Utsman r.a. menyerahkan Marwan
kepada
mereka atau menyingkirkan Marwan dari kekuasaan. Tetapi Khalifah bertahan.
Banyak
yang
memberi nasehat kepada Khalifah supaya Marwan dikeluarkan saja dari
pemerintahan.
Nasehat
para sahabat ini tidak dapat mengubah pendirian Khalifah yang tetap
mempertahankan
Marwan.
Ia mengakui, bahwa Marwan memang membikin kesalahan, tetapi tidak usah diambil
tindakan
sejauh itu. Inilah yang mendorong timbulnya krisis politik yang dengan hebat
akan
melanda
kota Madinah.
Sikap
Khalifah Utsman r.a. itu seolah-olah katup-lemah dari suasana tertekan yang
siap
meledak.
Dan benarlah, rasa tidak puas rakyat terhadap kepemimpinan Khalifah Utsman bin
Affan
r.a. akhirnya menggelegar dalam bentuk pemberontakan.
Peristiwa
penggantian Kepala Daerah Mesir sebenarnya hanya merupakan sinyal saja bagai
pecahnya
pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. Api dalam sekam sudah lama
membara,
menunggu hembusan angin yang bertiup dari kantong seorang kurir yang membawa
surat
rahasia ke Mesir.
700
orang dari Mesir, berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar penduduk
Madinah.
Dengan
senjata di tangan masing-masing, mereka berbondong-bondong menuju tempat
kediaman
Khalifah dan dengan ketat mengepungnya. Tindakan pengepungan ini pada mulanya
dimaksud
untuk menekan Khalifah supaya cepat-cepat mengambil langkah yang tegas terhadap
orang-orang
kepercayaannya, yang selalu menjadi biang keladi timbulnya keresahan dalam
masyarakat.
Pengepungan
total dan ketat itu ternyata menimbulkan akibat yang dari hari ke hari makin
buruk
bagi kehidupan keluarga Khalifah. Yang paling cepat terasa ialah kekurangan air
minum.
Pada
suatu hari dalam suasana kepungan rakyat itu masih berlangsung dan tambah
keras,
Khalifah
Utsman r.a. dari anjungan berteriak kepada kerumunan orang yang sedang gaduh
dan
hirukpikuk:
"Adakah Ali di antara kalian?"
"Tidak!"
dijawab dengan singkat dan dengan nada kesal oleh kerumunan orang yang berada
di
bawah
anjungan.
"Apakah
ada di antara kalian yang mau menyampaikan kepada Ali supaya kami bisa mendapat
air
minum?" teriak Khalifah Utsman r.a. pula.
Teriakan
Khalifah Utsman r.a. itu bermaksud hendak memberitahu kepada rakyat yang
memberontak,
bahwa persediaan air minum bagi keluarganya. sudah habis. Teriakan terakhir
dari
Khalifah ini tidak disahuti sama sekali.
Setelah
Imam Ali r.a. diberi tahu oleh seseorang, bahwa Khalifah dan keluarganya sangat
membutuhkan
air, tanpa ragu-ragu ia memerintahkan supaya kepada keluarga Khalifah yang
sedang
terkepung itu dikirim air 3 qirbah (kantong wadah air terbuat dari kulit
kambing atau
unta).
Guna melaksanakan perintah itu, putera-putera Imam Ali r.a. sendiri, yaitu
Al-Hasan dan
Al-Husein
membawa air ke rumah Khalifah. Berkat kewibawaan Imam Ali r.a., tidak ada orang
yang
berani menghalang-halangi pengiriman air itu.
Suasana
yang tegang itu memang sangat menyulitkan kedudukan Imam Ali r.a. Di satu fihak
ia
menghormati
Khalifah Utsman r.a. sebagai pemimpin ummat yang telah dibai'at secara sah.
Khalifah
Utsman r.a. adalah sahabat karibnya dan kawan seperjuangan dalam menegakkan
Islam,
dalam waktu yang panjang mereka terikat oleh tali persaudaraan, karena
masing-masing
pernah
menjadi menantu Rasul Allah s.a.w. Tetapi di fihak lain, Khalifah yang telah
lanjut usia
itu
tidak berdaya mengendalikan pembantu-pembantunya. Bahkan kepada
pembantupembantunya
ia
memberikan kepercayaan penuh.
Berfihak
kepada Khalifah berarti membela Marwan dan kawan-kawannya yang terang dibenci
oleh
kaum muslimin. Berfihak kepada kaum muslimin yang memberontak, berarti melawan
Khalifah
yang sah. Usahanya untuk menyadarkan Khalifah tentang gawatnya akibat perbuatan
pembantu-pembantunya,
tidak pernah berhasil. Khalifah Utsman r.a. memang terkenal sejak
dulu
sebagai orang yang keras dalam berpegang pada pendiriannya.
Pertentangan
batin benar-benar bergolak dalam hati Imam Ali r.a. Ia merasa wajib
menyelamatkan
keadaan dari bencana fitnah, tetapi apa daya jika fihak yang bersangkutan
sendiri
tidak menghiraukan nasehat-nasehat. Bahkan dalam keadaan yang sangat kritis itu
Khalifah
Utsman r.a. lebih dekat kepada pembantu-pembantunya. Sementara itu kaum
pemberontak
makin hari makin hilang kesabarannya. Blokade terhadap rumah kediaman
Khalifah
tidak berhasil mengubah pendirian pemimpin yang sudah lanjut usia itu.
Para
sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair
bin Al-'Awwam
dan
Sa'ad bin Abi Waqqash, posisi mereka hampir sama dengan posisi Imam Ali r.a.
Nasehatnasehat
mereka
sudah tidak mempan bagi Khalifah. Padahal tuntutan kaum muslimin yang
berontak
benar-benar adil dan masuk akal.
Setelah
pengepungan makin hari makin berlarut dan Khalifah juga tidak bersedia memenuhi
tuntutan
kaum pemberontak, akhirnya kaum pemberontak mengambil jalan pintas. Mereka
merencanakan
pembunuhan diam-diam terhadap Khalifah Utsman r.a.
Rencana
kaum pemberontak ini cepat tercium oleh Imam Ali r.a. Ia segera memerintahkan
dua
orang
puteranya, guna melindungi keselamatan Khalifah: "Berangkatlah kalian ke rumah
Utsman.
Bawa pedang dan berjaga-jagalah di ambang pintu rumahnya. Jaga, jangan sampai
terjadi
suatu bencana menimpa Utsman!
Tindakan
pencegahan yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. diikuti oleh para sahabat Nabi
Muhammad
s.a.w. yang lain. Thalhah dan Zubair juga memerintahkan puteranya masing-masing
untuk
bersama-sama Al-Hasan r.a. dan Al-Husein r.a. melindungi Khalifah Utsman r.a.
Langkah-langkah
pencegahan yang diambil oleh Imam Ali r.a. itu ditulis. oleh Said Al-Afghaniy
dalam
bukunya Aisyah was Siyasah. Bahkan kata penulis ini, ketika kaum pemberontak
makin
gusar
dan menghujani rumah Khalifah dengan anak panah, beberapa putera sahabat Rasul
Allah
s.a.w.
yang berjaga-jaga itu ada yang terluka, antara lain Al-Hasan bin Ali dan
Muhammad bin
Thalhah.
Terlukanya putera-putera para tokoh Islam itu menimbulkan kekhawatiran kaum
pemberontak,
yang nampaknya di pimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.
"Kalau
orang-orang Bani Hasyim datang," kata Muhammad bin Abu Bakar , "dan
melihat darah
mengalir
dari tubuh Al-Hasan dan Al-Husein, mereka pasti akan bertindak terhadap kita.
Rencana
kita akhirnya akan gagal." Berdasarkan jalan fikiran yang demikian,
diusulkan kepada
teman-temannya
agar Khalifah Utsman dibunuh saja secara diam-diam.
Gugur
di tangan pemberontak
Proses
terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. ternyata banyak diteliti
oleh para
sejarawan,
terutama para penulis sejarah Islam. Ada beberapa versi yang muncul mengenai
siapa
sebenarnya yang membunuh Khalifah Utsman r.a. Said Al-Afghaniy, yang bukunya
dianggap
autentik oleh para sejarawan menunjuk bahwa Muhammad bin Abu Bakar Ash
Shiddiqlah
yang
merencanakan pembunuhan itu, tetapi yang melaksanakan rencana dua orang
temannya.
Menurut
Said Al-Afghaniy, Muhammad bin Abu Bakar bersama dua orang temannya memanjat
dinding
belakang kamar Khalifah. Ketika itu Khalifah sedang membaca Al-Qur'an dan hanya
ditemani
oleh isterinya yang bernama Na'ilah. Setelah berhasil memasuki kamar Khalifah,
Muhammad
langsung menyerbu Khalifah. Lalu janggutnya yang sudah memutih dipegangnya
keras-keras.
Khalifah dengan nada sedih berkata: "Lepaskan janggutku, hai putera
saudaraku!
Jika
ayahmu melihat perbuatan yang kau lakukan ini… aah, alangkah kecewanya
dia!"
Hati
Muhammad bin Abu Bakar justru terharu, cair dan luluh. Tanpa disadari, tangan
yang
sedang
memegang erat janggut memutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi
malang,
dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai
hatinya
masing-masing. Tombak pendek yang mereka pegang segera dihunjamkan ke lambung
Khalifah
Utsman r.a. Seketika itu juga Khalifah gugur. Na'ilah yang menyaksikan adegan
itu
melolong
dan menjerit-jerit histeris bersamaan dengan melesatnya tiga orang pemuda itu
lari
melompat
jendela. Na'ilah terus menerus menjerit: "Amirul Mukminin terbunuh! Amirul
Mukminin
terbunuh!"
Dalam
versi yang sama, tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda, buku yang
berjudul Al-
Iqdul
Farid, jilid III, halaman 78-82, juga mengungkapkan proses pembunuhan atas diri
Khalifah
Utsman
r.a. Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman r.a.,
Imam
Ali
r.a. termasuk orang pertama yang menuju ke kamar maut. Duka hatinya yang
mendalam
terpancar
terang sekali pada wajahnya ketika menyaksikan sahabatnya gugur secara
menyedihkan.
Tetapi wajah sendu itu kemudian berubah merah padam waktu ia menoleh
kepada
dua orang puteranya. "Bagaimana ia bisa terbunuh? Bukankah kalian berdua
sudah
kuperintahkan
supaya berjaga-jaga di depan pintu rumahnya?" tegor Imam Ali r.a. kepada
dua
orang
puteranya dengan suara membentak.
Tampaknya
kemarahan Imam Ali r.a. demikian hebatnya, sampai kedua orang puteranya itu
dipukulnya
sendiri. Kemudian kepada Na'ilah, janda Khalifah Utsman r.a. yang sedang
dirundung
malang ia bertanya tentang siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah.
"Aku
tak tahu," jawab Na'ilah. "Yang kulihat ada dua orang tak kukenal
masuk bersama
Muhammad
bin Abu Bakar…" ujarnya sambil menangis. Lalu diceritakan oleh Na'ilah apa
yang
telah
dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar.
Ketika
Imam Ali r.a. mengecek keterangan Na'ilah kepada Muhammad bin Abu Bakar, putera
Khalifah
pertama itu hanya mengatakan: "Wanita itu tidak berdusta. Aku memang masuk
ke
kamar
itu dengan rencana hendak membunuh Utsman. Tetapi pada saat ia mengingatkan aku
tentang
ayahku, aku sadar kembali dan bertaubat."
Dengan
nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, putera Khalifah Abu Bakar r.a itu
kemudian
melanjutkan kata-katanya: "Demi Allah, aku tidak membunuhnya!"
Menanggapi
keterangan Muhammad bin Abu Bakar itu, Na'ilah pada lain kesempatan berkata
kepada
Imam Ali r.a.: "Bahwa apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar. Tetapi
dialah
yang
membawa masuk dua orang pembunuh itu."
Agak
berbeda dengan dua riwayat tersebut di atas, versi lain lagi yang ditulis oleh
sejarawan
terkemuka
juga, At-Thabariy, dalam bukunya Tarikh, jilid III, mengatakan pada halaman 421
sebagai
berikut:
Seorang
demi seorang memasuki kamar Khalifah yang sedang membaca Al-Qur'an. Tapi
orangorang
itu
mundur kembali karena ragu-ragu hendak membunuh Khalifah yang sudah lanjut
usia.
Kemudian
masuklah Qutairah dan Saudan bin Hamran bersama seorang lagi yang dipanggil
dengan
nama Al-Gafhiqiy. Dengan sebatang besi yang dibawanya, Al-Gafhiqiy menghantam
Khalifah
Utsman. Qur'an yang sedang dibaca oleh Khalifah ditendang sampai jatuh di depan
orangtua
itu, kemudian memerah dibasahi cucuran darah yang mengalir dari luka-luka
Khalifah.
Saudan
segera maju untuk menebas leher Khalifah, tetapi isterinya yang menyaksikan
kejadian
itu
cepat-cepat bergerak maju untuk menahan pedang yang sedang diayun, sehingga
putuslah
jari-jarinya.
Habis
melakukan pembunuhan kejam itu, tidak lupa mereka merampas benda-benda berharga
yang
ada dalam ruangan. Bahkan mereka mencoba melucuti perhiasan yang sedang dipakai
oleh
anak-anak
dan isteri Khalifah Utsman. Tetapi ketika mereka mendengar pekik dan jerit para
wanita,
terpaksa mereka buru-buru lari keluar. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal
18
bulan
Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82
tahun.
Terbunuhnya
Khalifah ketiga ini merupakan alamat buruk yang menandai akan terjadinya krisis
baru
yang lebih hebat lagi di kalangan ummat Islam masa itu. Bagi Imam Ali r.a.
sendiri,
peristiwa
itu menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit. Sebab terbunuhnya
Khalifah
berarti terjadinya kekosongan pimpinan yang serius dan tak mudah diatasi.
Sedang
wilayah
Islam sudah sedemikian luasnya membentang dari barat sampai ke timur.
Tokoh-tokoh
seperti Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin Al-Hakam,
Abdullah
bin Abi Sarah dan lain-lain, itulah pada hakekatnya yang menggali liang kubur
bagi
Khalifah
Utsman r.a. Mereka itulah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas
terjadinya
malapetaka
yang menimpa diri Khalifah itu. Tetapi rasa tanggung jawab itu tidak ada pada
mereka.
Malahan setelah pemberontakan terjadi dan Khalifah mati terbunuh, mereka
cepatcepat
membersihkan
diri dan cuci tangan, serta menjadikan Imam Ali r.a. sebagai kambing
hitam.
DELAPAN
HARI TANPA KHALIFAH
Dengan
terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. tidaklah terselesaikan
persoalan-persoalan
gawat
yang dihadapi oleh kaum muslimin. Malahan muncul krisis politik yang sifatnya
lebih
gawat,
yang menuntut penanggulangan secara tepat dan bijaksana. Beberapa waktu lamanya
kehidupan
kaum muslimin tanpa pimpinan tertinggi dan situasi pemerintahan menjadi kosong.
Duniawi
kontra Zuhud
Dalam
situasi mengandung berbagai kemungkinan buruk itu, tokoh-tokoh Bani Umayyah
yang
selama
ini memperoleh kepercayaan penuh dari Khalifah Utsman r.a., justru tidak
mengambil
tindakan
apa pun juga. Marwan bin Al-Hakam dan kawan-kawannya lari meninggalkan Madinah.
Amr
bin Al-Ash, pada saat-saat Khalifah Utsman r.a. dikepung kaum muslimin yang
memberontak,
cepat-cepat pergi ke Palestina. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri,
tidak
juga mengambil inisiatif apa pun. Begitu pula Abdullah bin Abi Sarah yang
sedang menjadi
penguasa
daerah Mesir. Semuanya diam, seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa
politik
yang
besar dan gawat.
Orang
bertanya-tanya: Mengapa para penguasa Bani Umayyah yang berkuasa di Mesir dan
di
Syam
tidak segera memberi pertolongan kepada Khalifah Utsman r.a.? Kemudian setelah
Khalifah
Utsman r.a. terbunuh, mengapa mereka tak segera mengirimkan pasukan untuk
bertindak
tegas terhadap kaum pemberontak dan menangkap oknum-oknum yang
merencanakan
dan melaksanakan pembunuhan atas diri Khalifah itu? Kenapa mereka berpangku
tangan,
padahal mereka mempunyai kekuatan cukup untuk melakukan tindakan hukum,
sebelum
Khalifah yang baru di angkat?
Pertanyaan-pertanyaan
serupa itu adalah wajar. Sebab, para penguasa Bani Umayyah dan
tokoh-tokohnya
bukan orang-orang yang baru dilahirkan kemarin. Mereka cukup makan garam
politik,
terutama pada waktu mereka dulu mengorganisasi dan memimpin orang-orang kafir
Qureiys
melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Rasul Allah s.a.w. dan kaum
muslimin.
Nampaknya
mereka bukan tidak bertindak, tetapi ada perhitungan lain.
Pada
masa itu tokoh Bani Umayyah yang paling terkemuka ialah Muawiyah bin Abi
Sufyan. Akan
tetapi
sejarah keislamannya tidak memungkinkan dirinya dapat dipilih sebagai Khalifah
pengganti
Khalifah Utsman bin Affan r.a. Ia memeluk Islam setelah tidak ada jalan lain
untuk
menyelamatkan
diri dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin. Ia masuk Islam
kurang
lebih dua tahun sebelum wafatnya Rasul Allah s.a.w. Sebelum itu ia sangat
gencar
memerangi
kaum muslimin dalam usaha memukul Islam.
Dengan
kata lain, selama masih ada sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sejak dulu
sampai
sekarang
masih gigih membela kebenaran agama Allah, seperti Imam Ali r.a. dan lain-lain,
harapan
bagi Muawiyah untuk dapat dibai'at sebagai Khalifah penerus Utsman r.a. tidak
mungkin
dapat terlaksana.
Usaha
merebut atau mewarisi kekhalifahan Utsman r.a. lebih dipersulit lagi oleh dua
kenyataan:
1.
Khalifah Utsman r.a. wafat akibat terjadinya konflik politik yang gawat dengan
rakyatnya
sendiri.
2.
Ia wafat meninggalkan warisan situasi pemerintahan yang sudah tidak disukai
oleh kaum
muslimin.
Konflik
politik dan warisan situasi yang tidak menguntung kan orang-orang, Bani Umayyah
itu
perlu
"dibenahi" lebih dulu untuk dapat meraih kedudukan sebagai pengganti
Khalifah Utsman
r.a.
Muawiyah
harus dapat menciptakan situasi baru, di mana konflik politik yang sedang panas
itu
bisa
dialihkan kepada sasaran baru. Untuk ini harus pula dicari "kambing
hitam" yang "tepat".
Dalam
hal ini ialah orang yang mempunyai kemungkinan paling besar akan dibai'at oleh
kaum
muslimin
sebagai Khalifah. Imam Ali r.a. merupakan seorang tokoh yang paling banyak
mempunyai
syarat untuk dibai'at. Ia bukan hanya anggota Ahlu-Bait Rasul Allah s.a.w.,
melainkan
juga ia seorang genial, ilmuwan dan pahlawan perang.
Sudah
sejak dulu, tokoh-tokoh Bani Umayyah selain Utsman r.a. memandang Imam Ali r.a.
dengan
perasaan benci dan murka. Mereka tidak bisa melupakan betapa banyaknya korban
kafir
Qureiys,
termasuk sanak famili mereka, yang mati di ujung pedang Imam Ali r.a. dalam
pertempuran-pertempuran
antara kaum musyrikin dan kaum muslimin di masa lalu.
Mereka
juga tahu, bahwa di masa Khalifah Utsman r.a. masih hidup, Imam Ali r.a.
satu-satunya
orang
yang selalu mengingatkan Khalifah tentang besarnva bahaya yang akan timbul
akibat
permainan
para pembantunya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a.
jugalah
yang selalu menasehati Khalifah Utsman r.a. supaya mencegah berlarut-larutnya
pacuan
memperebutkan harta kekayaan secara tidak sah, yang sedang terjadi di kalangan
sementara
lapisan ummat lslam. Bahkan Imam Ali r.a. jugalah yang bila perlu melancarkan
kritik-kritik
secara terbuka dan jujur terhadap kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a.
Tokoh-tokoh
Bani Umayyah tahu benar, bahwa Imam Ali r.a. adalah juru bicara yang paling
mustahak
mewakili jeritan sebagian besar kaum muslimin, yang ingin dipulihkan kembali
suasana
kehidupan seperti yang pernah terjadi pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w.
Golongan
Bani Umayyah memandang Imam Ali r.a. sebagai penghambat dan selalu menjadi
perintang
bagi mereka dalam usaha meraih kedudukan dan keuntungan-keuntungan materil.
Seandainya
Khalifah Utsman r.a. sebelum wafatnya berwasyiat supaya Imam Ali r.a. dibai'at
sebagai
Khalifah penggantinya, golongan Bani Umayyah sudah pasti tidak akan
melaksanakannya.
Pertentangan
antara Muawiyah dan pendukung-pendukungnya dengan Imam Ali r.a. dan
pendukung-pendukungnya,
pada hakekatnya bukanlah pertentangan antar-golongan, melainkan
pertentangan
antara kehidupan yang terangsang oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dengan
kehidupan
zuhud. Hal ini akan terbukti kebenarannya pada babak-babak terakhir dari proses
pertentangan
antara keduabelah fihak.
Mencari
Calon Pengganti
Dalam
situasi tidak menentu, kaum pemberontak dan penduduk Madinah berpendapat, bahwa
hanya
salah seorang di antara 5 orang sahabat dekat Rasul Allah s.a.w. yang patut
dibai'at
sebagai
Khalifah pengganti. Mereka itu ialah yang dulu bersama-sama Utsman bin Affan
r.a.
pernah
dicalonkan oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebelum wafatnya. Namun dari
yang 5
orang
itu, hanya 4 orang saja yang masih hidup. Abdurrahman bin A'uf sudah tiada.
Tragedi
pembunuhan Khalifah Utsman r.a. sangat menggoncangkan dan memilukan Sa'ad bin
Abi
Waqqash. Karena sebelum itu, Khalifah Umar r.a. juga mati terbunuh, sungguhpun
pembunuhnya
bukan seorang muslim (tetapi majusi) dan terjadinya bukan akibat konflik
politik
di
antara sesama kaum muslimin. Oleh karena itu Sa'ad bin Abi Waqqash mengambil
keputusan
untuk
menjauhkan diri sama sekali dari kegiatan politik kenegaraan dan
kemasyarakatan. Ia
tidak
mau melibatkan diri atau dilibatkan dalam proses pembai'atan seorang Khalifah
baru.
Dengan
demikian dari 4 orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang masih hidup, kini hanya
tinggal
3 orang saja yang dapat dicalonkan.
Jalan
mennuju terbai'atnya Khalifah ke 4 ternyata tidak selicin seperti yang
diperkirakan orang.
Dalam
proses permulaan saja sudah menghadapi kesukaran berat. Karena ketiga orang
calon
tersebut
sudah tidak ada yang bersedia dibai'at sebagai Khalifah. Usaha pendekatan yang
dilakukan
oleh kaum muslimin yang memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a. sukar
diterima
oleh
tiga orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu. Kemacetan berlangsung selama 8 hari.
Sedangkan
kaum muslimin, baik yang tinggal di kota Madinah maupun yang di daerah-daerah,
cemas-cemas
gelisah menantikan adanya pimpinan yang baru.
Tragedi
pembunuhan kejam terhadap Khalifah Utsman r.a., dikuasainya ibukota oleh kaum
pemberontak,
macetnya pemilihan Khalifah baru, semuanya merupakan kerawanan yang amat
berbahaya.
Pasukan-pasukan muslimin yang sedang bertugas di luar daerah dengan gelisah
menunggu
adanya instruksi-instruksi baru. Jika krisis itu berlarut-larut, mereka sangat
khawatir
kalau-kalau
musuh Islam akan memanfaatkan krisis kepemimpinan itu sebagai peluang yang
baik
untuk melancarkan serangan-serangan.
Di
Mesir, seorang Kepala Daerah yang tidak disukai oleh penduduk dan dituntut
pemberhentiannya
(Abdullah bin Abi Sarah) masih tetap berkuasa. bersama dengan itu, seorang
Kepala
Daerah yang terkenal cakap dan erat hubungannya dengan Khalifah Utsman r.a.,
yakni
Muawiyah,
hanya sibuk dalam kegiatan meningkatkan kedudukannya.
Kaum
pemberontak menyadari, tanpa kerjasama dan bantuan aktif kaum Muhajirin dan
Anshar,
mereka
tidak akan berhasil menentukan pengganti Khalifah Utsman r.a. Setelah
mengadakan
pembahasan
secara mendalam tentang situasi gawat yang akan timbul akibat tidak adanya
pemerintahan
pusat, dan dengan dukungan kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat Rasul
Allah
s.a.w., sepakat untuk secepat mungkin mengadakan pemilihan seorang calon, yang
akan
dibai'at
sebagai Khalifah baru. Calon itu ialah Imam Ali r.a.
Imam
Ali r.a. di Bai`at
Menurut
penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah, jilid
IV,
halaman
8, dikatakan, bahwa ketika itu kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di masjid
Rasul
Allah
s.a.w. Dengan harap-harap cemas mereka menunggu berita tentang siapa yang akan
menjadi
Khalifah baru. Masjid yang menurut ukuran masa itu sudah cukup besar, penuh
sesak
dibanjiri
orang. Di antara tokoh-tokoh muslimin yang menonjol tampak hadir Ammar bin
Yasir,
Abul
Haitsam bin At Thaihan, Malik bin 'Ijlan dan Abu Ayub bin Yazid. Mereka bulat
berpendapat,
bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai'at.
Diantara
mereka yang paling gigih berjuang agar Imam Ali r.a. dibai'at ialah Ammar bin
Yasir.
Dalam
mengutarakan usulnya, pertama-tama Ammar mengemukakan rasa syukur karena kaum
Muhajirin
tidak terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman r.a.
Kepada
kaum Anshar, Ammar menyatakan, jika kaum Anshar hendak mengkesampingkan
kepentingan
mereka sendiri, maka yang paling baik ialah membai'at Ali bin Abi Thalib
sebagai
Khalifah.
Ali bin Abi Thalib, kata Ammar, mempunyai keutamaan dan ia pun orang yang
paling
dini
memeluk Islam.
Kepada
kaum Muhajirin, Ammar mengatakan: kalian sudah mengenal betul siapa Ali bin Abi
Thalib.
Oleh karena itu aku tak perlu menguraikan kelebihan-kelebihannya lebih panjang
lebar
lagi.
Kita tidak melihat ada orang lain yang lebih tepat dan lebih baik untuk
diserahi tugas itu!
Usul
Ammar secara spontan disambut hangat dan didukung oleh yang hadir. Malahan kaum
Muhajirin
mengatakan: "Bagi kami, ia memang satu-satunya orang yang paling
afdhal!"
Setelah
tercapai kata sepakat, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat
bersama-sama
ke rumah Imam Ali r.a. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan
mendesak
agar Imam Ali r.a. keluar. Setelah Imam Ali r.a. keluar, semua orang berteriak
agar
ia
bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul
Mukminin.
Pada
mulanya Imam Ali r.a. menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia
menyatakan
: "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang
Amir
yang
berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan
rela.
Ingatlah,
kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan fikiran."
Jawaban
Imam Ali r.a. yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak
kaum
muslimin
yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau
setengah
memaksa, supaya Imam Ali r.a. bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah.
Dengan
mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat
menegakkan
pemerintahan
dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika
kekhalifahan
jatuh ketangan orang lain…"
Beberapa
saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Imam Ali
r.a.
dengan
mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan para pemuka kaum Muhajirin dan
Anshar
mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan
kepemimpinan
tertinggi kepada Imam Ali r.a. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang
mereka
ajukan Imam Ali r.a. tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti
akan
menghadapi
berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat.
Baru
setelah Imam Ali r.a. yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat
menginginkan
pimpinannya,
dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima
pembai'atan
mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Imam Ali r.a. bersedia dibai'at,
ialah
demi
kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin. Rasa tanggung
jawabnya
yang besar atas terpeliharanya nilai-nilai peninggalan Rasul Allah s.a.w.,
membuatnya
siap menerima tanggung jawab berat di atas pundaknya. Sungguh pun demikian,
ia
tidak pernah lengah, bahwa situasi yang ditinggalkan oleh Khalifah Utsman r.a.
benar-benar
merupakan
tantangan besar yang harus ditanggulangi.
Keputusan
Imam Ali r.a. untuk bersedia dibai'at sebagai Amirul Mukminin disambut dengan
perasaan
lega dan gembira oleh sebagian besar kaum muslimin.
Kepada
mereka Imam Ali r.a. meminta supaya pembai'atan dilakukan di masjid agar dapat
disaksikan
oleh umum. Kemudian Imam Ali r.a. juga memperingatkan, jika sampai ada seorang
saja
yang menyatakan terus terang tidak menyukai dirinya, maka ia tidak akan
bersedia
dibai'at.
Mereka dapat menyetujui permintaan Imam Ali r.a., lalu ramai-ramai pergi menuju
masjid.
Setibanya
di Masjid, ternyata orang pertama yang menyatakan bai'atnya ialah Thalhah bin
Ubaidillah.
Menyaksikan kesigapan Thalhah itu, seorang bernama Qubaisah bin Dzuaib Al
Asadiy
menanggapi:
"Aku Khawatir, jangan-jangan pembai'atan Thalhah itu tidak sempurna!"
Ia
mengucapkan
tanggapannya itu karena tangan Thalhah memang lumpuh sebelah. Orang lain
membiarkan
komentar itu lewat begitu saja.
Zubair
bin Al-'Awwam segera mengikuti jejak Thalhah menyatakan bai'at kepada Imam Ali
r.a.
Sesudah
itu barulah kaum Muhajirin dan Anshar menyatakan bai'atnya masing-masing. Yang
tidak
ikut menyatakan bai'at ialah Muhammad bin Maslamah, Hasan bin Tsabit, Abdullah
bin
Salam,
Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Saad bin Abi Waqqash, dan Ka'ab bin Malik.
Tata
cara pembai'atan dilakukan menurut prosedur sebagaimana yang lazim berlaku atas
diri
Khalifah-khalifah
sebelumnya. Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at
Amirul
Mukminin Imam Ali r.a. menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain
mengatakan:
"Sebenarnya
aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan
dengan
kalian
dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah
datang
dari Allah s.w.t. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita
seperti
datangnya
malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan
menahan
datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan
jauh.
Semoga
Allah memberikan bantuan dan perlindungan.
"Hati-hatilah
kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kalian,
dan
berhentilah
pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak
tergesa-gesa,
sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan.
"Ketahuilah
bahwa Allah s.w.t. di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini
tidak
merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah
mendengar
sendiri Rasul Allah s.a.w. berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan)
sesudahku,
yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiyamat kelak akan
diberdirikan
pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat
hidupnya.
Jika waliy itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena
keadilannya.
Jika
waliy itu seorang yang dzalim, jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian
lenyaplah
kekuatannya.
Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…"
Demikianlah
tutur Abu Mihnaf yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah
yang
ditulis oleh beberapa penulis lain. Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa
orang-orang
yang
tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Imam Ali r.a. supaya menemuinya
secara
langsung
pada lain kesempatan.
Pada
suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak.
Ia baru
bersedia
membai'at Imam Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat
sikap
Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Imam Ali r.a.
dan terkenal
sebagai
pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a.,
Al-Asytar
berkata:
"Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja
lehernya!"
"Aku
tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Imam Ali r.a.
dengan tenang
menanggapi
ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!"
Setelah
Abdullah, datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash atas panggilan Imam Ali r.a. Ketika
diminta
pernyataan
bai'atnya, ia menjawab supaya dirinya jangan diganggu dulu. "Kalau sudah
tidak ada
orang
lain kecuali aku sendiri, barulah aku akan membai'at anda."
Mendengar
keterangan Sa'ad itu, Imam Ali r.a. berkata kepada seorang sahabatnya:
"Sa'ad bin
Abi
Waqqash memang tidak berdusta. Biarkan saja dia!" Imam Ali r.a. kemudian
memperbolehkan
Sa'ad meninggalkan tempat.
Waktu
tiba giliran Usamah bin Zaid, ia mengatakan: "Aku ini kan maula anda. Aku
sama sekali
tidak
mempunyai persoalan atau niat hendak menentang anda. Pada saat semua orang
sudah
menjadi
tenang kembali aku pasti akan menyatakan bai'at kepada anda."
Usamah
lalu diperbolehkan meninggalkan tempat. Tampaknya Usamah bin Zaid merupakan
orang
terakhir yang dipanggil untuk menyatakan bai'at. Sebab, setelah itu tidak ada
orang lain
lagi
yang dipanggil untuk diminta bai'atnya.
Delapan
hari sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan r.a., kini kaum muslimin telah
mempunyai
Khalifah
baru. Menurut catatan sejarah, jangka waktu 8 hari itu merupakan waktu
terpanjang
dalam
usaha penetapan seorang Khalifah. Satu keadaan yang cukup menggambarkan betapa
resahnya
fikiran kaum muslimin pada saat itu. Delapan hari lamanya kaum muslimin hidup
tanpa
pimpinan.
Kota
Madinah yang sejak masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. menjadi pusat kepemimpinan
agama
dan
pemerintahan, selama delapan hari itu berada dalam keadaan serba tak menentu.
Tidak
ada
kemantapan dan tidak ada ketertiban hukum. Kaum pembangkang yang datang dari
luar
Madinah,
banyak yang berusaha mengadakan kegiatan pengacauan di kota tersebut. Beberapa
kelompok
kaum Muhajirin dan Anshar mengalami berbagai hambatan dalam menentukan sikap.
Sedangkan
pemuka-pemuka Bani Umayyah, secara diam-diam mulai
"mengkambing-hitamkan"
Imam
Ali r.a. Mereka melancarkan tuduhan, bahwa Imam Ali r.a. lah yang
"membunuh Utsman"
atau
"melindungi kaum pemberontak". Dengan tuduhan itu mereka mengharap
Imam Ali r.a.
akan
ditinggalkan oleh para pendukungnya dan dengan demikian ia bisa terguling dari
kedudukannya
sebagai Amirul Mukminin.