| Back |
Sebagian sejarawan menyebutkan: “Pada suatu hari Umar bin Khatthab mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Mengapa sampai saat ini engkau belum mengambil baiat dari si pembangkang, Ali bin Abi Thalib Wahai Abu Bakar? Kau tidak akan dapat melakukan apapun bila Ali belum melakukan baiat kepadamu! Utus pasukan kepadanya sehingga ia berbaiat kepadamu”.
Abu Bakar dan kroninya sepakat untuk memaksa Ali agar berbaiat kepadanya. Mereka mengirim sebuah pasukan berkekuatan penuh mengepung rumahnya dan masuk ke dalam rumah Ali secara paksa.[43] Mereka menyeretnya keluar dengan cara yang tidak pantas. Nabi menyifatinya sebagai pembantu utamanya seperti dalam hadis, “Engkau di sisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya tidak ada nabi sepeninggalku”.
Mereka membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berteriak dengan suara keras sambil memaksanya: “Lakukan baiat kepada Abu Bakar!” Ali menjawab dengan logika yang kokoh dan penuh keberanian: “Aku lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan kalian. Aku tidak akan berbaiat kepada kalian. Lebih tepat kalian berbaiat kepadaku. Kalian telah merampas kekhalifahan dari kaum Anshar dengan argumentasi kedekatan kekeluargaan kalian dengan Rasulullah saw. Apakah kalian ingin mengambilnya pula secara paksa dari kami Ahlul Bait Nabi dengan argumentasi yang sama?! Apakah kalian tidak berdalil di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak untuk memimpin dibandingkan mereka, karena Muhammad saw. adalah dari kalian dan karenanya mereka menyerahkan kepemimpinan kepada kalian? Sekarang aku juga ingin berargumentasi dengan cara yang telah kalian lakukan terhadap kaum Anshar. Kami lebih layak dan dekat kepada Rasulullah saw; baik semasa ia hidup atau sepeninggalnya. Bersikaplah adil bila kalian masih beriman! Bila tidak, lakukan kezaliman yang kalian inginkan sementara kalian tahu apa balasannya nanti!”[44]
Penjelasan tegas yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib a.s. akan kebenaran sebagai kendaraan politiknya tidak begitu saja diterima oleh penguasa waktu itu, sekalipun sudah tidak berdaya untuk menjawab tantangan argumentasinya. Untuk sesaat, semua terdiam. Namun setelah itu, Umar bin Khatthab bangkit dan terpaksa menggunakan jalan kekerasan sambil berkata kepada Ali: “Engkau tidak akan kami biarkan hidup sampai melakukan baiat kepada Abu Bakar”. Ali a.s. tetap tidak bergeming dengan pendiriannya dan menjawab: “Wahai Umar! Engkau telah memeras dengan sungguh-sungguh segala kecerdikan yang kau miliki. Mulai hari ini persiapkan masalah ini (kekhalifahan) untuk dirimu, karena mungkin masalah kekhalifahan menjadi bagianmu kelak. Demi Allah! Wahai Umar, aku tidak mengikuti omonganmu dan tidak akan membaiat Abu Bakar”.[45]
Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menyingkap kedok rahasia perjuangan Umar dan semangatnya untuk mendapat baiat dari Ali. Sikapnya selama ini ialah setelah Abu Bakar, kekhalifahan akan jatuh ke tangannya.
Abu Bakar sendiri khawatir kejadian akan berkembang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Ia takut akan kemarahan Ali. Akhirnya ia berkata: “Bila engkau tidak ingin membaiatku, aku tidak akan memaksamu”. Namun pada saat itu, Abu Ubaidah bin Al-Harraj berusaha untuk tetap menundukkan Ali sebagai caranya untuk merebut hati Abu Bakar dengan perkataanya:
“Wahai anak pamanku! usiamu masih belum seberapa dibandingkan dengan mereka yang telah berumur. Engkau masih muda dan belum punya banyak pengalaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan. Yang kutahu, dalam masalah ini Abu Bakar lebih baik dibandingkan engkau. Di samping itu, Abu Bakar lebih luas pengetahuannya dibanding denganmu. Serahkan saja urusan pemerintahan ini kepada Abu Bakar! Bila engkau masih hidup dan diberi umur panjang, pada waktu itu engkau yang lebih tepat untuk memerintah karena keutamaan, agama, ilmu, pemahaman, pengalaman, keturunan dan hubungan dekatmu berkat perkawinan”.[46]
Puncaknya ungkapan-ungkapan politis semacam ini hanya untuk mengelabui orang lain. Namun tentunya, ini tidak akan berpengaruh bila diucapkan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali tidak kehilangan kesadarannya, bahkan jiwanya merasa tertusuk dengan penyimpangan yang telah terjadi ini. Akhirnya ia berdiri dan berpidato di hadapan kelompok Abu Bakar untuk mengingatkan mereka akan kesalahan yang telah diperbuat.
Ali berkata: “Takutlah kepada Allah wahai kaum Muhajirin! Jangan kalian keluarkan kekuasaan Muhammad di Arab dari dalam rumahnya ke rumah kalian. Jangan kalian hempaskan keluarga Muhammad dari posisinya yang sah dan dari manusia. Demi Allah! Wahai kaum Muhajirin, kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan manusia yang lain, karena kami adalah Ahlul Bait Nabi. Kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan dengan kalian. Kami adalah orang yang membaca Kitab Allah. Kami adalah orang yang memahami dengan benar agama Allah. Kami adalah orang yang mengenal betul sunah-sunah Nabi Muhammad saw. Kami lebih faham masalah kemasyarakatan. Kami adalah orang yang akan menjauhkan keburukan dari kalian. Kami adalah pemutus yang adil. Demi Allah! Semua ini ada pada kami. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membuat kalian sesat dan celaka dari jalan Allah, dan semakin kalian berjalan akan semakin jauh dari kebenaran”.[47]
Diriwayatkan bahwa Fathimah, putri Nabi, keluar mengikuti Ali bin Abi Thalib dari belakang. Ia khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Fathimah a.s. keluar sambil menggandeng kedua tangan anaknya; Hasan dan Husein a.s. Melihat itu, Bani Hasyim keluar bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia menantang mereka dan akan menyumpahi mereka bila tidak meninggalkan Ali. Fathimah a.s. berkata: “Lepaskan anak pamanku! Bebaskan suamiku! Demi Allah! Aku akan membuka kain penutup kepalaku dan membiarkan rambutku tergerai dan akan kuletakkan pakaian ayahku di atas kepalaku dan aku akan menyumpahi kalian! Unta Nabi Saleh tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding denganku. Anaknya tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding anakku”.[48]
Bila sikap dan posisi Ali bin Abi Thalib membuat semua orang merasa takut, maka sikap dan posisinya terhadap kekhalifahan setelah Rasulullah saw. adalah yang paling menakutkan. Inayah ilahiyah menginginkan di setiap zaman ada pahlawan yang mengorbankan jiwanya untuk menegakkan dan memuliakan prinsipnya. Hal inilah yang mendorong Ali untuk tidur di atas pembaringan maut dan untuk berhijrah mengikuti Nabi ke Madinah. Ujian yang masih belum dilakukannya adalah mengorbankan kedua anak laki-lakinya; Hasan dan Husein.
Ali tidak mengorbankan kedua anaknya dalam peristiwa kekhalifahan agar kembali kepada arahnya yang tepat dan benar, karena ia tahu betul bahwa itu tidak lagi menyisakan seseorang yang melanjutkan pesan wahyu dari sisi yang lain. Kedua cucu Nabi adalah anak kecil yang belum disiapkan untuk masalah khilafah saat ini.
Ali bin Abi Thalib memiliki kesiapan penuh untuk menjadikan dirinya sebagai korban demi prinsip Islam di setiap periode kehidupannya, sejak dilahirkan di dalam Ka’bah hingga menjadi syahid di masjid Kufah. Ia telah mengorbankan dirinya demi posisi yang telah disahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan menerima kenyataan untuk tidak berkuasa sebagai khalifah zhahir dalam rangka kemaslahatan utama umat Islam. Hal itu juga lantaran Rasulullah telah menyebutnya sebagai pengemban wasiat dan penjaga umat dan agama.
Ali bin Abi Thalib berada di persimpangan jalan yang semua arahnya menyulitkan dirinya:
1. Ali harus membaiat Abu Bakar. Kondisi Ali dalam masalah pembaiatan tidak berbeda jauh dengan sebagian kaum muslimin yang lain. Dan pada saat yang sama, ia harus melindungi diri, kepentingan pribadi, masa depan yang baik dan dihormati oleh aparat pemerintah. Namun, ini tentu tidak mungkin; di mana kedua-duanya bakal diraihnya. Membaiat Abu Bakar dan mengakui kekuasaannya artinya menyimpang dan meninggalkan perintah Rasullah saw. yang pada gilirannya, berakibat penyimpangan khilafah dan kepemimpinan dari jalannya yang sah dan dari makna hakikinya hingga akhir zaman. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan dirinya sendiri untuk menguatkan sendi-sendi Islam dan khilafah islamiyah menjadi sia-sia, yang pada akhirnya terjadi penyimpangan peradaban Islam yang telah dibangun selama ini secara seksama dan merata.
2. Ali mengambil sikap diam, sekalipun dari kecil mengganggu matanya dan tenggorokannya. Ia harus berusaha untuk bersikap arif dan bijaksana agar tetap dapat menjaga eksistensi Islam sekaligus melindungi kaum muslimin, sekalipun ia harus rela menunggu hasil usahanya lebih lambat.
3. Ali mengumumkan pemberontakan bersenjata terhadap kepemimpinan Abu Bakar dengan mengajak kaum muslimin untuk membantunya menghadapi khalifah yang berkuasa.
Seandainya opsi ketiga dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu melakukan gerakan bersenjata, apa yang bakal didapatkannya? Kondisi inilah yang ingin dicoba untuk dianalisa sesuai dengan kondisi sejarah yang sulit waktu itu.
Tidak sesederhana itu bila para penguasa langsung turun dari tahtanya dengan sedikit pemberontakan yang dihadapi, apa lagi dengan melihat kenyataan bahwa mereka sangat rakus dengan yang namanya kekuasaan. Artinya, mereka pasti dengan sekuat tenaga berusaha untuk membela dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Pada saat seperti itu, sangat logis bila Saad bin Ubadah akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk juga mengumumkan perang lainnya guna memenuhi hawa nafsunya untuk menguasai kekuasaan.
Analisa ini muncul ketika Saad mengancam kelompok terpilih sebagai penguasa, Abu Bakar, untuk memerangi mereka bila ia dituntut untuk memberikan baiat. Ia sempat berkata: “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan memberikan baiat hingga aku memerangi kalian dengan panah-panahku yang kucat ujungnya dengan darah kalian. Aku akan memerangi kalian dengan pedangku dan membunuh kalian satu persatu bersama keluargaku dan mereka yang masih taat kepadaku. Seandainya Semua manusia dan jin berkumpul dan membela kalian aku tidak akan melakukan baiat”.[49]
Kemungkinan yang paling bisa dilakukan oleh Sa’ad bin Ubadah ialah menyiapkan diri untuk melakukan kudeta. Hanya saja, ia tidak berani menjadi orang pertama yang mengangkat senjata. Ia merasa cukup dengan ancaman kerasnya sebagai pewrnyataan perang. Ia menanti buruknya kondisi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menentang khalifah terpilih. Ia bebas kapan saja melakukan kudeta saat melihat kelompok penguasa menjadi lemah dan ada kelompok kuat lainnya yang ingin juga mengkudeta pemerintah. Pada saat itu, ia berharap dapat mengusir kaum Muhajirin dari Madinah atau menghabisi mereka di sana,[50] sebagaimana diungkapkan di Saqifah.
Perlu dicatat bahwa masih ada kelompok Bani Umayyah yang menanti posisi dan kekuasaan. Mereka masih punya pengaruh yang besar di Mekkah sejak tahun-tahun Jahiliyah terakhir; bagaimana Abu Sufyan sebagai pemimpin mereka menentang dan ingin menghancurkan Islam. Di sisinya, ada wakil yang benar-benar taat kepadanya. Ia bernama Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah.
Bila direnungkan kejadian di hari-hari itu,[51] kabar wafatnya Rasulullah saw. telah sampai ke Mekkah di bawah pemerintahan Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah. Ia menyembunyikan kabar tersebut sementara di Madinah terjadi kegelisahan, dan itu hampir membuat penduduk Mekkah menjadi murtad. Tentunya, tidak ada yang rela terhadap penyebab kemurtadan mereka. Kemurtadan itu berawal dari kemenangan Abu Bakar yang sekaligus menunjukkan kemenangan mereka atas penduduk kota Madinah sebagaimana sebagian peneliti menjelaskan hal itu, karena Abu bakar menjadi khalifah pada hari Rasulullah wafat.
Kemungkinan besar, kabar Abu Bakar menjadi khalifah datang bersamaan dengan kabar wafatnya Nabi. Sebab kejadian itu dapat disebutkan dengan penjelasan ini: Gubernur yang diangkat oleh dinasti Umaiyah ‘Itab bin Usaid berusaha untuk menjelaskan sikap politis yang diyakini oleh Bani Umayyah waktu itu. Ia menyembunyikan kabar kemenangan Abu Bakar dan menyebarkan kematian Rasulullah saw. Pada awalnya ia berusaha menyembunyikan kabar ini karena tahu bahwa Abu Sufyan kecewa dengan sikap dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Kabar itu kemudian disebarkan setelah tahu kerelaan Abu Sufya setelah terjadi pertemuan yang menghasilkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan dinasti Umayah. [52]
Dengan demikian, hubungan politis antara tokoh-tokoh Umawiyah dengan pemerintahan terpilih mulai terbangun sejak saat itu. Ini memberikan penafsiran adanya sebuah kekuatan yang tersimpan di balik ucapan-ucapan Abu Sufyan, yaitu ketika ia kecewa kepada Abu Bakar dan teman-temannya. Abu Sufyan berkata: “Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Dan ia berkata tentang Ali bin Abi Thalib dan Abbas: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, akan kuangkat tangan keduanya menjadi pemimpin”.[53]
Bani Umayyah telah mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta, dan Ali bin Abi Thalib a.s. mengetahui niat mereka yang diungkapkan dalam kejadian Saqifah. Di samping itu, Ali tahu bahwa mereka orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Yang mereka inginkan adalah kepentingan pribadi. Oleh karenanya, Ali menolak permintaan Bani Umayyah. Sejak saat itu Bani Umayyah menanti perpecahan; ketika kelompok-kelompok bersenjata melakukan peperangan. Mereka tidak pernah yakin akan kemampuan pemerintah untuk menjamin kepentingan mereka. Dan makna pemisahan mereka dari jamaah pada waktu itu adalah sebuah pengumuman keluarnya mereka dari agama dan memisahkan Mekkah dari Madinah.
Dengan demikian, bila pada masa itu kelompok Ali bin Abi Thalib melakukan pemberontakan menentang penguasa yang mengambilnya haknya, akan terjadi pertumpahan darah yang diikuti oleh banyak kepentingan, dan pada saat yang sama, memberikan peluang kepada mereka yang menghendaki terjadinya fitnah dan kaum munafikin akan memanfaatkan situasi.
Kondisi yang sulit ini tidak memberikan kesempatan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengangkat suaranya melawan penguasa, karena yang akan terjadi adalah pertumpahan darah dan pembunuhan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Akibatnya eksistensi Islam akan lenyap pada saat-saat kaum muslimin perlu berlindung di balik satu kepemimpinan. Kaum muslimin perlu memusatkan kekuatannya untuk mencegah terjadinya fitnah dan kudeta.[54]
Mempertimbangkan kondisi demikian ini, Ali harus memilih jalan tengah yang dapat mewujudkan sebesar mungkin tujuan risalah yang diembannya.
Dari sini dapat diketahui bahwa Rasulullah saw. telah menyiapkan dua garis acuan atau sebuah acuan yang memiliki dua tahap.
Tahap pertama, pengangkatan Ali sebagai imam dan khalifah secara resmi dengan pengumuman resmi dan pengambilan baiat dari kaum muslimin di hari Ghadir Khum. Rasul sebagai pemimpin politik diakui sepanjang sejarah oleh orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Nabi memiliki pandangan yang tajam dan jauh ke depan. Keinginannya akan kebaikan umatnya dan hubungannya yang terus menerus dengan alam gaib dan ilmu ilahi yang berwujud syariat Islam sebagai penutup segala syariat, merupakan tujuan risalah ilahi yang dapat terwujudkan secara keseluruhan.
Dari sini dan dari sisi pengetahuannya akan seberapa besar kesadaran umat Islam akan risalah Islam di zamannya dan seberapa besar peleburan sikap mereka dengan nilai-nilai risalah Islam, serta kondisi masyarakat yang menerima atau terpaksa menerima negara yang didirikan oleh Nabi yang mencakup kabilah-kabilah dan nilai-nilai Jahiliyah, tidaklah mudah untuk menghilangkannya dengan cepat dan dengan langkah-langkah pendidikan jangka pendek. Semua ini dapat diketahui oleh orang yang merenungi kondisi yang meliputi kehidupan Nabi dan negara. Orang akan merasakan keharusan adanya rencana jangka panjang yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan besar risalah Islam setelah ketidakmungkinan mewujudkannya pada waktu hidup Nabi dan dalam kondisi masyarakat yang seperti ini dalam waktu singkat.
Dengan demikian, tahap kedua adalah setelah umat Islam berpaling dari ajaran-ajaran Nabi. Dan langkah yang harus diambil oleh Ali bin Abi Thalib adalah sabar, waspada dan kembali menggariskan secara praktis proses pembinaan yang lebih mengakar di bawah pemerintahan Islam yang baru dengan harapan, bahwa suatu saat kondisi memungkinkan untuk menguasai pemerintahan dan mewujudkan ajaran-ajaran Nabi. Pada saat itu, semua tujuan-tujuan dapat diwujudkan dan umat Islam dapat mempraktekkan syariat Islam secara benar.
Semua riwayat yang sahih sepakat bahwa setelah melakukan prosesi penguburan jasad Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib tinggal di rumahnya dan menyibukkan dirinya mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali bin Abi Thalib mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tulisan-tulisan yang berserakan.
Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq a.s. bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali! Al-Qur’an berada di balik pembaringanku, masih berada dalam mushaf, kain sutera dan kertas. Ambillah dan kumpulkan Al-Qur’an itu! Dan jangan biarkan ia hilang sebagaimana orang-orang yahudi menghilangkan Taurat” kitab asli. Kemudian Ali pergi mengambil dan mengumpulkannya lalu meletakkannya dalam sebuah pakaian kuning.[55]
Diriwayatkan pula, bahwa Ali bin Abi Thalib melihat orang-orang dalam kondisi kebingungan ketika Nabi wafat. Kemudian ia bersumpah untuk tidak menyelempangkan surbannya sampai selesai mengumpulkan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan Al-Qur’an selama tiga hari tanpa keluar rumah.[56]
Diriwayatkan pula, Ali bin Abi Thalib tidak melakukan kontak dengan orang-orang untuk beberapa waktu sampai ia mengumpulkan Al-Qur’an. Kemudian ia keluar menemui orang-orang dengan memakai gamis, sementara orang-orang sedang berkumpul di masjid. Setelah berada di tengah-tengah mereka, Ali meletakkan Al-Qur’an di hadapan mereka sambil berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “Kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang bila kalian berpegang padanya, niscaya kalian tidak akan sesat; kitab Allah dan itrahku, Ahlul Baitku. Ini adalah kitab Allah dan aku adalah itrah Ahlul Bait”.[57]kemudian ia menambahkan: “Aku menjelaskan hal ini agar kelak kalian tidak berkata: “Kami lupa tentang masalah ini”.
Ali menambahkan: “Jangan sampai pada Hari Kiamat, kalian berkata bahwa aku belum mengajak kalian untuk membela, aku belum mengingatkan kalian tentang hakku, dan aku belum mengajak kalian kepada kitab Allah dari pembukaannya hingga akhir”.[58]
Umar bin Khatthab berkata kepada Ali: “Bila engkau memiliki Al-Qur’an, kami memiliki yang sama. Oleh karenanya, kami tidak membutuhkan Al-Qur’an yang berada di tanganmu dan dirimu”.
Tampaknya, Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali juga menjelaskan mana ayat yang umum dan khusus, mutlak dan muqayyad, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, surat-surat yang wajib sujud dan yang tidak, dan sunah-sunah dan adab yang berkaitan dengan Al-Qur’an. begitu juga Ali bin Abi Thalib menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul). Ia juga mendiktekan penulisan enam puluh macam prinsip yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an; setiap satu prinsip dibawakan contoh khusus yang berkaitan dengannya.
Pekerjaan besar yang dilakukan Ali mengangkatnya pelindung prinsip-prinsip utama Islam. Ali mengarahkan akal seorang muslim untuk mengkaji lebih dalam tentang ilmu-ilmu yang dikandung oleh Al-Qur’an. Tujuannya tidak lain agar Al-Qur’an menjadi sumber utama pemikiran manusia yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
Apa yang dikerjakan oleh Ali bin Abi Thalib perlu mendapat apresiasi yang besar. Ia sendiri pernah berkata: “Setiap ayat yang turun kepada Rasulullah saw. pasti dibacakan kepadaku, kemudian aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Nabi mengajarkanku takwil ayat tersebut, tafsir, nasikh dan mansukhnya dan muhkam dan mutasyabihnya. Kemudian Nabi berdoa kepada Allah swt. agar aku dapat memahami apa yang diajarkannya. Aku tidak pernah lupa sebuah ayat dari Al-Qur’an, bahkan sebuah ilmu yang kutulis lewat ajaran Nabi. Allah telah mengajarkan kepada Nabi segala sesuatu baik halal dan haram, perintah dan larangan, dan apa yang telah terjadi atau yang akan terjadi yang berkaitan dengan ketaatan atau kemaksiatan, pasti Nabi mengajarkannya kepadaku, dan aku menghafalkannya. Aku tidak pernah lupa walaupun satu huruf”.[59]
Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Demi Allah! Tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa Arab akan mengambil kekhalifahan sepeninggal Nabi dari Ahlul Baitnya, atau aku akan dicegah untuk memerintah. Satu hal yang membuatku gusar adalah orang-orang yang berduyun-duyun membaiat Abu Bakar. Aku tetap pada posisiku, sampai suatu saat aku melihat bahwa masyarakat Islam tidak lagi berpegang pada Islam, atau mereka ingin menghancurkan agama Muhammad saw. Pada saat itu, aku khawatir bila tetap tinggal diam menyaksikan hal itu terjadi. Aku harus maju menolong Islam dan pengikutnya. Kondisi ini buatku lebih sulit dari sekadar melepaskan kekuasaan yang menjadi hakku atas kalian. Kekuasaan yang menurutku tidak lebih dari sebuah barang yang pada akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana, atau bagaikan awan yang cepat berlalu. Oleh karenanya, aku harus berdiri di tengah-tengah kekacauan ini sampai kebatilan lenyap dan agama tetap tegak.[60]
Semua kejadian yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw. dan sistem yang berkuasa berusaha menjauhkan masyarakat dari kebenaran. Seluruhnya belum melupakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengemban wasiat; menuntun umat Islam dan mempraktekkan risalah Islam.
Baiat yang dilakukan kepada Abu Bakar telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib dari mengatur kehidupan umat Islam secara langsung. Kondisi ini pula memaksanya untuk meminggirkan dirinya dari dunia politik, sementara wasiat Nabi adalah untuknya sebagai sebuah kewajiban ilahi untuk melindungi umat Islam. Keinginannya yang kuat dan dalam akan risalah Islam sementara masyarakat Islam yang terkoyak-koyak selama ini telah menjadikanya sebagai pemimpin sekaligus panutan yang membela Islam di setiap medan.
Berdasarkan hal-hal di atas, Ali bin Abi Thalib mulai menyampaikan pandangan-pandangannya, menjelaskan prinsip-prinsip agama yang benar di setiap kondisi yang sulit, di mana orang-orang mengikuti kepemimpinan yang ada di zaman yang sulit dan pada umat yang akidah Islamnya masih belum kuat dan mengkristal dalam jiwanya. Ali adalah tolok ukur dalam masalah-masalah peradilan dan fatwa dalam kehidupan masyarakat Islam, mulai dari peradilan, sosial dan manajemen, di zaman Abu Bakar hingga Utsman bin Affan.
Posisi penting lain Ali adalah melindungi Madinah sebagai benteng di hadapan serangan kaum yang murtad bersama-sama beberapa sahabat setianya yang siap setiap saat di sisinya.
Ali bin Abi Thalib senantiasa dizalimi. Ia mempertahankan haknya yang dirampas. Hatinya pedih melihat kondisi kekhalifahan dan Islam. Yang bisa dilakukannya hanyalah sabar dan membuka mata lebar-lebar untuk memahami apa yang terjadi. Ia mengungkapkan kepedihan dan kesedihannya dalam pidato terkenalnya yang bernama Syiqsyiqiah. Ali bin Abi Thalib berkata:
“Demi Allah! Ketahuilah, Abu Bakar bin Abi Quhafah telah memakai jubah kekhalifahan. Padahal, ia tahu bagaimana posisiku dalam kekhalifahan. Aku laksana poros penggilingan yang senantiasa berputar mengelilingku. Ia tahu bahwa ilmu-ilmu tersebar melaluiku. Setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan tidak akan dapat melebihiku. Aku kemudian berusaha meminggirkan diriku dari usaha perebutan kekhalifahan yang menjadi hakku. Aku senantiasa berpikir, apakah mungkin seorang diri aku menuntut hakku? Ataukah dalam situasi yang tidak menentu aku perlu mengambil sikap sabar? Kondisi ini memaksa orang-orang tua musnah sementara para pemuda menjadi tua. Mereka yang beriman sampai kiamat dan bertemu dengan Allah dalam situasi sedih. Melihat kondisi yang semacam ini, aku merasa sikap yang paling tepat adalah sabar. Oleh karenanya aku bersabar melihat semua ini seakan menahan duri yang menusuk mata dan tulang yang tersangkut di tenggorokkan. Dalam pandanganku, warisanku dirampok oleh mereka! Semua terjadi sampai Abu Bakar mati dan menyerahkan masalah kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab. Sangat aneh! Abu Bakar meminta maaf kepada kaum muslimin selagi masih hidup.[61] Bagaimana mungkin menjelang kematiannya ia memberikan hak kekhalifahan kepada orang lain (Umar bin Khatthab)? Keduanya telah bersusah payah memeras unta kekhalifahan dan bersenang-senang dengan perasannya. Pada akhirnya, khalifah pertama (Abu Bakar) memberikan hak kekhalifahan dan pemerintahan kepada seseorang yang terkenal dengan setumpuk kebobrokannya. Ia orang yang menyukai kekerasan, mempersulit orang lain dan sering melakukan kesalahan yang akhirnya menyesal dan meminta maaf”.[62]
Masa hidup Abu Bakar tidak panjang. Ia mulai lemah karena penyakit dan mulai mendekati ajalnya. Ia mengambil keputusan untuk menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab sepeninggalnya. Keputusan ini ditentang oleh mayoritas Muhajirin dan Anshar. Mereka mengumumkan kebencian terhadap keputusan itu, karena tahu sifat keras Umar dan perilakunya yang buruk terhadap orang lain.[63]
Abu Bakar tidak menanggapi bahkan bersikeras dengan pendapatnya.
Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan menghadapnya untuk menuliskan surat keputusan pengangkatan Umar. Abu Bakar berkata kepada Utsman bin Affan: “Tuliskan: Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar bin Abi Quhafah kepada kaum muslimin. Amma ba’du” Kemudian Abu Bakar pingsan. Utsman menulis lanjutannya: “Sesungguhnya aku telah menjadikan Umar bin Khatthab sebagai penggantiku, aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lalu Abu bakar tersadar dari pingsannya. Ia berkata kepada Utsman: “Bacakan untukku! Utsman membaca apa yang ditulisnya. Setelah mendengar itu, Abu Bakar lantas mengucapkan takbir lalu berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman bin Affan menjawab: “Ya”. Abu Bakar berkata: “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan untukmu”.[64]
Ali bin Abi Thalib a.s. tidak dapat menerima apa yang diperbuat oleh Abu Bakar dengan alasan-alasan berikut:
1. Abu Bakar tidak melakukan musyawarah dengan satupun dari kaum muslimin untuk meletakkan kendali kekhalifahan kecuali dengan Abdurrahman bin ‘Auf dan Utsman bin Affan. Kedua orang ini adalah yang paling tahu kecenderungannya untuk menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pengganti setelahnya. Sikap Abu Bakar itu muncul dari rasa kekhawatiran para sahabat yang ikhlas yang akan menolak Umar bin Khatthab sebagai penggantinya kelak.
2. Penegasan untuk menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari peta politik dan dari penentuan arah kekhalifahan. Oleh karenanya, dalam masalah ini Abu Bakar tidak pernah melakukan konsultasi dengan Ali. Padahal Abu Bakar selalu membutuhkan Ali untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau sekurang-kurangnya, menurut Abu Bakar, pandangan dan sikap Ali selalu benar dibandingkan pandangan selainnya.
3. Abu Bakar menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pemimpin dan mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menaatinya, seakan-akan Abu Bakar pengemban wasiat kaum muslimin, demikian ini merujuk ucapannya: “Aku telah mengangkat Umar menjadi khalifah bagi kalian sepeninggalku. Dengar dan taatilah dia!” Ucapan ini selalu diungkapkan Abu Bakar meskipun ia melihat tanda kemarahan di wajah mayoritas sahabat Nabi.
4. Abu Bakar melanggar keyakinannya selama ini; bahwa ia berjalan dan memerintah sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia mengklaim bahwa ketika Nabi meninggal dunia, beliau tidak menetapkan seorang pun sebagai penggantinya. Sementara sekarang ia malah mewasiatkan temannya sendiri, Umar bin Khatthab, sebagai khalifah setelahnya.[65]
5. Abu Bakar tengah mempersiapkan kerajaan Bani Umayyah yang telah menyengsarakan kaum muslimin dan Islam. Dan itu terjadi karena ketamakan-ketamakan mereka akan kekuasaan, di samping keberanian mereka untuk menguasainya. Hal ini tersirat dari ucapan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan: “Seandainya Umar tidak ada, aku pasti akan memilihmu”.[66] Abu Bakar tahu benar bahwa Utsman secara emosional lemah dan condong ke Bani Umayyah dan mereka pasti akan menguasainya.
[43] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 30. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 443.
[44] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.
[45] . Ansab Al-Asyraf, jilid1, hal 587. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5.
[46] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5 dan jilid 1, hal 134.
[47] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.
[48] . Ath-thabarsi, Al-Ihtijaj, jilid 1, hal 222.
[49] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459.
[50] .Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459. cerita Saqifah, Al-Hubbab bin Al-Mundzir berkata: “Demi Allah! Ketahuilah bila kalian menginginkan, kami akan mengembalikan segala sesuatu seperti semula (Muhajirin kembali ke Mekah).
[51] . Ibnu Al-Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 123: Kabar kematian Rasulullah sampai ke Mekkah dan Itab bin Usaid bin Al-‘Ash adalah gubernur di sana.
[52] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 449. Kekcewaan Abu Sufyan menjadi reda setelah Abu Bakar menjadikan Muawiyah anak Abu Sufyan sebagai gubernur di Syam. Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku akan melakukan silaturahmi dengannya”.
[53] . Ibid.
[54] . As-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr, Fadak fi At-Tarikh, hal 102-105.
[55] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41. Fath Al-Bari, jilid 10, hal 386. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 51.
[56] . Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 30.
[57] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41.
[58] . Kitab Sulaim bin Qais, hal 32, cetakan muassasah Al-Bi’tsah.
[59] . Al-Kanji, Kifayah Ath-thalib, hal 199. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 2, hal 187, Bihar Al-Anwar, jilid 92, hal 99.
[60] . Nahjul Balaghah, surat ke 62.
[61] . Lihat Tadzkirah Al-Khawash, hal 62, sekaitan dengan ucapan Abu Bakar: “Ganti aku! Aku bukan yang terbaik di antara kalian.”
[62] . Nahjul Balaghah, khutbah ketiga.
[63] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 36. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 618-619. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.
[64] . Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.
[65] . Ini tampak aneh ketika ia sadar dari pingsannya dan mendengarkan apa yang ditulis oleh Utsman tentang penetapan khalifah setelahnya, lalu ia berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman menjawab: “Ya”. Bagaimana mungkin ia dan Utsman khawatir akan timbulnya perselisihan di antara kaum muslimin; sementara Rasulullah saw. tidak khawatir munculnya perselisihan di antara umatnya?! Bukankah mereka secara jelas mengatakan bahwa Nabi meninggal tanpa menetapkan seorang pun sebagai penggantinya?! Celakalah! Bagaimana mereka memiliki kesimpulan seperti ini.
Lebih dari itu, Umar sempat melarang Nabi untuk menuliskan wasiat di akhir masa hidupnya, sementara ia duduk dan di hadapannya ada kertas dan bersamanya budak Abu Bakar yang di tangannya surat keputusan pengangkatan Umar. Pada saat yang sama, Umar juga berkata: “Wahai kaum muslimin! Dengarkan dan taatilah ucapan khalifah Rasulullah, bahwa ia berkata: “Aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lihat Ath-thabari, jilid 1, hal 2138, cetakan Eropa. Tampak dua sikap Abu Bakar yang kontradiksi satu dengan lainnya! Apakah ada tafsir lain selain adanya persekongkolan untuk menghancurkan rencana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah?!
[66] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 164.
| Back |