[1] Labûn berarti unta yang sedang menyusui anak, dan ibnul labûn adalah anaknya yang berusia dua tahun. Dalam usia ini, unta muda itu belum layak ditunggangi dan belum punya susu untuk diperah. la dinamakan ibnul labûn karena dalam masa dua tahun itu ibunya melahirkan anak lain dan mulai mengeluarkan air susu lagi.

Maksudnya, dalam dalam kekacauan perang saudara, orang harus bersikap sedemikian rupa sehingga ia dipandang tak berarti dan diabaikan. Tak dirasakan perlunya untuk mendukung salah satu pihak. Dalam kekacauan itu hanya dengan menjauhkan diri orang dapat luput dari kelaliman. Tentu saja, bila perseteruan itu terjadi antara yang benar dan yang salah maka tidaklah semestinya menjauhkan diri, dan perseteruan antara yang benar dan yang salah tak dapat dikatakan sekadar kekacauan sosial. Dalam keadaan demikian maka wajiblah untuk bangkit mendukung yang benar dan melawan yang salah. Misalnya, dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin, wajib mendukung pihak yang benar.

[2] Pada yang terakhir Amirul Mukminin menggambarkan akibat dari sikap mengagumi kehebatan diri, yakni menciptakan rasa benci dan ejekan orang lain. Orang yang memamer-mamerkan kebesarannya untuk mengagungkan dirinya sendiri tak akan pemah dihormati dengan tulus. Orang mengejeknya dan tak akan memberikan penilaian kepadanya sebagaimana adanya, jangankan sebagaimana yang disombongkannya.

[3] Ungkapan ini terdiri dari dua anak kalimat:

Yang pertama mengenai sedekah, yang digambarkan Amirul Mukminin 'Ali sebagai obat yang mujarab, karena bila orang menolong fakir miskin, maka mereka itu akan mendoakan kesehatannya dengan setulus hatinya. Sekaitan dengan ini Nabi berkata, "Sembuhkan orang sakit Anda dengan sedekah."

Yang kedua mengenai pengungkapan amal perbuatan pada Hari Pengadilan, yakni perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia di dunia ini mungkin tak terlihat oleh manusia karena tirai bendawi, tetapi di Hari Pengadilan tirai itu akan terbuka di depan mata dan tak mungkin disangkal. Firman Allah,

"Pada hari itu manusia keluar dari kubumya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka. Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya Dia akan melihatnya pula." (QS. 99:6-8)

[4] Maksudnya, apabila seseorang beroleh keberuntungan maka orang menggambarkan perilakunya secara berlebihan dan memberikan kredit padanya dengan perbuatan orang lain pula. Sebaliknya, bila orang sedang tidak beruntung, mereka mengabaikan kebajikannya bahkan tak mau mengingat namanya.

"Mereka adalah para sahabat orang yang disenangi dunia dan musuh orang yang dilanda dunia."

[5] Orang yang berlaku sopan dan tulus kepada orang lain akan membuat orang mengulurkan tangan kerjasama kepadanya dan menghormatinya serta meneteskan air mata baginya setelah wafatnya. Maka hendaklah manusia menjalani kehidupan yang menyenangkan sehingga orang tidak mengeluh karenanya, tidak beroleh kemgian karena dia, sehingga di masa hidupnya ia menarik hati orang dan setelah matinya pun kebaikannya diingat.

[6] Ada kesempatan untuk memaafkan bilamana Anda mempunyai kekuasaan untuk membalas dendam. Tanpa kekuasaan maka memaafkan hanyalah hasil ketidakberdayaan dan tidak bermakna. Namun, memaafkan di saat ada kekuatan untuk membalas dendam adalah hakikat keutamaan manusia dan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya berupa kekuasaan, karena rasa terima kasih memestikan orang tunduk kepada Allah dalam kesederhanaan dan kerendahan yang dengan itu perasaan halus belas kasih dan keramahan akan masuk ke hatinya, dan api keberangan yang bergejolak akan mereda, dan sesudah itu tak akan ada dorongan untuk membalas dendam. Dengan demikian ia dapat menggunakan kekuatannya secara mestinya ketimbang mengumbar kemarahannya.

[7] Tidak sukar menarik orang dengan perangai yang baik dan ceria dan mengakrabi mereka dengan kata-kata manis, karena untuk itu tidak diperlukan pengerahan tenaga fisik atau kecemasan mental. Sesudah membuat persahabatan, bahkan lebih mudah lagi memelihara persahabatan dan hubungan baik itu. Karena itu maka sungguh celakalah orang yang tak dapat mempertahankan apa yang telah diperolehnya.

Maksudnya, manusia harus menemui setiap orang dengan akhlak yang baik dan ceria supaya orang suka bergaul dan bersahabat dengannya.

[8] Amirul Mukminin mengucapkan kalimat ini ketika Sa'd ibn Abi Waqqash, Muhammad ibn Maslamah dan 'AbdulIah ibn 'Umar menolak untuk mendukungnya menghadapi kaum Jamal. la bermaksud mengatakan bahwa orang-orang itu begitu menentangnya sehingga kata-katanya tidak akan berpengaruh pada mereka dan tidak pula teguran dan celaan akan memperbaiki mereka.

[9] Maksudnya, karena di masa awal Islam jumlah kaum Muslim terbatas maka perlu membedakan mereka dari orang Yahudi untuk dapat memelihara entitas kolektifnya. Karena itu Nabi memerintahkan mengecat rambut, yang tak lazim dilakukan di kalangan Yahudi. Juga bertujuan supaya apabila berhadapan dengan musuh tak nampak tua dan lemah.

[10] Ungkapan im mengenai orang-orang yang mengaku netral, seperti 'Abdullah ibn 'Umar, Sa'd ibn Abi Waqqash, Abu Musa al-Asy'ari, Ahnaf ibn Qais, Muhammad ibn Maslamah, Usamah ibn Zaid, dan Anas ibn Malik, dan sebagainya. Tak syak bahwa orang yang tidak secara terbuka mendukung yang batil tetapi tidak pula mendukung yang benar adalahjuga seperti mendukung yang batil, dan oleh karena itu terhitung di kalangan lawan kebenaran.

[11] Betapa buruk dan hina pun sesuatu dipandang orang, apabila hal itu sesungguhnya tidak buruk maka merasa malu tentang itu adalah tolol. Karena sering hal semacam itu menyebabkan orang kehilangan sumber kebediasilan dan prestasi di dunia ini maupun dunia yang akan datang. Misalnya, apabila seseorang takut kalau-kalau orang menganggapnya bodoh dan karena itu ia merasa enggan untuk bertanya tentang suatu masalah penting dan perlu, maka keengganan ini akan menyebabkan dia tidak mendapatkan pengetahuan tentang itu. Oleh karena itu, maka orang waras tak perlu merasa enggan untuk bertanya. Demikianlah, seorang tua yang masih belajar ditanyai apakah ia tidak merasa malu untuk belajar di usia tua, dan ia menjawab, "Saya tidak merasa malu karena tak tahu dalam usia tua, maka mengapa saya akan malu belajar di usia tua?" Tentu saja merasa malu melakukan hal-hal yang buruk adalah hakikat kemanusiaan dan kemuliaan. Misalnya, perbuatan asusila yang buruk menurut agama, akal dan akhlak. Bagaimanapun, jenis malu yang pertama adalah buruk, sedang yang kedua baik. Sehubungan dengan ini Nabi berkata,

"Malu ada dua jenis; malu karena kecerdasan dan malu karena bodoh. Malu karena kecerdasan adalah pengetahuan, sedang malu karena bodoh adalah kejahilan."

Makna komentar Sayid Radhi ialah bahwa Amirul Mukminin bermaksud mengatakan: apabila diakui hak-hak kami sebagai Imam yang wajib ditaati, dan kami diberi kesempatan untuk mengurusi urusan duniawi pula maka syukurlah; apabila tidak maka kami harus memikul segala kesulitan dan penghinaan dan kami akan terpaksa menjalani kehidupan dalam penghinaan ini selama waktu panjang.

Beberapa pensyarah menyatakan pengertian yang lain, yakni apabila kedudukan kami dikecilkan dan disisihkan, dan orang lain lebih diutamakan atas kaini maka kami akan menanggungnya dengan sabar dan akan menerima untuk berada di belakang, dan inilah yang dimaksud dengan menunggang di bagian belakang unta. Sebagian orang mengartikan bahwa apabila hak-hak kami dipenuhi maka kami akan menerimanya, tetapi apabila tidak diberikan maka kami tidak akan berperilaku sebagai si penunggang yang menyerahkan kendali hewannya ke tangan orang lain yang bebas membawanya ke mana saja sesuka hatinya; kami akan bersikukuh pada hak kami sekalipun memakan waktu panjang dan tidak akan menyerah kepada penyerobot.

[12] Bilamana seseorang terus beroleh nikmat padahal ia penuh dosa, ia akan berpikir salah bahwa Allah meridainya dari bahwa keberuntungannya itu adalah akibat keridaan-Nya, karena meningkatnya nikmat timbul dari syukur, sedang dalam hal kemungkaran curahan nikmat terhenti, sesuai firman Allah,

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14:7)

Bagaimanapun juga, curahan nikmat dalam keadaan mungkar dan tak bersyukur tak mungkin merupakan akibat keridaan Allah. Dan dalam hal ini tak dapat dikatakan bahwa Allah telah menjuruskannya kepada salah paham hingga ia menganggap kelimpahan nikmat itu sebagai hasil keridaan Allah. Karena, bilamana ia sadar bahwa ia orang berdosa dan durhaka, dan sadar akan dosa dan kejahatan yang dilakukannya maka tak ada alasan baginya untuk salah paham sampai menganggapnya sebagai keridaan Allah. Malah ia harus berpikir bahwa hal itu adalah semacam cobaan. Maka dalam keadaan yang demikian itu ia hanya harus menanti kapan nikmat Allah itu akan diambil darinya dan dia sendiri akan dihukum.

[13] Hal-hal yang hendak disembunyikan manusia dari orang lain, pada suatu saat akan keluar melalui lidahnya atau melalui jalan lain, dan usahanya untuk menutup-nutupi akan menjadi sia-sia. Karena, walaupun pikiran yang berpandangan jauh hendak terus menyembunyikannya namun pada suatu saat ia akan menjadi lengah, lalu yang disembunyikan itu muncul keluar dalam kata-kata melalui lidahnya sebagaimana panah yang telah ditembakkan tak dapat kembali ke busur. Walaupun pikiran terus waspada dan berjaga-jaga, hal itu tak dapat terus tersembunyi karena garis-garis wajah menunjukkan perasaan mental dan mencerminkan emosi hati, dan sebagai akibatnya memerahnya wajah dapat dengan mudah menunjukkan rasa malu, dan pucatnya menunjukkan rasa takut.

[14] Maksudnya, kalau sakitnya tak parah, jangan Anda menganggapnya serius. Bila Anda menganggapnya serius maka perasaan Anda terpengaruh dan dapat membuat penyakitnya menjadi lebih parah. Karena itu, dengan kegiatan Anda dan anggapan bahwa diri Anda sehat maka sakitnya akan hilang dan mencegah melemahnya daya tahan tubuh. Kekuatan daya tahan tubuh mencegahnya menyerah kepada penyakit dengan jalan mengalahkan khayal Anda tentang penyakit itu.

[15] Khabbab ibn Aratt adalah sahabat Nabi yang terkemuka dan salah seorang Muhajirin dini. la menderita berbagai jenis kesulitan di tangan kaum Quraisy. la dipaksa berdiri di panas terik, dan berbaring di api, tetapi ia sama sekali tidak melepaskan ikatannya dengan Nabi. la menyertai Nabi dalam Perang Badr dan pertempuran-pertempuran lain. la mendukung Amirul Muknunin dalam Perang Shiffin dan Nahrawan. la meninggalkan Madinah dan menetap di Kufah dan meninggal di sana tahun 39 Hijrah dalam usia 73 tahun dan dikuburkan di luar kota Kufah. Amirul Mukminin mengimami salat jenazahnya dan mengucapkan kata-kata yang menggugah kasih sayang ini sementara berdiri di sisi kuburnya.

[16] Ini salah satu hadis sahih dari Nabi yang kesahihannya tak diragukan oleh para pakar hadis. Diriwayatkan oleh para sahabat tertentu, seperti 'Abdullah ibn 'Abbas, 'Imran ibn al-Hushain, Ummul Mukminin Ummu Salamah dan lain-lain, dan Amirul Mukminin sendiri mengatakan,

"Demi Dia yang membelah benih dan menciptakan jiwa, sesungguhnya Rasulullah SAWW memberikan kepada saya suatu janji bahwa tak seorang pun selain mukmin (yang sesungguhnya) akan mencintai saya, dan tak ada seorang pun selain orang munafik akan membenci saya." (Muslim, ash-Shahih, 1, h. 60; Dalam kitabnya Muslim memandang cinta kepada 'Ali sebagai suatu unsur keimanan dan merupakan salah satu tandanya dan kebencian kepada 'Ali sebagai tanda menyembunyikan kebenaran; al-Jâmi' ash-Shahih, V, h. 653, 643; Ibn Majah, as-Sunan, I, h. 55; an-Nasa'i, as-Sunan, VIII, h. 115-116, 117; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 84, 95, 128; VI, h. 292; Abu Hatim, 'Illal al-Hadits, II, h. 400; Abu Nu'aim, IV, h. 185; Ibn Atsir, Jâmi' al-Ushul, IX, h. 473; Majma' az-Zawâ'id, h. 133; Ibn al-Maghazili, Manâqib Ali ibn Abi Thalib, h. 190-195; al-Istî'âb, III, h. 1100; Usd al-Ghâbah, IV, h. 26; al-Ishâbah, II, h. 509; Tarikh Baghdad, II, h. 255; VIII, h. 417; XIV, h. 426; Ibn Katsir, Tarikh, VII, h. 354)

Karena itulah para sahabat Nabi biasa menguji keimanan atau kemunafikan kaum Muslim melalui cinta dan benci mereka kepada Amirul Mukminin, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzarr al-Ghifari, Abu Sa'id al-Khudri, 'Abdullah ibn Mas'ud dan Jabir ibn 'Abdullah, bahwa:

"Kami (para sahabat Nabi) biasa membedakan orang munafik dengan kebencian mereka kepada 'Ali ibn Abi Thalib." (Tirmidzi, V, h. 635; al-Mustadrak, ffl, h. 129; Hilyah al-Auliya', VI, h. 294; Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 132-133; Jami' al-Ushul, IX, h. 473; ad-Durr al-Mantsur, VI, h. 66-67; Tarikh Baghdad, XIII, h. 153; ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 2143-215; al-Isti'ab, III, h. 1110; Usd al-Ghâbah, IV, h, 29-30)

[17] Orang yang merasa malu dan menyesal setelah berbuat dosa lalu bertaubat kepada Allah, akan selamat dari hukuman atas dosa itu dan berhak mendapatkan pahala taubat; sedang orang yang setelah berbuat amal kebajikan lalu merasa lebih tinggi dari orang lain, dan karena bangga akan kebajikannya lalu berpikir bahwa ia sama sekali tak perlu khawatir dan peduli, menghancurkan kebajikannya dan tak mendapatkan pahala atas amal kebajikannya. Jelaslah bahwa orang yang telah menghapus noda dosanya dengan bertaubat akan lebih baik daripada orang yang menghancuikan amalnya dengan membanggakannya dan tidak bertaubat karenanya.

[18] Artinya, seseorang yang bermartabat dan terhormat tak pemah mau menerima kehinaan dan kenistaan. Apabila kehormatannya terganggu, maka ia akan melompat seperti singa marah memutuskan belenggu penghinaan itu. Apabila seorang rendah yang berpikiran picik diangkat melampaui namanya, maka ia tak akan dapat menahan diri; ia akan memandang dirinya sangat tinggi dan menyerang kedudukan orang lain.

[19] Kata-kata ini mengukuhkan teori bahwa menurut wataknya hati manusia mencintai kejalangan dan bahwa rasa kasih sayang manusia adalah sifat-sifat yang diperoleh kemudian. Bilamana faktor-faktor dan penyebab cinta dan kasih sayang muncul, sifat-sifat ini terjinakkan, tetapi bila faktor-faktor itu menghilang atau perasaan benci tercipta, orang kembali kepada kejalangan, dan sesudah itu itu amat sulit untuk kembali ke jalan cinta dan kasih sayang.

"Jangan menggoda hati karena ia liar bagai burung. Sekali ia terbang pergi, sukar baginya untuk kembali."

[20] Orang yang memiliki harta kekayaan akan beroleh sahabat dan kenalan di mana saja ia berada dan karena itu ia tak akan merasa asing di negeri orang. Tetapi, apabila ia miskin, ia tak akan mendapatkan sahabat sekalipun di kampung halamannya sendiri, karena orang tak suka bersahabat dengan fakir-miskin, sehingga ia menjadi asing walaupun di negerinya sendiri.

"Orang yang tak berketurunan tidak akan dikenal. la seperti orang asing bahkan di negerinya sendiri."

[21] Kepuasan (qanâ'ah) berarti keadaan menerima dengan apa yang diperolehnya, dan tak mengeluh kalau ia hanya mendapat sedikit. Apabila orang tak puas, maka ia akan berusaha untuk memenuhi keserakahannya dengan melakukan kejahatan sosial seperti menyeleweng, menipu dan mengibuli manusia, karena keserakahan memaksa orang untuk memenuhi hawa nafsunya dengan segala macam cara. Kemudian, pemenilhan keinginan seseorang akan membuka jalan bagi keinginan yang lain, dan setelah keinginannya dipenuhi, hasratnya meningkat dan ia tak akan dapat melepaskan diri dari hasrat-hasratnya atau rasa tak puasnya. Peningkatan rasa tak puas ini hanya dapat dihentikan dengan kepuasan yang membuat seseorang tak peduli atas setiap keinginan, kecuali keinginan yang paling hakiki. Itulah kekayaan abadi yang memberi kepuasan untuk selama-lamanya.

[22] Rasa malu ketika meminta kepada orang yang tak semestinya lebih menyakitkan daripada kegagalan memperoleh hasilnya. Itulah sebabnya maka tak dikabulkannya permohonan dapat disabari tetapi berhutang budi kepada orang yang rendah dan hina tidak akan tertanggungkan. Setiap orang yang menghargai dirinya akan lebih suka terlepas dari berhutang budi kepada orang yang tak semestinya dan tak akan rela memohon kepada orang yang rendah dan hina.

[23] Bicara berlebihan adalah hasil pemikiran kacau, sedang pemikiran kacau adalah karena mentahnya kearifan. Bilamana kearifan mencapai kesempumaan dan pengertian menjadi matang, pikiran seseorang menjadi stabil dan kebijaksanaan beroleh kekuatan dan kendali atas lidah, sebagaimana atas bagian-bagian tubuh lainnya; sebagai hasilnya lidah tidak bertindak tanpa pikir atau di luar dikte kebijaksanaan. Jelaslah bahwa ucapan setelah berpikir lebih singkat dan berisi.

"Ketika pikiran orang meningkat, bicaranya berkurang; ia tak akan bicara selain pada kesempatan yang tepat."

[24] Setiap langkah membuka jalan bagi yang lainnya dan melangkah merupakan sarana untuk mendekati tujuan. Demikian pula, seriap tarikan napas kehidupan merupakan lonceng kematian bagi (napas) yang lain dan membawa kehidupan mendekat kepada kematian. Napas yang gerakannya dipandang sebagai suatu tanda kehidupan adalah sesungguhnya suatu tanda berlalunya suatu saat kehidupan dan suatu sarana untuk mendekati kematian. Dan hidup adalah rentetan dari napas-napas yang membawa maut itu.

"Setiap napas adalah mayat kehidupan yang lewat. Hidup adalah nama kehidupan dengan menghadapi maut yang susul-menyusul."

[25] Dengan melihat benih, petani dapat mengatakan tanaman apa yang akan tumbuh darinya, buah, bunga atau daun apa yang akan muncul darinya dan berapa besamya. Demikian pula, keberhasilan seorang siswa dapat diduga dengan melihat usahanya; dan kegagalan seorang siswa pun dapat dilihat dari kemalasan dan kelalaiannya, karena permulaan dapat menunjukkan kesudahan, dan premis dapat menunjukkan kesimpulan. Karena itu maka apabila akhir suatu urusan tak nampak maka permulaannya harus dilihat. Apabila permulaannya buruk maka akhimya akan buruk; apabila pennulaannya baik maka akhimya akan baik.

"Sungai yang jernih berhulu pada sumbemya sendiri."

[26] Dhirar ibn Dhamrah adalah salah seorang sahabat Amirul Mukminin. Setelah meninggalnya Amirul Mukminin, ia pergi ke Suriah di mana ia bertemu dengan Mu'awiah. Mu'awiah bertanya kepadanya, "Gambarkan 'Ali kepada saya." la menjawab, "Sudilah Anda membebaskan saya dari menjawabnya!" Tetapi Mu'awiah mendesak, "Anda harus menggambarkan tentang dia!" Karenanya, Dhirar berkata,

"Kalau tak ada pilihan, maka hendaklah Anda ketahui bahwa 'Ali adalah lelaki yang kepribadiannya tak terbatas, dahsyat dalam kekuatan, ucapannya tegas, penilaiannya berdasarkan keadilan, pengetahuannya membentang ke semua arah, dan kebijaksanaannya nyata dalam semua perilakunya. Di antara makanan yang paling disukainya adalah jenis yang kasar; dan di antara pakaian, yang pendek (dan sederhana). Demi Allah, ia di antara kami seperti seorang dari kami. la menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dan memenuhi permohonan kami. Demi Allah, walaupun ia membiarkan kami mendekatinya dan ia sendiri dekat kepada kami, kami tak berani menegurnya karena rasa hormat dan pesona kami kepadanya, tak berani pula kami memulai berbicara karena keagungannya di hati kami. Senyumnya menunjukkan sebaris mutiara. la memuliakan orang saleh, ramah kepada orang yang membutuhkan, memberi makan kepada anak yatim, kerabat atau fakir miskin di saat lapar; memberi pakaian kepada yang tak berbaju dan menolong orang-orang yang tak berdaya. la menghina dunia dan pertuasannya. Saya bersaksi bahwa ... (dan seterusnya seperti yang dikutip Sayid Radhi di atas itu).

Ketika Mu'awiah mendengar ini dari Dhirar, air matanya berlinang dan ia berkata, "Semoga Allah mengasihi Abu Hasan. Memang dia demikian." Lalu, sambil berpaling kepada Dhirar ia berkata, "Apa perasaan Anda setelah ia tak ada?" Dhirar menjawab, "Kepedihan saya seperti seorang ibu yang anak tunggalnya disembelih dalam pelukannya." (al-Isti'âb, III, h. 1107-1108; Hilyah al-Auliya', II, 84; Ibn al-Jauzi, Shifatush-Shafwah, I; h. 121; Abu 'Ali al-Qali, al-Amali, 11, h. 147; al-Hushri, Zahr al-Adab, I, h. 40-41; Murûj adz-Dzahab, 11, h. 421; al-Muhibb ath-Thabari, ar-Riyâdh an-Nâdhirah, 11, h. 212; Ibn Abil Hadid, XVIII, h. 225-226)

[27] Akhir ceritanya, orang itu bertanya "nasib apa yang harus kita alami" dan Amirul Mukminin menjawab, "Qadha berarti perintah Allah. Misalnya, la berkata, 'Dan Tuhanmu telah memerintahkan (Wa qadhâ rabbuka) supaya kamu jangan menyembah selain Dia,' (QS. 17:23)

[28] Nilai seseorang yang sesungguhnya adalah pada pengetahuannya dan kesempumaan prestasinya. Nilai dan kedudukannya sesuai dengan kedudukan pengetahuannya dan prestasi yang dicapainya. Mata yang menyadari nilai yang sesungguhnya tidak akan melihat wajah atau kemegahan duniawi dan jabatan, melainkan melihat prestasi seseorang, dan memberikan penilaiannya sesuai dengan itu. Singkatnya, manusia hams berjuang untuk mendapatkan akhlak dan ilmu. Nilai setiap orang sesuai dengan pengetahuannya.

"Nilai seseorang sebanding dengan pengetahuannya."

[29] Allah berfirman,

"... Sesungguhnya Allah menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa."(QS.5:27)

Barangkali arti lain dari ungkapan itu ialah bahwa "barangsiapa mencintai kami hendaklah ia tidak menghasratkan hal-hal duniawi; sekalipun akibatnya ia mungkin menghadapi kesusahan dan kemiskinan, ia harus tetap puas dan menjauh dari mencari keuntungan duniawi.

[30] Dalam musim gugur, perlu perlindungan terhadap dingin karena dengan perubahan cuaca sering timbul penyakit, seperti flu. Ini disebabkan karena badan yang telah terbiasa dengan cuaca panas (di musim panas sebelumnya) tiba-tiba berubah dingin yang sebagai akibatnya jaringan-jaringan tubuh mengerut. Sebaliknya, tak ada perlunya perlindungan dari dingin dalam musim semi dan tidak pula itu merugikan kesehatan karena tubuh telah terbiasa dengan dingin. Jadi, suhu di musim semi bukan tak enak bagi tubuh.

Demikian pula, efek yang serupa berlaku bagi tanaman. Dalam musim gugur, karena dingin dan kering, daun-daun menjadi layu dan efeknya seperti kematian pada area-area hijau. Musim semi membawa pesan kehidupan kepadanya. Kemudian, dengan bertiupnya angin yang sehat, kuncup-kuncup bermunculan, tumbuhan menjadi segar dan sehat, hutan belantara beroleh rona hijau.

[31] Setiap pembicara dan pengkhotbah mewujudkan kekuatan pembicaraannya dalam pokok-pokok di mana ia mahir. Apabila ia harus mengubah pokok, maka pikirannya tak mau bergerak dan lidahnya pun tak akan mampu berbicara. Tetapi orang yang kecerdasannya mempunyai kemampuan beradaptasi dan pikirannya mempunyai kekuatan imajinasi, dapat dengan cepat mengalihkan pembicaraannya menurut kehendaknya, dan dapat menunjukkan kehebatan berbicara dalam pokok apa pun yang ia kehendaki. Sebagai akibatnya, bilamana lidah yang telah sekian lama mencela dunia dan membongkar-bongkar penipuannya mulai memuji dunia, mi menunjukkan kemahiran berbicara yang sama dan kemampuan berargumentasi yang merupakan keutamaannya yang khas. Kemudian penggunaan kata-kata yang bersifat memuji tidak mengubah prinsip itu, dan walaupun cara-cara itu berbeda, tujuannya tetap sama.

[32] Kumail ibn Ziyad an-Nakha'i adalah pemegang rahasia keimaman dan salah seorang sahabat utama Amirul Mukminin as. la menempati kedudukan besar dalam pengetahuan dan prestasi dan mencapai tempat utama dalam kezahidan dan takwa. la gubernur Amirul Mukminin as di Hit selama beberapa waktu. la dibunuh oleh Hajjaj ibn Yusuf Tsaqafi di tahun 83 H. dalam usia sembilan puluh tahun dan dikuburkan di luar kota Kufah.

[33] Maknanya ialah bahwa nilai manusia dapat diketahui dari pembicaraannya, karena pembicaraan setiap orang menunjukkan pikiran dan tabiatnya, dan dengan itu perasaan dan temperamennya dapat diketahui dengan sangat mudah. Oleh karena itu maka selama ia berdiam diri kekurangan maupun kelebihannya tersembunyi, tetapi ketika ia berbicara maka jiwanya yang sesungguhnya terwujud sendiri. Manusia tersembunyi di bawah lidahnya. Apabila ia tak berbicara, Anda tak akan mengetahui nilai dan harganya.

[34] Sebagaimana Allah mengutus serangkaian nabi untuk melaksanakan keadilan dan menjadi rahmat bagi manusia, untuk membimbing dan mengarahkan manusia kepada agama, denukian pula la menetapkan sistem imamah untuk melindungi agama dari perubahan. Setiap imam pada zamannya dapat menyelamatkan ajaran Ilahi dari serangan hawa nafsu pribadi dan memberikan pengarahan tentang ajaran Islam yang sesungguhnya. Dan sebagaimana wajib mengenali si pembawa agama, Nabi, periu pula manusia mengenal pelindung agama itu; dan orang yang tak mengenalnya tak dapat dimaafkan, karena masalah imamah didukung oleh demikian banyak bukti dan kesaksian sehingga tak ada orang berakal yang dapat beroleh jalan untuk menolaknya. Nabi bersabda,

"Barangsiapa mati tanpa mengenal imam di zamannya, maka ia mati sebagai orang jahiliah." (at-Taftazani asy-Syafi'i, Syarh al-Maqâshid, II, h. 275; al-Khathib al-Hanafi, al-Jawâhir al-Mudhî`ah, 11, h. 457, 509)

Diriwayatkan pula oleh 'Abdullah ibn 'Umar, Mu'awiah ibn Abi Sufyan, dan 'Abdullah ibn 'Abbas, bahwa Rasulullah SAWW bersabda,

"Orang yang mati tanpa (mengenal) imam zamannya dan mengikatkan diri dalam baiat kepadanya, akan mati (sebagai) matinya orang yang di masa jahiliah, dan orang yang menarik tangannya dari ketaatan (kepada imam itu) tidak akan mendapatkan dalih (untuk membela dirinya) ketika ia berdiri di hadapan Allah pada Hari Pengadilan." (Abu Dawud ath-Thayalisi, al-Musnad, h. 239; Muslim, Shahih, VI, h. 22; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, IV, h. 96; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, VIII, h. 156; Ibn Katsir, at-Tafsir, I, h. 517; Majma' az-Zawâ'id, V, h. 218, 224, 225)

Ibn Abil Hadid juga berpendapat bahwa pridabi yang ketidaktahuan seseorang tentangnya tak dapat dimaafkan ialah Amirul Mukminin. la juga mengakui kewajiban menaatinya dan percaya bahwa orang yang tidak mempercayai imamah (keimaman) tak akan mencapai keselamatan. Sehubungan dengan ini ia menulis,

Orang yang tak tahu akan kedudukan 'Ali as sebagai imam dan menolak sifatnya (hal itu) sebagai sunah atau wajib, menurut para sejawat kami, akan tinggal di neraka selama-lamanya, puasa atau salatnya tak ada manfaat baginya, karena pengetahuan tentang hal ini tennasuk di antara prinsip-prinsip dasar yang membentuk fondasi-fondasi agama. Namun, kami tidak menganggap bahwa orang-orang yang menolak imamah sebagai orang kafir, melainkan hanya sebagai pendosa, pelanggar atau penyeleweng, dan sebagainya." (Syarh Nahjul Balaghah, XVIII, h. 373)

[35] Apabila kejahatan dilakukan sebagai pembalasan atas kejahatan, dan cercaan dibalas dengan cercaan maka pintu permusuhan dan pertengkaran terbuka. Tetapi apabila seorang yang berbuat jahat dihadapi dengan ramah dan halus maka ia akan terpaksa mengubah perilakunya. Sekali Imam Hasan sedang lewat di pasar Madinah. Seorang Suriah yang melihat gayanya yang anggun, bertanya kepada orang-orang siapakah dia. Ketika diberitahukan kepadanya bahwa ia Hasan putra 'Ali, ia berang lalu mendekati Hasan dan mencercanya. Imam Hasan mendengarnya dengan tenang. Setelah orang itu selesai mencerca, Imam Hasan berkata, "Nampaknya Anda orang asing di sini." Orang itu membenarkannya. Lalu Imam Hasan meneruskan, "Kalau begitu, lebih baik Anda menginap di tempat saya. Apabila Anda memerlukan sesuatu maka saya akan memenuhinya, dan apabila Anda memerlukan Baniuan keuangan maka saya akan memberikannya." Ketika orang itu melihat keramahan dan perilakunya yang luhur sebagai balasan atas kata-kata kasarnya, ia merasa sangat malu, mengakui kesalahannya lalu meminta maaf. Ketika berpisah dengan Imam Hasan, tak ada orang lain yang lebih dihormatinya di muka bumi. (al-Mubarrad, al-Kamil, h. 235; 11, h. 63; an-Nuwairi, Nihayah al-Irab, VI, h. 52; Ibn Thalhah asy-Syafi'i, Mathalib as-Sa'ul, II, h. 11-12; Ibn Syahrasyub, IV, h. 19; al-Majlisi, al-Bihar, XLin, h. 344.)

"Apabila Anda manusia sesungguhnya, berbuat baiklah kepada yang bersalah."

[36] Orang yang mencari kesempumaan dan percaya bahwa ia masih memerlukannya, dapat diharapkan untuk berhasil mencapai tujuan kesempumaannya; tetapi orang yang dikelabui khayalannya bahwa ia telah mencapai puncak kemajuan, tidak akan merasa perlu berusaha mencapainya. Dengan demikian maka orang yang sombong ini tidak akan mencapai kesempumaan, dan kesombongannya akan menyudahi kemungkinan untuk meningkat.

[37] Tidaklah terlalu sulit untuk menjauhkan diri dari dosa pada pertama kalinya. Tetapi setelah terbiasa dengan dosa, seseorang tidak merasa sulit melakukannya; tetapi, sungguh susah untuk melepaskan diri darinya. Karena kebiasaan itu dikukuhkan, kesadaran melemah dan kesulitan muncul menghalangi jalan untuk bertaubat. Menghibur hati dengan jalan mengulur-ulur waktu untuk bertaubat biasanya tanpa hasil. Apabila ada kesulitan untuk menjauhkan dosa pada permulaannya maka pemanjangan masa berbuat dosa akan membuat lebih sulit untuk bertaubat.

[38] Ini peribahasa yang digunakan bilamana seseorang memburu satu keuntungan demikian kerasnya sehingga ia harus menyerahkan keuntungan-keuntungan lain, seperti orang dan melewati beberapa (waktu) makan.

[39] Manusia sering meletakkan kepentingan besar pada ilmu pengetahuan yang diketahuinya, dan mengecilkan apa yang tidak diketahuinya. Karena, bila pengetahuan itu diabaikan, ia dipandang tak pantas mendapatkan perhatian, dan diabaikan, dan hal itu menyakitkannya. Sehubungan dengan ini Plato ditanyai apa sebabnya maka orang yang tak tahu membenci orang yang tahu, tetapi orang yang tahu tidak menaruh dengki atau benci kepada orang yang tidak tahu. Plato menjawab bahwa orang yang tidak tahu menyadari bahwa ia menderita kekurangan, dan berpikir bahwa orang yang tahu tentulah memandang dia rendah karena kekurangan itu, sehingga ia membencinya. Sebaliknya, orang yang tahu tidak akan mempunyai gagasan bahwa orang yang tak tahu akan menganggapnya rendah, dan karena itu tak ada alasan mengapa ia harus membencinya.

[40] Orang yang bangkit demi Allah akan diberi dukungan dan pertolongan. Walaupun ia tidak mempunyai kekuatan dan sarana, kekuatan jahat tak dapat menggoyangkan tekadnya.

[41] Ini berarti bahwa ganjaran penuh dan penghargaan yang baik untuk orang yang berbuat kebajikan akan mendorong pula orang jahat berbuat baik. Ini lebih efektif daripada khotbah tentang akhlak serta peringatan dan celaan. Karena, temperamen manusia cenderung kepada hal-hal bermanfaat bagi dirinya, dan telinganya mendambakan dengungan pujian dan kekaguman.

[42] Kalimat ini dapat ditafsirkan dalam dua cara. Yang satu, apabila Anda menaruh dengki terhadap seseorang maka ia pun akan menaruh dengki kepada Anda. Karena itu maka hancurkanlah kedengkian dalam hatinya dengan menjauhkan kedengkian dari hati Anda. Karena hati Anda adalah petunjuk dari hati orang lain, apabila hati Anda tidak menaruh dengki maka tak akan ada pula dengki tertinggal di hatinya. Itulah sebabnya maka orang mendapatkan kesucian hati seseorang dengan kesucian hatinya sendiri.

Tafsiran kedua, apabila Anda hendak mengenggankan orang lain dari perbuatan buruk maka pertama-tama Anda harus menahan diri Anda sendiri dari keburukan itu. Dengan begini nasihat Anda mungkin akan mujarab bagi orang lain; bila tidak maka nasihat Anda tidak akan efektif.

Ibn Abil Hadid, 'Izzuddin 'Abdul Hamid ibn Hibatullah al-Mu'tazili (586-655 H./l 190-1257 M.) mengatakan,

"Ucapan Amirul Mukminin dalam bentuk prosa dan puisi dimaksudkan bagi Abu Bakar dan 'Umar. Dalam prosanya ia menujukannya kepada 'Umar, karena ketika Abu Bakar meminta kepada 'Umar (pada hari Saqifah), 'Berikan tangan Anda kepada saya agar saya membaiat Anda.' 'Umar menjawab, 'Andalah sahabat Rasulullah SAWW dalam segala keadaan, senang atau susah. Maka berikanlah tangan Anda kepada saya.'

"Ali as berkata (sehubungan dengan klaim 'Umar) bahwa:

'Apabila Anda memberikan argumen mendukung kepantasan Abu Bakar atas dasar kedudukannya sebagai sahabat Nabi dalam setiap keadaan, maka mengapa Anda tidak menyerahkan kekhalifahan kepada orang (yakni Amirul Mukminin) yang bersama seperti dia (Abu Bakar) dalam hal ini, dan yang lebih utama dari dia dengan mempunyai hubungan kekerabatan dengan Nabi?'

"Dalam puisinya, Amirul Mukminin berkata tertuju kepada Abu Bakar, karena ia berhujah dengan kaum Anshar di Saqifah seraya mengatakan, 'Kami (kaum Ouraisy) adalah kerabat Rasulullah dan benih dari mana beliau bersumber, (karena itu kami yang paling pantas menggantikannya).'

"Setelah pembaiatan kepada Abu Bakar (oleh suatu kelompok kecil di Saqifah), ia biasa berhujah dengan kaum Muslim bahwa mereka mesti menerima kekhalifahannya karena hal itu telah diterima oleh ahlul halli wal 'aqd (kelompok yang dapat mengikat dan mengorakkan suatu urusan—yakni orang-orang yang hadir di Saqifah).

"'Ali as berkata (mengenai klaim Abu Bakar) bahwa:

"Mengenai hujah Anda dengan kaum Anshar bahwa Anda adalah dari benih dari mana Nabi bersumber, dan satu dari suku beliau, ada orang lain (yakni Amirul Mukminin sendiri) yang mempunyai hubungan kekerabatan yang paling dekat pada Nabi. Dan mengenai hujah Anda bahwa Anda telah diterima oleh musyawarah para sahabat Nabi (yang Anda maksudkan dengan ahlul halli wal 'aqd), betapa jadinya maka kebanyakan dari para sahabat tidak hadir (pada hari Saqifah) dan tidak membaiat Anda.'" (Syarh Nahjul Balâghah, XVIII, h. 416)

[43] Orang yang mendapatkan pelajaran dan pengalaman dengan membelanjakan uang dan harta, tak pantas menyesali kerugiannya; ia harus menganggap bahwa pengalaman lebih berharga daripada harta, karena harta habis, sedang pengalaman akan melindunginya terhadap bahaya di waktu yang akan datang. Seorang alim yang telah jatuh miskin setelah kaya ditanyai apa yang telah terjadi pada kekayaannya. la menjawab, "Saya telah membeli pengalaman dengan harta itu, dan pengalaman itu temyata lebih berguna daripada kekayaan. Setelah kehilangan semua yang saya punyai, saya tidak merugi."

[44] Artinya, apabila seseorang bertemperamen tidak sabar maka ia harus berusaha berlaku sabar dengan berpura-pura seperti orang sabar, berlawanan dengan temperamennya. Walaupun ia merasa sulit mengalahkan temperamennya, namun hasilnya nanti akan terasa, dan sabar akan menjadi perilaku temperamennya dan kemudian tak perlu lagi berpura-pura, karena kebiasaan akhirnya berkembang berangsur-angsur menjadi watak yang kedua.

[45] Ucapan itu mengenai Imam Mahdi yang merupakan imam terakhir. Dengan kemunculannya, semua negara dan pemerintahan akan beraktur dan suatu gambaran lengkap yang disebutkan dalam ayat itu akan tampil menjadi kenyataan.

"Siapa pun yang mau, dapat memimpin dunia, tetapi pada akhimya kekuasaan akan berada di tangan keturunan 'Ali as."

[46] Ini berarti bahwa sebagaimana orang yang iri hati tak dapat menilai kebaikan dalam diri orang yang dicemburuinya, demikian pula kesombongan tak dapat menerima munculnya kecerdasan atau menonjolnya sifat-sifat baik. Sebagai akibatnya, orang yang sombong tidak mendapatkan sifat-sifat yang dianggap bagus oleh akal manusia.

[47] Setiap orang ada kekurangannya. Apabila seseorang menjauhkan diri dari orang lain karena kesalahan dan kelemahan mereka, kelak ia akan kehilangan semua sahabatnya dan kesepian serta tersisih di dunia yang dengan itu hidupnya akan menjadi pahit dan kecemasannya akan berlipat ganda. Pada saat semacam itu ia harus menyadari bahwa di masyarakat ini ia tak dapat menemukan malaikat yang dengannya ia tak akan mempunyai alasan untuk mengeluh, bahwa ia harus tinggal bersama orang-orang ini dan menjalani kehidupan bersama mereka. Dari itu maka sejauh mungkin ia harus mengabaikan kekurangan mereka dan mengabaikan kesulitan yang disebabkan oleh mereka.

[48] Orang yang sombong dan pemberang tak akan pernah berhasil menyenangkan lingkungannya. Kenalan-kenalannya akan merasa sengsara dan muak terhadapnya. Tetapi, apabila orang berwatak baik dan beriidah manis maka orang akan senang mendekat kepadanya dan bersahabat dengannya. Pada saat perlu mereka akan membutktikan diri sebagai penolong dan pendukungnya, yang dengan itu ia dapat menjadikan hidupnya berhasil.

[49] Apabila seseorang jatuh ke dalam keserakahan dan tamak, ia terlibat dalam kejahatan seperti penyuapan, pencurian, penyelewengan, riba dan lain-lain perbuatan amoral semacam itu; pikirannya terpesona oleh gemerlap hawa nafsu jahat sehingga tak dapat melihat akibat buruk perbuatan jahat itu dan tak dapat mencegah terhadapnya atau membangunkannya dari tidur kelengahannya. Namun, bila ia mempersiapkan diri untuk berpisah dari dunia ini, dan mendapatkan bahwa segala yang dimilikinya adalah semata-mata untuk dunia ini saja, dan bahwa ia tak dapat membawanya bersamanya, pada saat itu matanya akan terbuka.

[50] Apabila seseorang menghiasi dirinya dengan sifat sederhana, maka ia mencegah dirinya dari melakukan perbuatan jahat. Oleh karena itu, maka tak ada keburukan yang dapat dilihat manusia padanya. Sekalipun ada keburukan yang dilakukannya, ia tak melakukannya secara terbuka karena kesederhanaannya, dan manusia tidak melihatnya.

[51] Orang sering merasa cemburu atas kekayaan dan kedudukan orang lain, tetapi tidak terhadap kesehatan dan kekuatan tubuhnya, padahal nikmat inilah yang terbaik. Walaupun demikian, bilamana ia jatuh sakit, ia menyadari nilai dan arti kesehatan. Pada waktu itulah ia menyadari bahwa kesehatanlah justru yang yang sesungguhnya patut diiri. Maksudnya ialah bahwa orang harus memandang kesehatan sebagai yang paling patut diiri, yakni orang harus memandang kesehatan sebagai nikmat yang berailai tinggi dan agar selalu melindungi dan memeliharanya.

[52] Alasan menamakan kebaikan akhlak sebagai sebaik-baik nikmat ialah bahwa sebagaimana nikmat membawa kesenangan, demikian pula seseorang dapat membuat lingkungan menyenangkan dengan merangsang hati orang lain melalui akhlak baik dan dengan demikian berhasil membuka jalan untuk kebahagiaan dan kelapangannya. Dan kepuasan dipandang sebagai modal dan kekayaan karena sebagaimana kepuasan dan harta mengusir keperluan, demikian pula orang yang merasa puas dan bahagia atas kehidupannya terbebas dari mengharapkan belas kasihan orang lain.

"Barangsiapa yang puas dengan apa yang diperolehnya, adalah ia raja dari semua benua dan samudra."

[53] Artinya, apabila musuh bertujuan hendak berperang dan mengambil inisiatif untuk itu, maka orang harus maju menghadapinya. Tetapi orang tak boleh memulai menyerang karena hal itu terang merupakan kesombongan dan melanggar batas, dan barangsiapa berlaku sombong dan melanggar batas akan dilenyapkan secara terhina dan tercampak. Itulah sebabnya maka Amirul Mukminin as selalu memasuki medan pertempuran setelah ditantang musuh; ia tak pernah menantang untuk memulai.

Sekaitan dengan ini, Ibn Abil Hadid berkata,

"Kita tak pernah mendengar Amirul Mukminin as menantang siapa pun untuk bertarung. Bilamana ia ditantang secara khusus, atau musuh melontarkan tantangan umum, barulah ia keluar untuk menemui musuh dan membunuhnya." (Syarh Nahj al-Balâghah, IV, h. 433)

[54] Lebih mudah menanggung penindasan di dunia ini daripada menghadapi hukumannya di hari kemudian; karena, masa menanggung penindasan, walaupun seumur hidup, ada batasnya. Tetapi, hukuman karena penindasan adalah neraka yang berlangsung abadi dan kematian tidak akan menyelamatkan dari hukuman. Itulah sebabnya apabila seorang penindas membunuh seseorang maka dengan pembunuhan itu penindasan itu akan berakhir, dan tak akan ada lagi kesempatan untuk penindasan lebih lanjut terhadap orang itu. Tetapi hukumannya ialah neraka di mana si lalim menanggung hukumannya selama-lamanya.

Pujangga mengatakan:

"Akibat penindasan pada kami telah telah berlalu, tetapi ia akan menetap pada si penindas."

[55] Apabila jawaban atas sebuah pertanyaan diberikan dari semua sisi, setiap jawaban akan menimbulkan suatu pertanyaan baru dan dengan demikian membuka pintu argumentasi. Dan karena jumlah jawaban selanjutnya memerlukan pencarian akan kebenaran yang sesungguhnya, deteksi atas jawaban yang tepat menjadi semakin samar, karena setiap orang akan berusaha agar jawabannya diterima sebagai yang benar. Maka sebagai hasilnya masing-masing akan mengumpul argumen dari sana sini supaya jawabannya diterima sebagai benar. Akibatnya, seluruh masalahnya menjadi kacau dan pokok itu akan berubah menjadi tanpa tujuan karena banyaknya penafsiran.

[56] Pecahnya tekad dan hilangnya keberanian dapat diargumenkan untuk membuktikan adanya Allah. Misalnya, seseorang bertekad melakukan sesuatu tetapi sebelum tekad itu dilaksanakan, tekad itu berubah dan gagasan lain mengambil tempatnya. Perubahan gagasan dan tekad dan munculnya perubahan di dalamnya merupakan bukti bahwa ada suatu kekuatan pengendali yang lebih tinggi di atas kita yang mampu membawanya dari tidak ada menjadi ada, dan dari ada menjadi tidak ada, dan ini berada di luar kekuasaan manusia. Oleh karena itu maka perlulah mengakui adanya kekuasaan yang lebih tinggi yang mempengamhi perubahan tekad.

[57] Sebelum menggambarkan beberapa tujuan dan kebaikan perintah syariat, Amirul Mukminin mulai dengan tujuan keimanan, karena iman merupakan basis penntah agama, dan tanpa iman tak terasa perlunya tatanan dan hukum agama. Iman ialah pengakuan akan adanya Pencipta dan Keesaan-Nya. Bilamana iman ini berakar dalam hati seseorang, maka ia tak akan mau merunduk kepada suatu kekuasaan atau wujud lain, tidak pula ia akan terpesona atau terpana oleh suatu kekuasaan. Karena mentalnya terbebas dari ikatan, ia memandang dirinya sebagai hamba Allah, dan sebagai hasil ketertautan kepada Tauhid, maka ia selamat dari pencemaran syirik.

Salat adalah yang terpenting dari semua bentuk ibadat. Sikap-sikap dalam salat, berdiri, duduk, rukuk, sujud, adalah cara yang efektif untuk menghancurkan kesombongan dan kebanggaan, menghapus tipu-diri dan egoisme serta menciptakan rasa rendah hati dan penyerahan, karena tindakan dan gerakan orang sombong menghasilkan kebanggaan dan takabur sedang tindakan-tindakan merendah melahirkan sifat penyerahan dan kesederhanaan dalamjiwa manusia. Dengan pelaksanaan tindakan ini lambat laun manusia mendapatkan temperamen sederhana. Orang-orang Arab pra-Islam demikian angkuhnya sehingga apabila cambuk mereka jatuh sementara mereka menunggang kuda, misalnya, mereka merasa terhina apabila harus membungkuk untuk memungutnya; apabila tali sepatunya terlepas, mereka merasa terhina untuk membungkuk membenahinya. Setelah masuk Islam, mereka malah menggosokkan dahinya ke debu ketika bersujud dalam salat, dan menaruh dahinya dekat tapak kaki orang lain dalam salat berjamaah. Secara ini mereka mendapatkan ruh Islam yang sesungguhnya setelah meninggalkan keangkuhan jahiliah.

Zakat yang harus dikeluarkan setiap tahun dari harta orang Muslim yang mampu untuk para fakir miskin adalah suatu perintah syariat Islam yang tujuannya agar setiap orang dalam masyarakat jangan terus dalam kesusahan, dan untuk menyelamatkan manusia dari kemungkaran yang timbul karena kemiskinan. Tujuannya yang lain ialah agar kekayaan tidak hanya beredar dari satu orang kepada seorang lainnya dan agar tidak hanya terpusat pada beberapa orang.

Puasa adalah suatu bentuk ibadat yang sama sekali tidak mengandung nilai pamer, dan tak ada motif yang aktif di dalamnya selain niat yang suci. Akibatnya, walaupun dalam keadaan terpencil, bilamana lapar dan haus menggoda manusia, ia tidak akan makan atau minum, walau tak seorang pun melihatnya. Kesadarannya sendiri mencegahnya melanggar puasanya. Inilah kebaikan puasa yang terbesar, melahirkan kehendak suci dalam beramal.

Tujuan Haji ialah agar kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di suatu tempat sehingga pertemuan sedunia ini menjadi suatu kesempatan untuk mewujudkan kebesaran Islam, penyegaran ruh beribadat dan penciptaaan ikatan persaudaraan.

Tujuan Jihad ialah berjuang dengan segala daya dan kemampuan terhadap kekuatan-kekuatan yang menentang Islam, agar Islam dapat mencapai kestabilan dan kemajuan. Walaupun ada ancaman bahaya bagi nyawa dan terdapat kesulitan pada setiap langkah dalam perjuangan ini, namun kabar gembira tentang kesenangan yang kekal dan kehidupan yang abadi membangkitkan keberanian untuk menghadapi segala kesulitan.

Anjuran untuk berbuat baik dan pengengganan berbuat mungkar adalah cara yang efektif untuk menunjukkan kepada orang lain jalan yang benar dan men-cegahnya berbuat salah. Apabila dalam suatu komunitas tak ada orang yang menjalankan kewajiban ini maka tak ada yang dapat menyelamatkannya dari kehancuran dan kejatuhan ke dalam jurang amoral. Itulah sebabnya maka Islam sangat menekankannya dibanding dengan hal-hal lain, dan memandang ketidak-pedulian akan hal itu sebagai dosa besar.

Berbuat baik bagi karib kerabat berarti bahwa orang harus melakukan kebaik-an kepada kerabatnya, setidak-tidak tidaknya saling merugikan sehingga jiwanya selalu bersih dan ikatan kekeluargaan berkembang dan para individu yang ber-serakan dapat saling memberi kekuatan.

Kisas (pembalasan) adalah hak yang diberikan kepada ahli waris orang terbunuh. Mereka dapat menuntut pembalasan nyawa untuk nyawa sehingga takut akan hukuman menyebabkan orang takut membunuh sesama manusia, dan pada saat yang sama nafsu para ahli waris untuk membalas dendam hanya boleh semata-mata terhadap si pembunuhnya. Tak tersangkal bahwa pengampunan atau pemberian maaf mengandung bobot di tempatnya sendiri, tetapi di mana hal itu berarti menginjak-injak hak seseorang atau bahaya bagi perdamaian, hal itu tak dapat dipandang sebagai hal yang baik. Sebaliknya, pada kesempatan semacam itu kisas merupakan satu-satunya jalan untuk menghentikan pertumpahan darah dan pembunuhan semena-mena, deini keamanan hidup manusia. Maka Allah berfirman,

"Dan dalam kisas (gishâsh) itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS. 2:179)

Tujuan di balik menjatuhkan hukuman ialah untuk membuat si pelanggar menilai parahnya pelanggaran terhadap larangan Allah supaya ia menjauh dari larangan karena takut akan hukuman.

Khamar mengacau pikiran, menyelewengkan penginderaan dan melemahkan pernahaman. Sebagai akibatnya, orang melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak akan dilakukannya dalam keadaan sadar. Lagi pula, khamar menghancurkan kesehatan dan membuat tubuh mudah tertulari penyakit. Syariat melarangnya mengingat akibat-akibat buruknya.

Mencuri, mengambil milik seseorang tanpa izin, adalah suatu kebiasaan buruk yang dihasilkan oleh pengaruh keserakahan dan hawa nafsu buruk, dan karena menekan nafsu buruk dari posisi berlebihan sampai ke batas-batas kesederhanaan berarti kesucian, pemantangan dari mencuri dengan jalan memangkas kerakusan dan nafsu buruk akan menghasilkan kesucian.

Perzinaan dan homoseksualitas dilarang agar keturunan menjadi teratur dan umat manusia dapat berlanjut dan sejahtera, karena keturunan melalui penzinaan dipandang tidak sah bagi tujuan silsilah dan sebagai akibatnya anak haram tidak berhak menerima warisan, sementara dalam kasus homoseksual yang tak alami tak akan ada keturunan. Di samping itu, sebagai akibat praktik buruk ini orang mudah ketularan penyakit yang menyebabkan kehancuran hidup selain terputusnya keturunan.

Hukum pembuktian diperlukan karena apabila satu pihak menyangkal, maka pihak lainnya hams dapat mengukuhkannya melalui pembuktian.

Pemantangan dari berbohong dan kepalsuan telah diperintahkan agar kebenaran dapat tegak dan menonjol, dan dalam pelaksanaan kebenaran, maka kejelekan dapat disingkirkan.

Salâm berarti damai dan cinta damai. Jelaslah bahwa sikap damai adalah cara yang efektif untuk beriindung dari bahaya dan pencegahan peperangan dan perseteruan. Pada umumnya para mufasir mengartikan salâm sebagai saling memberi hormat dan mengharapkan kebaikan, tetapi fakta di mana kata itu digunakan dalam serangkaian kewajiban tidak mendukung tafsiran itu. Namun, menurut tafsiran ini, salâm adalah suatu sarana keamanan dari bahaya karena ia dipandang sebagai suatu cara untuk perdamaian dan cinta damai. Bilamana dua orang Muslim bertemu, mereka saling memberi salam; itu berarti bahwa mereka memaklumkan harapan masing-masing bagi kesejahteraan yang lainnya yang sesudahnya orang merasa aman dari pihak lainnya.

Imâmah. Kata ini muncul dalam bentuk yang sama dengan dalam kutipan-kutipan Nahjul Balaghah yang sahih maupun dalam syarah-syarah seperti Syarh Ibn Abil Hadid, XIX, h. 90; Ibn Maitsam, V, h. 367-368; Minhâj al-Barâ'ah, XXI, h. 318; dan sumber-sumber lain di samping Nahjul Balâghah, seperti Nihâyah al-Irab oleh Nuwairi asy-Syafi'i, VIII, h. 183, dan al-Bihâr oleh al-Majlisi, VI, h.111.

Sebenarnya, kata imâmah telah dirusak menjadi amânah atau amanat dalam beberapa salinan seperti yang dicetak di Mesir. Sangat mengejutkan melihat kata ini muncul sebagai amanah dalam teks Nahjul Balâghah dengan syarah dari Ibn Abil Hadid di Mesir pada edisi pertama jilid IV, h. 350, maupun dalam edisi kedua yang disunting oleh Muhammad 'Abul-Fadhl Ibrahim, jilid XIX, h. 86; padahal Ibn Abil Hadid sendiri mendasarkan syarahnya pada teks kata yang sesungguhnya, yakni imdmah sebagaimana para penulis syarah lainnya.

Dalam keterangan kalimat, "Imâmah demi ketertiban umat," sebagaimana kata ulama,

"Barangsiapa telah mengetahui pengalaman-pengalaman gelap dan telah menguji prinsip-prinsip polirik, pastilah mengetahui bahwa bilamana di antara manusia ada seorang kepala dan pemandu yang mereka taati, yang melarang si penindas melakukan penindasan, (melarang) orang lalim melakukan kelaliman, dan membalaskan bagi si tertindas terhadap si penindas, dan dengan itu memimpin mereka kepada prinsip akliah dan kewajiban agamawi serta menahan mereka dari bencana yang menyebabkan kehancuran tata tertib dalam urusan duniawi mereka dan dari keburukan-keburukan yang mengakibatkan kesengsaraan di akhirat, begitu rupa sehingga setiap orang menakuti hukuman itu, maka mereka akan mau mendekati kebaikan dan menjauhi kerusakan." (al-Bâbul-Hadi 'Asyar, terjemahan Inggris, h. 63)

Lembaga imâmah dimaksudkan untuk menaggulangi persatuan umat dan melindungi perintah-perintah Islam dari perubahan, karena apabila tak ada pemimpin umat dan tak ada pelindung agama, maka ketertiban umat tak akan terpelihara dan perintah-perintah Islam tak akan aman dari campur tangan orang lain. Tujuan ini hanya dapat dicapai bilamana ketaatan kepadanya wajib bagi umat, karena apabila ia tidak ditaati dan diikuti sebagai kewajiban maka ia tak akan mampu memelihara keadilan, tak akan kuasa pula mengamankan hak-hak kaum tertindas dari para penindas, tak akan dapat pula menjalankan hukum syariat, dan sebagai akibatnya musnahnya kejahatan dan kekacauan dari dunia tak akan dapat diharapkan.

[58] Diriwayatkan bahwa seseorang mengajukan tuduhan palsu terhadap Imam Ja'far Shadiq di hadapan Khalifah 'Abdullah ibn Muhammad al-Manshur. Karenanya Khalifah menyuruh orang memanggil Imam dan mengatakan kepadanya bahwa si Anu telah menuduhnya mengenai anu. Imam mengatakan bahwa semua tuduhan itu palsu dan sama sekali tidak benar, dan ia meminta supaya orang itu dibawa untuk diperiksa di hadapannya. Orang itu lalu dipanggil dan ditanyai. la mengatakan bahwa segala yang telah dikatakannya adalah benar dan tepat. Imam Ja'far lalu berkata kepadanya, "Apabila Anda berbicara benar maka bersumpahlah secara yang saya minta." Sesudah itu Imam menyuruhnya bersumpah dengan mengatakan, 'Saya berada di luar kekuasaan dan kekuatan Allah'." Segera setelah bersumpah seperti itu, ia langsung menjadi lumpuh, tak bergerak. Imam pulang dengan penuh kehormatan dan kemuliaan. (al-Kulaini, al-Kâfî, VI, h. 445-446; al-Bihâr, XLVII, h. 164-165, 172-175, 203-204; Ibn as-Sabbagh aI-Maliki, al-Fushûl al-Muhimmah, h. 225-226; Ibn Hajar asy-Syafi'i, as-Shawâ'iq al-Muhriqah, h. 120; an-Nabhani asy-Syafi'i, Jâmi' Karâmât al-Auliya', 11, h. 4.)

Peristiwa seperti itu terjadi lagi di zaman khalifah Harun al-Rasyid (149-194 H./766-809 M.; cucu al-Manshur), ketika 'Abdullah ibn Mush'ab (cucu 'Abdullah ibn Zubair, musuh Ahlulbait Nabi yang termasyhur) memfitnah Yahya ibn 'Abdillah ibn Hasan ibn (Imam) Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib di hadapan Harun al-Rasyid dengan mengatakan bahwa ia bersekongkol untuk memberontak terhadap Harun. Lalu Yahya meminta 'Abdullah bersumpah di hadapan Harun secara yang dilakukan Imam ash-Shadiq tersebut di atas. Ketika 'Abdullah bersumpah sebagaimana diminta, gejala penyakit lepra segera muncul padanya di hadapan Hanin dan ia pun meninggal tiga hari kemudian, ketika daging di setiap bagian tubuhnya merekah dan seluruh rambutnya rontok. Sesudah itu Harun biasa mengatakan, "Betapa cepatnya Allah mengambil pembalasan atas 'Abdullah bagi Yahya!" (Abul Faraj al-Ishfahani, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, h. 472-478; al-Mas'udi, Muruj adz-Dzahab, ni, h. 340-342; al-Khathib, Tarikh Baghdad, XIV, h. 110-112; Ibn Abil Hadid, XIX, h. 91-94; Ibn Katsir, at-Tarikh, X, h. 167-168; as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', h.287)

[59] Maksudnya ialah bahwa apabila seseorang menghendaki agar setelah matinya sebagian dari hartanya dibelanjakan sebagai sedekah, ia tak harus menunggu sampai matinya melainkan melaksanakannya menurut yang dikehendakinya selagi ia masih hidup; karena mungkin setelah matinya ahli warisnya tidak melaksanakan wasiatnya atau ia tidak mendapat kesempatan untuk berwasiat.

Suatu kuplet Parsi mengatakan,

"Keluarkanlah uang dan harta Anda selagi Anda hidup, karena sesudahnya Anda tak dapat menguasainya."

[60] Iri hati menimbulkan keracunan di dalam tubuh yang menghancurkan kehangatan badan yang alami; sebagai hasilnya, badan melemah dan rohani melayu. Itulah sebabnya, maka orang yang iri hati tak berbahagia; ia larut dalam panasnya ini.

Ya'sûb adalah nama yang diberikan kepada raja lebah, dan ungkapan Fa idâ kâna dzâlika dharaba ya'sûbud-dîn bi dzanabih. Kata dharaba berarti memukul. Ya'sûbud-dîn berarti kepala urusan agama dan syariat, sedang dzanab berati ekor, akhir, penganut atau pengikut. Dalam kalimat ini, Ya'subûddîn berarti Imam Mahdi, walaupun gelar itu diberikan secara khusus oleh Nabi kepada Amirul Mukminin, sebagaimana sabda beliau:

"Hai 'Ali, Anda adalah ya'sûb (kepala) atas kaum mukmin sementara kekayaan adalah ya'sûb kaum munafik." (al-Isti'ab, IV, h. 1744; Usd al-Ghâbah, V, h. 287; al-Ishâbah, IV, h. 171; ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 155; Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 102; Ibn Abil Hadid, I, h. 12; XIX, h. 224).

Nabi SAWW juga berkata kepada ‘Ali as,

"Anda adalah ya'sûb agama." (ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 177; Tâj al-'Arûs, I, h. 381; Ibn Abil Hadid, I, h. 12; XIX, h. 224)

Nabi juga mengatakan kepada 'Ali,

"Anda adalah ya'sûb kaum Muslim." (al-Qunduzi, Yanâbi' al-Mawaddah, h. 62)

Lagi, Nabi mengatakan,

"Anda adalah ya'sûb orang Quraisy." (as-Sakhawi, al-Maqâshid al-Hasanah h.94)

Karena itu, alasan menamakannya demikian ialah sebagaimana raja lebah adalah mumi lahir batin dan mengumpul makanannya dari kuncup dan bunga dengan menjauhi kecemaran, Imam Zaman bersih dari segala kecemaran dan bersih sepenuhnya. Ucapan ini telah ditafsirkan dalam berbagai cara.

Pertama, ia berarti bahwa "bilamana Imam Zaman (Mahdi) sekarang bermukim di tempat kedudukannya setelah perjalanannya keliling dunia", manusia akan berkumpul di sekelilingnya.

Kedua, berarti "bilamana Imam bergerak berkeliling bumi beserta para sahabat dan temannya". Dalam hal ini, kata dharaba berarti "bergerak keliling" dan kata dzanab berarti "para penolong dan teman".

Ketiga, berarti "bilamana Imam bangkit dengan pedang di tangan". Dalam hal ini kata dzanab berarti sengatan lebah.

Keempat, berarti bahwa "bilamana Imam bangkit untuk berdakwah tentang agama yang benar dengan gairah yang penuh". Dalam hal ini kalimat itu mengandung makna dalam keadaan marah dan sikap menyerang.

[61] Rujukan "pembicara yang subur" ialah kepada Sha'sha'ah ibn Sauhan yang termasuk di antara sahabat utama Amirul Mukminin as. Ucapan ini menyoroti kebesaran mutu berbicaranya dan kekuatan ucapannya. Dalam hubungan ini Ibn Abil Hadid menulis,

"Cukuplah kebesaran Sha'sha'ah sampai pribadi seperti 'Ali memujinya karena kesuburan dan kefasihannya berbicara."

[62] Sa'd ibn Malik (yakni Sa'd ibn Abi Waqqash) dan 'Abdullah ibn 'Umar tennasuk di antara orang-orang yang menjauhkan diri dari memberikan pertolongan dan dukungan kepada Amirul Mukminin as. Setelah terbunuhnya 'Utsman, Sa'd ibn Abi Waqqash mengundurkan diri ke suatu hutan belantara dan melewatkan waktunya di sana; ia tak membaiat Amirul Mukminin as sebagai Khalifah. Tetapi, setelah wafatnya Ainirul Mukminin ia biasa mengucapkan penyesalan dengan mengatakan, "Saya memegang suatu pendapat, tetapi pendapat itu salah." (al-Hakim, al-Mustadrak, III, h. 116); Dan ketika Mu'awiah menyalahkannya karena tidak mendukungnya dalam perjuangannya melawan Amirul Mukminin, Sa'd berkata,

"Saya hanya menyesal karena tidak berjuang melawan kelompok yang durhaka (yakni Mu'awiah dan kaumnya)." (al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur'an, II, h. 224, 225; Ibn Muflih al-Hanbali, al-Furu', 111, h. 542)

Tentang 'Abdullah ibn 'Umar, walaupun ia telah membaiat tetapi ia menolak memBaniu Amirul Mukminin as dalam pertempuran, dengan mengajukan dalih,

"Saya telah mencari penyendirian untuk beribadat dan karena itu tidak hendak melibatkan diri dalam peperangan dan pertempuran."

Seorang penyair Persia mengatakan, "Akal menganggap dalihnya lebih buruk dari pelanggarannya sendiri."

'Abdullah ibn 'Umar juga sering menyatakan penyesalannya, bahkan sampai menjelang akhir hayatnya seraya berkata,

"Saya tidak mendapatkan sesuatu dalam diri saya yang harus disusahkan di dunia ini, kecuali tidak turutnya saya berperang bersama 'Ali ibn Abi Thalib melawan kelompok pendurhaka sebagaimana telah diperintahkan Allah, Yang pada-Nya Kekuasaan dan Kemuliaan, kepada saya." (al-Mustadrak, III, h. 115-116; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, VIII, h. 172; Ibn Sa'd, ath-Thabaqat, bagian I, h. 136, 137; al-Isti'ab, III, h. 953; Usd al-Ghâbah, III, h. 229; IV, h. 33; Majma' az-Zawâ'id, 111, h. 182; VII, h. 242; al-Furu', 111, h. 543; al-Alusi, h al-Ma'âni, XXVI, h. 151)

[63] Maksudnya apabila seseorang memegang suatu jabatan tinggi dalam istana kerajaan, rakyat melihat pangkat dan jabatan serta kehormatan dan prestisenya dengan rasa iri, tetapi ia sendiri selalu takut kalau-kalau kesukaan raja berbalik menentangnya lalu ia jatuh ke lobang kehinaan dan keaiban atau mati dan binasa, seperti penunggang singa yang terhadapnya orang merasa takut dan terpesona tetapi ia sendiri selalu dalam bahaya kalau-kalau singa menerkamnya atau melemparkannya ke dalam lobang maut.

[64] Kaum terpelajar dan pembaru menjadi penyebab perbaikan maupun kerusakan, karena rakyat umum berada di bawah pengaruh mereka dan memandang kata-kata dan tindakannya sebagai yang benar dan baku, mengandalkannya dan bertindak menurutnya. Dengan demikian, maka apabila ajaran mereka baik maka ribuan orang akan mendapatkan perbaikan darinya. Tetapi apabila terdapat ke burukan di dalamnya maka ribuan orang akan tersesat. Itulah sebabnya, maka dikatakan "bilamana seorang ulama masuk ke dalam kejahatan maka seluruh dunia masuk ke dalam kejahatan".

[65] Di antara ketiga khalifah yang pertama, 'Umar ibn Khaththab sering mengandalkan Amirul Mukminin untuk memecahkan banyak masalah yang tak terselesaikan dan dengan demikian ia mengambil manfaat dari pengetahuannya yang luas. Tetapi Abu Bakar, karena masa kekhalifahannya yang singkat, dan 'Utsman, karena situasi kekhalifahannya serta lingkungannya yang khusus, jarang mengambil manfaat dari nasihat Amirul Mukminin. 'Umar biasa memuji pengetahuan Amirul Mukminin yang amat luas.

"Orang yang paling berilmu di antara kita dalam hukum dan penilaian ialah 'Ali." (al-Bukhari, ash-Shahih, VI, h. 23; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, V, h. 113; al-Hakim, al-Mustadrak, fu, h. 305; Ibn Sa'd, ath-Thabaqat, II, bagian ii. h. 102; al-Istî'âb, III, h. 1102)

Sesungguhnya tak perlu bukti lagi bukti 'Umar dan lain-lainnya dalam bidang ini, karena 'Umar sendiri dan suatu kelompok para sahabat mengakui bahwa Nabi biasa mengatakan,

"'Ali adalah yang paling berilmu dalam hukum Islam dan penilaian di antara umatku." (Waki', Akhbâr al-Qudhât, I, h. 78; al-Baghawi, Mashabih as-Sunnah, II, h. 203; al-Isti'ab, I, h. 16-17; m, h. 1102; ar-Riyadh an-Nadhirah, II, h. 108; Ibn Majah, as-Sunan, I, h. 55)

Sehubungan dengan ini, Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dari Abu Hazim bahwa seseorang mendekati Mu'awiah lalu mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan tentang agama. Mu'awiah berkata, "Ajukan pertanyaan itu kepada ‘Ali yang berpengetahuan lebih baik." Orang itu berkata, "Tetapi saya lebih suka akan jawaban Anda ketimbang jawaban ‘Ali." Mu'awiah membungkamnya dengan mengatakan, "Itu hal terburuk yang pernah saya dengar dari Anda. Anda telah mengungkapkan kebencian terhadap orang yang dilatih dan diajari Rasulullah seperti induk burung memberi makan kepada anaknya dengan menyuapkan dengan paruhnya butir denu butir ke dalam mulut si anak burung dan yang kepadanya Rasulullah mengatakan,

'Kedudukan Anda terhadap saya sama dengan kedudukan Harun terhadap Musa, kecuali bahwa sama sekali tak akan ada nabi sesudah saya.'

dan yang kepadanya 'Umar biasa berpaling untuk pemecahan masalah-masalah yang tak terselesaikan." (al-Munawi, (Faidh al-Qadir, III, h. 46; ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 195; as-Sawâ'iq al-Muhrigah, h. 107; Fath al-Bari, XVII, h. 105)

Juga 'Umar mengatakan,

"Perempuan tidak berkemampuan melahirkan orang seperti 'Ali ibn Abi Thalib. Kalau bukan karena 'Ali, 'Umar tentu sudah binasa." (Ibn Qutaibah, Ta'wil Mukhtalafal-Hadits, h. 202; al-Isti'ab, 111, h. 1103; al-MaliqT, Qudhat al-Undulus, h. 73; ar-Riyadh an-Nadhirah, II, h. 194; al-Khwarazmi, al-Manaqib, h. 39; Yandbi' al-Mawaddah, h. 75, 373; Faidh al-Qadîr, IV, h. 356)

la pun sering mengatakan,

"Aku memohon perlindungan Allah dari permasalahan di mana Abu al-Hasan ('Ali) tidak hadir!" (al-Istî'âb, III, h. 1102-1103; ath-Thabaqat, 11, bagian ii, h. 102; Ibn Jauzl, Shifatush-Shafwah, I, h. 121; Usd al-Ghabah, IV, h. 22-23; al-Ishabah, 11, h. 509; Ibn Katsir, at-Tarikh, VII, h. 360)

'Umar sering menyapa Ainirul Mukminin sebagai berikut,

"Ya, Abul-Hasan, saya memohon periindungan Allah dari berada dalam komunitas yang di antaranya Anda tidak terdapat." (al-Mustadrak, I, h. 457-458; Fakhruddin Razi, at-Tafsir, XXXII, h. 10; as-Suyuthi, ad-Dur al-Mantsur, III, h. 144; ar-Riyadh an-Nadhirah, II, h. 197; Faidh al-Qadir, III, h. 46; IV, h. 356; as-Sawa 'iq al-Muhriqah, h. 107)

Di atas semua pengakuan ini ialah pengakuan Nabi SAWW atas Amirul Mukminin sebagaimana diriwayatkan oleh 'Umar ibn Khaththab, Abu Sa'id al-Khudri, dan Mu'adz ibn Jabal bahwa Nabi SAWW bersabda,

"Wahai 'Ali, saya mengatasi Anda dengan kenabian, karena tak akan ada lagi nabi sesudah saya, dan Anda melebihi yang lain-lainnya dalam tujuh keutamaan. Anda adalah: (1) yang pertama beriman kepada Allah, (2) penepat janji yang paling baik, (3) pengikut perintah Allah yang terbaik, (4) pembagi yang paling adil di antara manusia, (5) pelaksana keadilan (atau yang paling bijaksana) terhadap rakyat, (6) yang berwawasan paling mendalam dalam perkara-perkara kontroversial, dan (7) dan paling menonjol dalam kebajikan dan kehormatan di hadapan Allah." (Hilyatul Auliya', I, h. 65, 66; ar-Riyâdh an-Nadhirah, II, 198; al-Khwarazmi, al-Manâgib, h. 61; Kanz al-'Ummâl, XII, h. 205; XV, h. 99; Majma' al-Zawâ'id, IX, h. 101, 114; as-Sirah al-Halabiyyah, I, h. 285)

Juga diriwayatkan oleh Amirul Mukminin, Abu Ayyub al-Anshari, Ma'qil ibn Yasir, dan Buraidah ibn Hushaib, bahwa Rasulullah SAWW berkata kepada Fathimah,

"Tidakkah Anda rela? Sesungguhnya saya telah mengawinkan Anda dengan yang paling terkemuka di antara umat saya yang beriman kepada Islam, dan paling berpengetahuan di antara mereka, dan yang terunggul di antara mereka dalam kebijaksanaan." (Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, V, h. 26; ash-Shan'ani, al-Mushannaf, V, h. 490; al-Isti'ab, III, h. 1099; Usd al-Ghâbah, V, h. 520; Kanz al-'Ummal, XV, h. 205; XV, h. 99; Majma' al-Zawâ'id, IX, h. 101, 114; as-Sîrah al-Halabiyyah, I, h. 285)

Setelah membaca ucapan Nabi SAWW yang berikut ini, kita tidak akan terkejut melihat bahwa pengakuan-pengakuan tersebut di atas tentang luasnya pengetahuan Amirul Mukminin dan keahliannya dalam bidang hukum agama dan pengambilan keputusan.

"Saya adalah kota ilmu dan 'Ali adalah pintunya; barangsiapa hendak mendapatkan ilmu harus melalui pintunya." (al-Mustadrak, III, h. 126, 127; al-Isti'ab, fu, h. 1102; Usd al-Ghabah, IV, h. 22; Tahdzîb at-Tahdzîb, VI, h. 320-321; VII, h. 337; Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 114; Kanz al-'Ummâl, Xn, h. 201, 212; XV, h. 129-130)

[66] Tak tersangkal bahwa sepeninggal Nabi Muhammad SAWW telah terjadi perubahan dalam agama ketika beberapa orang bertindak menurut khayalannya, mengubah perintah-perintah syariat, yakni mengabaikan perintah-perintah Al-Qur'an dan sunah yang jelas, dan menerapkan perintah-perintah yang dihasilkan khayalan dan pikirannya sendiri. Misalnya, Al-Qur'an mempunyai metode perceraian yang jelas ini, "Talak (yang dapat dirujuk) dua kali...." (QS. 2:229) Tetapi melihat bayangan keuntungan, Khalifah 'Umar memerintahkan tiga kali perceraian diucapkan sekaligus. Demikian pula, ia memperkenalkan sistem 'aul dalam warisan dan memperkenalkan empat takbir dalam salat jenazah. Seperti itu pula, Khalifah 'Utsman menambahkan satu azan pada salat Jumat, memerintahkan salat penuh sebagai ganti qashr (diperpendek, dalam perjalanan), dan membolehkan khotbah mendahului salat 'Id. Sebenarnya ratusan perintah semacam itu telah diada-adakan, dan sebagai akibatnya bahkan perintah-perintah yang benar tercampur dengan yang tak benar dan kehilangan keasliannya. (Untuk perubahan-perubahan yang telah dilakukan, lihatlah al-Ghadir karya al-Amini (oleh Abu Bakar), VII, 74-236; (oleh 'Umar), VI, h. 83-325; (oleh 'Utsman), VIII, h. 98-387; an-Nashsh wal-Ijtihad, karya Syarafuddin (oleh Abu Bakar), h. 76-154; (oleh 'Umar), h. 155-276; oleh 'Utsman), h. 284-289. Lihat pula, Muqaddamah Mir'atul-'Uqûl oleh al-'Askari, jilid 1 dan II.

Amirul Mukminin, pakar syariat terbesar, biasa memprotes perintah-perintah itu dan mempunyai pandangan sendiri terhadap para sahabat itu. Sehubungan dengan ini, Ibn Abil Hadid menulis,

"Tak ada kemungkinan bagi kita untuk menyangkal bahwa Amirul Mukminin menganut pandangan-pandangan tentang perintah-perintah syariat dan pendapat-pendapat yang berbeda dengan para sahabat itu." (Syarh Nahjul Balâghah, XIX, h. 161.)

Ketika Amirul Mukminin memegang tugas resmi sebagai khalifah, pemberontakan segera muncul di segala penjuru dan ia tak luput dari kekacauan itu sampai ke saatnya yang terakhir. Karenanya, perintah-perintah yang telah berubah itu tak dapat diperbaiki sepenuhnya dan banyak perintah yang salah atau meragukan berlangsung di daerah-daerah yang jauh dari pusatnya. Walaupun demikian, kelompok orang yang berhubungan dengan Amirul Mukminin biasa menanyainya tentang perintah-perintah syariat dan mencatatnya, yang sebagai hasilnya perintah-perintah yang sebenamya tidak musnah, dan yang batil tidak diterima secara bulat oleh semua.

[67] Ilmu dan keyakinan menuntut pengamalannya. Apabila tidak diamalkan, tak dapat disebut ilmu dan keyakinan. Apabila seseorang mengatakan bahwa ia mengetahui bahaya yang ada di suatu jalan tertentu tetapi ia justru memilih jalan itu ketimbang jalan yang aman maka siapakah yang dapat mengatakan bahwa orang ini yakin sepenuhnya akan bahaya jalan itu, karena dengan keyakinan itu haruslah ia menjauhi jalan itu. Demikian pula, orang beriman akan Hari Kebangkitan atau hukuman dan ganjaran tak dapat dikalahkan oleh hal-hal duniawi yang membuat manusia lalai sehiungga mengabaikan kehidupan yang akan datang, dan tidak pula ia akan tertinggal dalam amal baik, karena takut akan hukuman dan akibat buruknya.

[68] Sayid Radhi tidak menuliskan apa yang tidak terjadi itu, hanya meninggalkan kepada kita penggalan pertama dari kalimat itu.

[69] Orang yang dirujuk Amirul Mukminin as sebagai saudaranya dan diyatakannya sifat-sifatnya itu, menurut sebagian komentator ialah Abu Dzarr al-Ghifari, sebagian menganggap 'Utsman ibn Mazh'un dan sebagian lagi menganggap Miqdad ibn Aswad. Tetapi tak akan keliru jauh bila sama sekali tak ada orang tertentu yang dirujuknya, karena lazim di kalangan orang Arab berbicara tentang seorang saudara atau sejawat padahal tak ada orang tertentu yang dipikirkannya.

[70] Orang tolol menganggap cara dan tindakannya sebagai yang tepat, dan ia menghendaki agar temannya menempuh jalan yang sama dan menjadi seperti dirinya. Ini tidak berarti bahwa ia menghasratkan agar temannya menjadi tolol seperti dia. la tak dapat menghasratkan demikian karena ia tidak menganggap dirinya tolol. Apabila ia memandang dirinya tolol maka ia tidak akan menjadi tolol. la malah memandang caranya bertindak sebagai tepat, dan menghasratkan temannya juga menjadi sama "arif” seperti dia. Itulah sebabnya maka ia mengajukan pandangannya kepadanya dalam bentuk berbumbu dan menghasratkannya berbuat berdasarkan itu. Mungkin temannya terpengaruh oleh nasihatnya dan melangkah di jalan yang sama itu. Oleh karena itu, maka lebih baik menjauh dari dia.

[71] Apabila pasang surut dan perubahan dunia diperhatikan, keadaan dan kondisi manusia diamati dan sejarah mereka dicermati, maka dari setiap sudutnya dapat diperoleh apa yang akan sepenuhnya mampu membangkitkan pikiran dari kelalaian dan ketidurannya, karena semuanya memberikan pelajaran dan membagikan pengetahuan dan pandangan. Penciptaan dan kepunahan segala sesuatu di dunia ini, berkembang dan melayunya bunga, tumbuhnya tumbuhan dan menjadi layu, dan menyerahnya segala sesuatu pada perubahan, merupakan pelajaran-pelajaran yang cukup untuk memupuskan harapan mencapai kekekalan dalam kehidupan duniawi yang mengicuh ini, asal saja kita tidak menutup mata dan telinga terhadapnya.

Seorang pujangga menulis,

"Dunia penuh cerita tentang kaum yang telah pergi, tetapi kecuali orang meminjamkan telinganya untuk itu, seruannya lemah."

[72] Maksudnya ialah bahwa kilat mungkin menyambar seratus ribu kali, badai mungkin datang, bumi mungkin akan gempa dan gunung-gunung bertabrakan, tetapi apabila masa hidup yang pasti masih akan berlanjut, tak ada peristiwa yang akan mematikan, tak ada badai maut yang akan memadamkan nyala kehidupan, karena ada saatnya yang telah ditentukan. Secara ini maut itu sendiri adalah penjaga dan pengawal kehidupan.

Sebuah syair mengatakan,

"Yang dikenal sebagai maut adalah penjaga kehidupan."

· Menurut Sayid Radhi, kata-kata itu diucapkannya di saat Perang Jamal. Aminil Mukminin as mengirim Anas ibn Malik kepada Thalhah dan Zubair dengan tujuan untuk mengingatkan kepada mereka ucapan Nabi yang maksudnya "Kamu berdua akan memerangi 'Ali dan berbuat melampaui batas terhadapnya". Anas kembali dan mengatakan bahwa ia lupa menyebutkannya. Kemudian Amirul Mukminin as mengucapkan kata-kata itu tentangnya. Tetapi yang masyhur ialah bahwa Amirul Mukminin as mengucapkan kalimat itu pada saat ia menghendaki Anas untuk mengukuhkan sabda Nabi, "Bagi barangsiapa yang saya adalah walinya, maka 'Ali adalah walinya. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai 'Ali dan membenci orang yang membenci 'Ali." Sebagai akibatnya, banyak orang membenarkan ucapan Nabi itu, tetapi Anas berdiam diri. Kemudian Amirul Mukminin as berkata kepadanya, "Anda pun hadir di Ghadir Khum. Mengapa maka Anda diam pada saat ini?" la mengatakan, "Saya telah menjadi tua dan ingatan saya tidak melayani saya." Lalu Amirul Mukminin as mengeluarkan kutukan itu. (al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, (mengenai biografi Amirul Mukminin), h. 156-157; Ibn Rustah, al-A'lâq, an-Nausah, h. 221; ats-Tsa'alibi, Lathâ'if al-Ma'ârif, h. 105-106; ar-Raghib, al-Muhddharat al-Udaba', III, h. 293; Ibn Abil Hadid, IV, h. 74; asy-Syaikh 'Ubaidullah al-Hanafi, Arjah al-Mathâlib, h. 578, 579.580).

Dalam hubungan ini, Ibn Qutaibah ('Abdullah ibn Muslim ad-Dinawari (213-276 H./828-889 M.) menulis:

"Telah diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin as menanyakan kepada Anas ibn Malik tentang sabda Nabi, 'Ya Tuhanku, cintailah orang yang mencintai 'Ali dan bencilah orang yang membenci 'Ali,' dan ia menjawab, 'Saya telah menjadi tua dan saya telah melupakannya.' Lalu ‘Ali berkata, "Apabila Anda pembohong, semoga Allah menimpakan kepada Anda belang kulit yang bahkan serban pun tak dapat menutupinya." (Al-Ma'ârif, h. 580)

Ibn Abil Hadid mendukung pendapat ini seraya menolak insiden yang disebutkan Syarif Radhi, dengan mengatakan,

"Insiden yang disebutkan Sayid Radhi bahwa Amirul Mukminin mengutus Anas ibn Malik kepada Thalhah dan Zubair adalah peristiwa yang tak tercatat. Apabila Amirul Mukminin telah mengutusanya khusus untuk mengingatkan mereka akan ucapan Nabi mengenai mereka, maka hampir tak mungkin ia kembali dengan mengatakan bahwa ia telah melupakannya karena sebelum ia meninggalkan Amirul Mukminin untuk menemui kedua orang itu, mestinya ia telah mengaku dan mengingat ucapan itu; mana mungkin pada saat kembalinya setelah satu jam atau sehari lalu ia berhujah bahwa ia telah melupakannya dan menyangkalnya. Ini tak mungkin terjadi." (Syarh Nahjul Balâghah, XIX, h. 217-218)

Makna kata ya'sûb telah diterangkan pada catatan Hikmah No. 262/1, dan telah ditunjukkan bahwa gelar itu diberikan kepada Amirul Mukminin oleh Nabi sendiri, dan telah dikutipkan berbagai ucapan tentang hal itu.

Di sini kami kutipkan satu dari hadis-hadis di mana gelar ini muncul. Diriwayatkan oleh Abu Laila al-Ghiffari, Abu Dzarr, Salman, Ibn 'Abbas, dan Hudzaifah ibn al-Yaman bahwa Nabi SAWW mengatakan,

"Segera setelah saya mati akan ada perselisihan. Bilamana hal itu terjadi, berpeganglah pada 'Ali ibn Abi Thalib karena ia akan menjadi orang pertama yang melihat saya dan orang pertama yang berjabat tangan dengan saya pada Hari Pengadilan. la orang benar yang terbesar (ash-shiddîq al-akbar), dan ia pembeda (fârûq) dari kalangan ummat yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan ia adalah ya'sub (pemimpin) kaum mukmin. sedang kekayaan adalah ya'sûb kaum munafik." (Di samping rujukan yang diberikan pada catatan Hikmah No. 262 tersebut di atas, lihatlah pula Faidh al-Kabir, IV, h. 358; Kanz al-'Ummâl, XII, h. 214; Muttaqi al-Hindi, Muntakhab al-Kanz, V, h. 33; Ibn Abil Hadid, XIII, h. 228; Ibn 'Asakir, Tarikh asy-Syam, (tentang biografi Amirul Mukminin), I, h. 74-78; Nuruddin al-Halabi, as-Sirah al-Halabiyyah, I, h. 380; Muhibuddin ath-Thabari, Dhakhâ'ir al-'Uqbâ, h. 58; al-Qunduzi, Yanâbi' al-Mawaddah, h. 62, 82, 201 dan 251).

[73] Maksud kritik orang Yahudi ini ialah hendak menunjukkan bahwa kenabian Muhammad SAWW adalah masalah kontroversial, tetapi Amirul Mukminin menjelaskan fokus kontroversi yang tepat dengan menggunakan kata "sesudah beliau" sebagai lawan "terhadap beliau", yakni bahwa kontroversi itu bukan tentang kenabiannya melainkan tentang suksesi dan kekhalifahan. Kemudian, dalam memberi komentar tentang kedudukan orang Yahudi ia menunjukkan bahwa orang-orang yang sekarang sedang mengritik perselisihan sesama Muslim sepeninggal Nabi adalah sejenis dengan orang-orang yang mulai goyang keimanannya kepada Keeasaan Allah bahkan di masa hidup Nabi Musa as. Setelah terbebas dari perbudakan oleh orang Mesir, ketika mereka sampai ke sisi lain sungai dan melihat patung anak sapi di kuil Sina', mereka meminta kepada Musa untuk mendapatkan patung seperti itu bagi mereka. Milsa mencela mereka karena tetap berkepala batu sebagaimana ketika masih di Mesir. Ini menunjukkan suatu kaum yang tenggelam denukian jauh dalam hasrat penyembahan berhala sehingga bahkan setelah dimasukkan ke dalam keimanan pada Allah Yang Maha Esa masih menjadi resah melihat berhala dan memohon dibuatkan berhala serupa, dan karena itu, tak ada hak mereka untuk mengecam suatu perselisihan di kalangan Muslim.

0rang yang terpesona ketakutan oleh lawannya pastilah akan dikalahkan, karena dalam menghadapi lawan keperkasaan jasmani tidaklah cukup, tetapi ketabahan hati dan teguhnya keberanian juga diperlukan. Bilamana lawan kehilangan semangat dan merasa yakin bahwa ia akan kalah maka pastilah ia kalah. Ini yang terjadi pada lawan Amirul Mukminin; ia sangat terpengaruh oleh reputasi besamya sehingga yakin akan kematiannya, dan sebagai akibatnya kekuatan rohani dan kepercayaan dirinya hilang hingga keadaan mentalnya itu menyeretnya kepada kematian.

[74] 'Abdullah ibn 'Abbas menasihati Amirul Mukminin as untuk mengeluarkan sepucuk surat mengenai pengangkatan Thalhah dan Zubair sebagai Gubemur Kufah dan Bashrah, dan membiarkan Mu'awiah sebagai Gubemur Suriah hingga suatu saat ketika kedudukannya telah mapan dan pemerintahannya beroleh kekuatan. Sebagai jawabannya Anurul Mukmiiun as berkata bahwa ia tak dapat membiarkan agamanya dalam bahaya demi keuntungan duniawi, seraya menambahkan bahwa "karena itu, sebagai ganti mendesakkan pandangan Anda, Anda harus mendengar saya dan mengikuti saya".

[75] Di tahun 38 H. Mu'awiah mengutus 'Ainr ibn 'Ash ke Mesir dengan pasukan besar. 'Amr ibn 'Ash memanggil Mu'awiah ibn Hudaij untuk memBaniunya. Mereka membawa para pendukung 'Utsman lalu melancarkan peperangan terhadap Muhammad ibn Abu Bakar dan menawannya. Mu'awiah ibn Hudaij memenggal kepalanya dan memasukkan tubuhnya ke dalam perut seekor keledai mati lalu membakarnya. Pada saat itu Muhammad ibn Abu Bakar berusia 28 tahun. Dilaporkan bahwa ketika kabar tragedi itu sampai kepada ibunya, ia menjadi sangat berang. Dan 'A'isyah, saudara seayahnya, bersumpah bahwa selama hidupnya ia tak akan pernah memakan daging bakar. la mengutuk Mu'awiah ibn Sufyan, 'Amr ibn 'Ash dan Mu'awiah ibn Hudaij setiap usai salat.

Ketika Ainirul Mukminin as mendengar kabar tentang syahidnya Muhammad, la sangat sedih. la menulis dalam setiap kata sedih kepada Ibn 'Abbas yang di Bashrah tentang kematian tragis Muhammad ibn Abu Bakar.

Mendengar kabar syahidnya Muhammad, Ibn 'Abbas datang dari Bashrah ke Kufah untuk mengucapkan belasungkawa kepada Amirul Mukminin.

Salah seorang mata-mata Amirul Mukminin yang datang dari Suriah mengatakan,

"Ya Amirul Mukminin! Ketika berita tentang pembunuhan Muhammad sampai kepada Mu'awiah, ia naik ke mimbar seraya memuji kelompok orang yang ikut serta dalam pembunuhannya. Rakyat Suriah sangat bergembira ria ketika mendengar kabar itu, dan saya belum pernah melihat mereka segembira itu sebelumnya."

Kemudian Amirul Mukminin mengucapkan kata-kata berikut. la selanjutnya mengatakan bahwa walaupun anak tihnya, ia adalah seperti anaknya sendiri. (ath-Thabari, I, h. 3400-3414; Ibn al-Atsir, fu, h. 352-359; Ibn Katsir, VII, h. 313-317; Abul Fida', I, h. 179; ibn Abil Hadid, VI, h. 82-100; Ibn Khaldun, 11, bagian ii, h. 181-182; al-Istî'âb, III, h. 1366-1367; al-Ishâbah, III, h. 472-473; ats-Tsaqafi, al-Ghârât, I, h. 276-322; Tarikh al-Khamis, 11, h. 238-239)

Riwayat hidup Muhammad ibn Abu Bakar telah kami tuliskan pada catatan kaki Khotbah No. 67.

[76] Maknanya ialah bahwa kewajiban harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tak perlu lagi mengajukan alasan, karena bagaimanapun dalam mengajukan alasan ada sekilas kekurangan dan kerendahan, walaupun alasan itu benar dan tepat.

[77] Ada beberapa tingkat penolakan nikmat dan sikap tak syukur. Yang pertama ialah seseorang mungkin tak mampu menilai arti nikmat yang sesungguhnya, misalnya penglihatan mata, kemampuan lidah berkata-kata, kemampuan telinga untuk mendengar, dan gerakan tangan dan kaki. Ini semua nikmat yang dikaruniakan Allah, tetapi banyak orang yang tidak menyadarinya sebagai nikmat dan karenanya tidak merasa syukur atasnya. Tingkat yang kedua ialah seseorang melihat suatu nikmat dan menghargainya tetapi tidak merasa syukur atasnya. Tingkat yang ketiga ialah orang yang menentang Yang Maha Pemberi nikmat itu. Tingkat keempat ialah, ketimbang memanfaatkan nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya, ia menggunakannya untuk berbuat dosa kepada-Nya. Ini tingkat tertinggi penyangkalan nikmat.

[78] Apabila bintang seseorang sedang mujur dan posisinya beruntung, langkah-langkahnya dengan sendirinya maju ke tujuan yang dimaksudkannya, dan pikiran tidak menghadapi kebingungan dalam menentukan jalan pendekatan yang tepat. Tetapi, orang yang keberuntungannya sedang menyurut bahkan terantuk di siang terang dan kemampuan pikirannya melumpuh. Misalnya, ketika kejatuhan keluarga Barmaki mulai terjadi, sepuluh orang dari kalangan mereka berkumpul untuk bermusyawarah tentang suatu hal tetapi tak dapat mengambil keputusan bahkan setelah pembahasan panjang. Melihat ini, Yahya Barmaki berkata, "Demi Allah, itu adalah pelopor dari kemerosotan kita dan suatu tanda kejatuhan kita sehingga bahkan sepuluh orang dari kita tidak mampu menyelesaikan suatu hal, sedangkan di saat kita sedang menanjak seorang dari kita biasa menyelesaikan sepuluh masalah dengan mudah.

[79] Hasil dari kekurangan mawas diri dan perhatian dalam hal dosa kecil ialah bahwa orang menjadi kurang hati-hati dalam urusan dosa dan lama kelamaan kebiasaan ini menimbulkan keberanian untuk berbuat dosa besar. Lalu ia mulai melakukan dosa-dosa besar tanpa keberatan. Oleh karena itu, maka orang harus memandang dosa kecil sebagai pelopor dosa besar dan menjauhinya sehingga tidak melakukan dosa besar.

[80] Cacat apa yang lebih buruk ketimbang mengritik cacat-cacat itu pada diri orang lain padahal cacat itu ada pada dirinya. Keadilan menuntut bahwa sebelum melemparkan pandangan pada cacat orang lain, orang harus melihat cacatnya sendiri dan menyadari bahwa cacat adalah cacat, baik pada orang lain maupun pada diri sendiri.

Seorang pujangga menulis,

"Melihat cacat orang lain tidaklah pantas dan tidak pula satria. Lebih baik melihat diri, karena Anda penuh dengan cacat."

[81] Apabila Allah memandang patut untuk membiarkan seseorang hidup sementara ia terkurung dalam rumah yang tertutup maka tentulah la mampu memberikan sarana kehidupan kepadanya, dan sebagaimana pintu yang tertutup tak dapat mencegah maut, demikian pula ia tak dapat mencegah masuknya rezeki, karena Kekuasaan Allah pun sama mampu untuk itu.

Maksudnya ialah manusia harus puas dalam hal rezekinya karena apa pun yang telah ditentukan baginya akan sampai kepadanya di mana pun ia berada.

Pujangga mengatakan,

"Rezeki, seperti kematian, akan mencapai seseorang sekalipun pintunya ditutup, tetapi keserakahan mencemaskan manusia."

[82] “Fa`l” berarti pertanda baik, sedang “Thiyaroh” berarti pertanda buruk. Dari sisi pandang syariat, mengambil pertanda buruk dari sesuatu tidaklah berdasar, dan hanyalah produk salah tingkah.

Namun, mengambil pertanda baik tidak dilarang. Misalnya, setelah hijrahnya Nabi, orang Quraisy mengumumkan bahwa barangsiapa yang melaporkan di mana Nabi berada akan dihadiahi seratus unta. Atasnya Abu Buraidah al-Aslami berangkat mencarinya dengan membawa tujuh puluh orang. Ketika mereka semua bertemu di suatu tempat perhentian, Nabi bertanya kepadanya siapa dia, dan ia menjawab bahwa ia adalah Buraidah ibn Hubaib. Ketika mendengar itu, Nabi berkata, "Barada amruna wa shalaha" (akibat kita akan sehat). Kemudian beliau bertanya dari suku mana dia. Ketika dijawab bahwa ia dari suku Aslam, Nabi berkata, "Salimna," (kita selamat). Lalu beliau bertanya dari anak suku mana dia, dan dia menjawab dari Bani Sahm, Nabi berkata, "Kharaja sahmuka," (Panah Anda tidak mengenai sasaran). Buraidah sangat terkesan oleh percakapan yang menyenangkannya itu lalu bertanya kepada Nabi siapakah beliau. Nabi menjawab, "Muhammad ibn 'Abdullah." Ketika mendengarnya, ia langsung berteriak, "Saya bersaksi bahwa Anda Nabi Allah," dan dengan meninggalkan janji hadiah yang telah dimaklumkan oleh kaum Quraisy, ia beroleh kekayaan iman. (al-Isti'ab, I, h. 185-186; Usd al-Ghâbah, I, h. 175-176)

[83] Yang dimaksud Amirul Mukminin as ialah bahwa manusia tidak mempunyai kedudukan majikan atas sesuatu secara tetap, melainkan pemilikan sebagaimana yang ditentukan Allah. Selama pemilikan ini berlangsung, kewajiban syariat atasnya juga berlangsung, sedang bilamana pemilikan itu diambil, kewajiban itu pun terangkat. Karena, dalam hal terakhir itu pemberian kewajiban berarti menempatkan tanggung jawab melampaui kapasitas, yang tak dapat diizinkan oleh kebijaksanaan. Itulah sebabnya maka Allah menempatkan tanggung jawab untuk melaksanakan berbagai perbuatan setelah memberikan tenaga yang diperlukan pada anggota tubuh. Dari itu, tanggung jawab itu hanya akan ada selama tenaga itu ada, dan bahwa pada saat menghilangnya tenaga untuk bertindak maka tanggung jawab untuk beramal akan hilang pula. Misalnya, kewajiban membayar zakat hanya berlaku bilamana ada harta. Tetapi, bilamana Allah mengambil kekayaan itu, la membebaskannya dari membayar zakat; bila tidak demikian maka pemberian kewajiban itu tak bijaksana.

[84] Apabila perasaan dan kesadaran manusia hidup, sekadar ingatan akan suatu dosa pun menghancurkan kedamaian jiwa, karena ketenteraman dan kebahagiaan hanya tercapai bilamana rohani bebas dari beban dosa, dan tidak dicemari kedurhakaan. Dan kebahagiaan yang sesungguhnya ini tidak terikat oleh waktu; pada hari mana pun, bila orang berhasrat, ia dapat menjauhi kejahatan dan menikmati kebahagiaan ini, dan kebahagiaan ini sendiri akan menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya dan pertanda dari 'Id.

Sebuah penggalan syair mengatakan,

"Setiap malam adalah Malam Agung yang disediakan Allah asalkan Anda menghargai nilainya."

[85] Walaupun berusaha sepanjang hidupnya, orang tidak selalu mencapai keberhasilan hidup. Apabila pada beberapa kesempatan ia berhasil akibat usahanya, pada banyak kesempatan lainnya ia harus menghadapi kekalahan dan menyerahkan keberatannya dengan mengakui kekalahan di hadapan nasib. Sedikit pemikiran dapat mengantar kepada kesimpulan bahwa bilamana hal-hal duniawi ini tidak dapat dicapai walaupun telah berusaha dan mencari, betapa keberhasilan di dunia akhirat dapat dicapai tanpa usaha dan pencarian.

Suatu syair mengatakan,

"Anda berusaha mengejar dunia tetapi tidak mencapai tujuan. Ya Allah, akan bagaimana hasilnya bilamana kebaikan akhirat bahkan tidak dicari."

[86] Sifat yang baik atau buruk yang terdapat pada seseorang bersumber dari temperamennya yang alami. Apabila temperamen itu menghasilkan satu sifat, sifat-sifatnya yang lain akan dekat pada sifat itu, karena dikte temperamen akan sama efektif pula. Jadi, apabila seseorang membayar zakat dan khumus, itu berarti bahwa temperamennya tidak kikir. Karena itu diharapkan bahwa ia tidak akan kikir dalam hal-hal kedermawanan lain pula. Seperti itu pula, apabila seseorang berbicara bohong, dapatlah diharapkan bahwa ia tenggelam dalam menggunjing pula, karena kedua kebiasaan ini serupa.

[87] 'Abdullah ibn az-Zubair ibn al-'Awwam (1-73 H./622-692 M.) beribukan Asma', saudara 'A'isyah binti Abi Bakar. la tumbuh dengan kebencian kepada Bani Hasyim, istimewa kepada Amirul Mukminin. la bahkan mampu mengubah pandangan ayahnya, Zubair, terhadap Amirul Mukminin, yang adalah putra bibik Zubair. Itulah sebabnya Amirul Mukminin mengatakan,

"Zubair (dahulunya) selalu bersama kami, sampai putranya yang durhaka 'Abdullah menjadi besar." (al-Isti'ab, III, h. 906; Usd al-Ghâbah, III, h. 162-163; Ibn 'Asakir, VII, h. 363; Ibn Abil Hadid, 11, h. 167; IV, h. 79; XX, h. 104)

'Abdullah adalah salah seorang penghasut Perang Jamal. Bibinya, 'A'isyah, ayahnya Zubair dan putra bibinya Thalhah, berperang melawan Amirul Mukminin.

Maka Ibn Abil Hadid menulis,

"'Abdullah-lah yang mendesak Zubair berperang (dalam Perang Jamal), dan serangannyanya ke Bashrah menarik hati 'A'isyah." (Syarh Nahjul Balâghah, IV, h. 79).

"'A'isyah mencintai kemanakannya 'Abdullah seakan ia anak tunggalnya, dan di masa itu tak ada orang yang lebih dicintainya." (Abul Faraj, al-Aghânî, IX, h. 142; Ibn Abil Hadid, XX, h. 120; Ibn Katsir, VIII, h. 336)

Ibn Hisyam ibn 'Urwah mengatakan,

"Saya tak pernah mendengar dia ('A'isyah) berdoa bagi seseorang sebagaimana ia biasa berdoa baginya ('Abdullah). la memberikan sepuluh ribu dirham (sebagai hadiah) kepada orang yang memberitahukan kepadanya tentang selamatnya 'Abdullah dari terbunuh (oleh al-Asytar, dalam Perang Jamal), dan bersujud syukur kepada Allah atas keselamatannya." (Ibn 'Asakir, VII, h. 400, 402; Ibn Abil Hadid, XX, h. 111)

Itulah sebabnya pengaruh dan kekuasaan 'Abdullah atas 'A'isyah. lalah yang mengarahkan dan memandunya ke arah yang disukainya sendiri. Namun, kebencian 'Abdullah terhadap Bani Hasyim telah mencapai puncak. Menurut sekelompok sejarawan,

"Di masa kekhalifahannya ('Abdullah) di Makkah, ia tak membaca salawat kepada Nabi pada khotbah jum'ahnya selama empat puluh Jum'ah. la biasa mengatakan, 'Tak ada yang mencegah saya menyebut nama Nabi kecuali bahwa ada orang-orang tertentu (yakni Bani Hasyim) yang menjadi bangga (apabila nama beliau disebut).

Dalam suatu versi lain,

"Tak ada yang mencegah ... kecuali bahwa Nabi mempunyai suatu keluarga yang buruk yang akan menggoyangkan kepala mereka pada sebutan nama beliau." (Maqâtil ath-Thâlibiyîn, h. 474; Murûj adz-Dzahab, III, h. 79; al-Ya'qubi, at-Târîkh, II, h. 261; al-'lqd al-Farîd, IV, h. 413; Ibn Abil Hadid, IV, h. 62; XX, h. 148)

'Abdullah ibn Zubair berkata kepada 'Abdullah ibn 'Abbas,

"Saya telah menyimpan kebencian saya kepada Anda, kaum keluarga ini (yakni keluarga Nabi), selama empat puluh tahun terakhir." (Mas'udi, III, h. 80; Ibn Abil Hadid, IV, h. 62; XX, h. 148)

la juga membenci Amirul Mukminin secara khusus, mencemarkan nama baiknya, mencerca dan mengutuknya. (Ya'qubt, 11, h. 261-262; Mas'udi, III, h. 80; Ibn Abil Hadid, IV, h. 62; XX, h. 148)

la mengumpulkan Muhammad ibn Hanafiah, 'Abdullah ibn 'Abbas dan tujuh belas orang Bam Hasyim lainnya, termasuk Hasan dan Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib, dan memenjarakan mereka di syi'b (ngarai sempit di perbukitan) bemama 'Arim. Untuk membakar mereka, ia menumpuk kayu di mulut syi'b itu. Sementara itu Mukhtar ibn Abi 'Ubaid ats-Tsaqafi mengirim empat ribu tentara ke Makkah lalu menyerang 'Abdullah ibn Zubair secara mendadak dan menyelamatkan orang-orang Bani Hasyim itu. Dalam membela perbuatan saudaranya, 'Urwah ibn Zubair memberikan dalih bahwa tindakan 'Abdullah itu adalah akibat penolakan Banl Hasyim untuk membaiatnya, sebagaimana tindakan 'Umar ibn Khatthab kepada Bani Hasyim ketika mereka berkumpul di rumah Fathimah dan menolak membaiat Abu Bakar. Waktu itu 'Umar membawa kayu dan bermaksud membakar rumah mereka. (Maqâtil ath-Thalibiyîn, h. 474; Mas'udi, III, h. 76-77; Ya'qubt, 11, h. 261; Ibn Abil Hadid, XIX, h. 91; XX, h. 123-126, 146-148; Ibn 'Asakir, VII, h. 408; al-'lqd al-Farîd, IV, h. 413; Ibn Sa'd, V, h. 73-81; ath-Thabari, II, h. 693-695; Ibn Atsir, IV, h. 249-54; Ibn Khaldun, III, h. 26-28)

Sehubungan ini Abul Faraj al-Ishfahani menulis,

'Abdullah ibn Zubair selalu menghasut orang menentang Bani Hasyim dan menyemangati mereka dengan setiap cara yang terburuk; ia merangsang (orang) menentang mereka dan berbicara menentang mereka di mimbar (mesjid) dan menentang mereka. Pada suatu hari 'Abdullah ibn 'Abbas atau seseorang lain dari mereka (Bani Hasyim) mengajukan keberatan atasnya. Tetapi ia mengubah caranya dengan memenjarakan Ibn Hanafiah di syi'b 'Arim. Kemudian ia mengumpulkan para anggota Bam Hasyim lainnya yang ada di Makkah bersama Muhammad ibn Hanafiah dalam suatu penjara dan memngumpulkan kayu untuk membakamya. Ini disebabkan karena berita yang sampai kepadanya bahwa Abu 'Abdillah al-Jadali dan para pengikut Ibn al-Hanafiah lainnya telah tiba (di Makkah) untuk mendukung Ibn al-Hanafiah dan memerangi 'Abdullah ibn Zubair. Karena itu ia bergegas untuk menghabiskan para tawanan itu. Tetapi, ketika kabar itu sampai kepada Abu 'Abdillah al-Jadali, ia datang ke sana saat api telah dinyalakan untuk membakar mereka, lalu ia memadamkan api itu dan menyelamatkan mereka."

Semua ini membuktikan kebenaran kata-kata Amirul Mukminin tentang dia.

[88] Apabila seseorang merenungkan keadaan asalnya dan kondisi tubuhnya yang akan rusak dan hancur, ia akan terpaksa mengakui kehampaan dan kerendahannya ketimbang merasa bangga dan sombong. la akan melihat bahwa dirinya berasal dari setetes mani yang kemudian berbentuk segumpal daging dalam rahim ibunya, makan dan tumbuh dalam darah. Ketika tubuhnya berbentuk sempuma ia lahir dalam keadaan tak berdaya, tak mampu menguasai lapar dan hausnya, sakit atau sehatnya, tak mampu menguasai kebaikan atau keburukan bagi dirinya, tak kuasa atas hidup dan mati. la tak tahu kapan tenaga anggota tubuhnya akan habis, perasaan dan inderanya akan pergi, pandangannya akan dicabut, pendengarannya akan direnggut, dan kapan maut akan memisahkan ruh dari tubuhnya dan meninggalkan tubuh tercerai berai di makan serangga dan ulat.

Sebuah kuplet Arab mengatakan,

"Betapa orang yang asalnya mani dan akhirnya bangkai akan berani bersombong!"

Ini berarti bahwa perbandingan dapat dibuat di antara para penyair apabila imajinasi mereka berkisar pada bidang yang sama; tetapi bila ungkapan seseorang berbeda dengan yang lainnya, dan gaya yang satu berbeda dengan gaya yang lainnya maka sukar untuk mengatakan siapa yang terbaik. Akibatnya, dari berbagai pertimbangan, yang satu lebih disukai dari yang lainnya; yang satu dianggap lebih besar dari suatu pertimbangan, yang lainnya lebih besar atas pertimbangan lain, sebagai kata peribahasa.

"Pujangga Arab yang terbesar adalah Imri'il-Qais apabila ia menunggang; al-A'sya bila ia menghasratkan sesuatu, dan an-Nabighah bila ia takut."

Bagaimanapun juga, walau menurut kategori ini Imri'il-Qais dipandang berkedudukan tinggi di kalangan penyair era pertama karena keindahan imajinasinya, kehebatan penggambarannya, perumpamaan-perumpamaannyayang tak tertirukan serta metaforanya yang langka, banyak bait syaimya di bawah standar akhlak dan berbicara tentang hal-hal yang kurang senonoh. Tetapi, walaupun adanya kejorokan itu, kebesaran seninya tak tersangkal, karena seorang seniman melihat hasil sastra dari sisi pandang seni dengan mengabaikan faktor-faktor lain yang tak berkaitan dengan kesenian.

Ramalan tentang kemunduran dan keruntuhan Bani Umayyah ini terbukti kemudian, kata demi kata. Kekuasaan yang dibangun oleh Mu'awiah ibn Abi Sufyan dan berakhir dengan Marwan ibn Muhammad al-Himar di tahun 132 H. setelah berlangsung selama 90 tahun, 11 bulan dan 13 hari.

Masa Bani Umayyah tak ada taranya dalam penindasan, kekasaran dan despotisme. Para penguasa despotik di masa itu melakukan kelaliman yang menodai Islam, menghitamkan halaman-halaman sejarah dan melukai ruh kemanusiaan. Mereka mengikuti segala jenis kehancuran dan perusakan hanya untuk mempertahankan kekuasaannya sendiri. Mereka membawa tentara ke Makkah, membombardir Ka'bah dengan peluruh api, menjadikan Madinah mangsa hawa nafsu hewaninya, dan menumpahkan sungai darah kaum Muslim. Pada akhirnya, penumpahan darah dan kelaliman itu menimbulkan pemberontakan dan persekongkolan dari segala penjuru, dan pergolakan di antara sesama mereka sendiri membukajalan bagi kejatuhannya. Walaupun keresahan politik telah masuk ke dalam kalangan mereka sebelumnya, namun pergolakan secara terbuka mulai terjadi di masa al-Walid ibn Yazid. Di sisi lain, Bani 'Abbas (kaum 'Abbasiah) juga mulai bersiap dan di masa Marwan al-Himar mereka memulai suatu gerakan bemama "al-Khilâfah al-Ilahiyyah" (Kekhalifahan Allah). Untuk keberhasilan gerakan ini mereka mendapatkan seorang tokoh militer Abu Muslim al-Khurasani yang di samping berpengetahuan politik tentang situasi juga ahli dalam seni perang. Dengan menjadikan Khurasan sebagai basis, ia menyebarkan jaringan ke seluruh kaum Umayyah dan berhasil mengantarkan Bani 'Abbas ke atas kekuasaan.

Pada mulanya orang ini sangat tak dikenal, dan karena tak terkenalnya dan kedudukannya yang rendah, maka Amirul Mukminin menyerupakan dia dan sekutu-sekutunya dengan rubah, penyerupaan yang digunakan bagi orang yang rendah dan sederhana.

[89] Pada umumnya pembelian dilakukan pada orang yang tak berdaya dengan memanfaatkan keperluan dan kesusahan orang itu, dengan harga rendah dan menjual kepada mereka dengan harga tinggi. Agama maupun moral dan etika tidak membenarkan pengambilan keuntungan dari kesusahan orang semacam itu.

Nabi SAWW biasa menyemangati dan memerintahkan kepada umat untuk mencintal Amirul Mukminin dan melarang mereka memendam rasa benci kepada-nya. Lagi pula, Nabi memandang cinta kepada Amirul Mukminin sebagai tanda keimanan, dan kebencian kepadanya sebagai tanda kemunafikan (sebagaimana telah disebutkan pada Catatan Hikmah No. 45).

Berikut ini kami kutipkan hadis-hadis Nabi sehubungan dengan pokok itu. Telah diriwayatkan melalui empat belas orang sahabat bahwa Nabi SAWW bersabda,

"Barangsiapa mencintai ‘Ali, sesungguhnya ia mencintai saya; dan barangsiapa mencintai saya, seungguhnya ia mencintai Allah; dan barangsiapa mencintai Allah, maka la akan memasukkannya ke dalam surga.

"Barangsiapa membenci ‘Ali, sesungguhnya ia membenci saya; dan barangsiapa membenci saya, sesungguhnya ia membenci Allah; dan barangsiapa membenci Allah, maka la akan memasukkannya ke neraka.

"Barangsiapa menyakiti ‘Ali, sesungguhnya ia menyakiti saya; dan barangsiapa menyakiti saya, sesungguhnya ia menyakiti Allah; Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan (QS. 33:57)." (al-Mustadrak, III, h. 127-128, 130; Hilyah al-Auliyâ', I, h. 66-67; al-Isti'ab, III, h. 1101; Usd al-Ghâbah, IV, h. 383; al-Ishâbah, III, h. 496-497; Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 108-109, h. 128, 131, 132, 133; Kanz al-Ummâl, Xn, h. 202, 209, 218-219; XV, h. 95-96; XVII, h. 70; ar-Riyâdh an-Nadhirah, II, h. 166, 167, 209, 214; Ibn Maghazili, al-Manâqib, h. 103, 196,382)

Sementara itu, Nabi sering mengingatkan umat supaya tidak berlebihan sampai melewati batas Islam dalam mencintai Amirul Mukminin. Orang yang mencintainya sampai melewati batas dinamakan ghali, yakni orang yang mempercayai bahwa Nabi SAWW atau Amirul Mukminin ('Ali) atau para imam Syi'ah sebagai tuhan, atau memberikan atribut kepada mereka dengan sifat-sifat khusus Allah, atau mempercayai bahwa kedua belas imam adalah para nabi, atau membuat suatu klaim yang tidak diakui oleh Nabi dan para imam.

Sebaliknya, Nabi pun melarang setiap pelanggaran terhadap para imam; dan beliau menyalahkan orang-orang yang memfitnah mereka maupun yang membenci dan menaruh dengki pada mereka.

Karena itulah, maka kadang-kadang Nabi menahan diri dari menyebutkan keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin sebagaimana diriwayatkan Jabir ibn 'Abdullah al-Anshari,

"Ketika Amirul Mukminin mendatangi Nabi dengan berita tentang penaklukan Khaibar olehnya (Amirul Mukminin) sendiri, Nabi berkata kepadanya, 'Hai ‘Ali, kalau bukan karena beberapa kelompok ummah mungkin berkata tentang Anda apa yang dikatakan orang Kristen tentang 'Isa putra Maryam, maka saya akan sudah mengatakan (sesuatu) tentang Anda sehingga Anda tidak akan lewat di hadapan seorang Muslim melainkan ia akan memegang debu dari jejak kaki Anda dengan meminta berkat darinya. Tetapi cukuplah dikatakan bahwa Anda memegang kedudukan yang sama sehubungan dengan saya sebagaimana kedudukan Harun sehubungan dengan Musa, kecuali bahwa sama sekali tak ada nabi sesudah saya." (Majma' az-Zawa 'id, IX, h. 131; Ibn Abil Hadid, V, 4; IX, h. 168; XVIII, h. 282; Ibn al-Maghazili, Manâqib 'Ali ibn Abi Thalib, h. 237-239; al-Kharazmi, Manâqib 'Ali ibn Abi Thalib, h. 75-76, 96, 220; al-Ganji, Kifâyah ath-Thalib fi Manâqib 'Ali ibn Abi Thalib, h. 264-265; Arjah al-Mathâlib, h. 448, 454; Yanâbî' al-Mawaddah, h. 63-64, 130-131)

Nabi SAWW juga telah memberitahukan kepada ummah bahwa akan muncul dua jenis kelompok penyeleweng di kalangan kaum Muslim yang akan melewati batas-batas prinsip Islam dalam memahami Amirul Mukminin sendiri,

"Rasulullah SAWW memanggil saya seraya mengatakan, 'Hai, ‘Ali, ada dua persamaan antara Anda dan 'Isa ibn Maryam, yang dibenci orang Yahudi demikian besarnya sehingga mereka memfitnah ibunya, dan yang dicintai orang Kristen sedemikian besamya sehingga mereka memberikan kepadanya kedudukan yang bukan baginya.'"

Kemudian Amirul Mukminin melanjutkan,

"Hati-hatilah, dua jenis orang akan runtuh berkenaan dengan saya: Orang yang mencintai (saya) yang akan memuji saya atas apa yang tak ada pada saya; dan orang yang membenci (saya) yang kebenciannya kepada saya akan menyebabkan ia mengajukan tuduhan-tuduhan palsu kepada saya. Hati-hatilah! Saya bukan nabi dan tak ada yang telah diwahyukan kepada saya. Tetapi saya berbuat sesuai dengan Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya sekuat kuasa saya.'" (Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 160; al-Hakim, al-Mustadrak, ni, h. 123; Misykât al-Mashâbih, III, h. 245-246; Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 133; Kanz al-'Ummâl, XII, h. 219; XV, h. 110; Ibn Katsir, VII, h. 356)

Ucapan Amirul Mukminin yang dikutip pada Catatan di atas itu maupun dalam teks telah diriwayatkan dari Nabi SAWW ketika beliau berkata kepada Ainirul Mukminin,

"Hai ‘Ali, dua jenis orang akan jatuh dalam kebinasaan berkenaan dengan Anda; orang yang mencintai Anda berlebih-lebihan, dan pembohong yang menuduh Anda secara fitnah." (al-Isti'ab, III, h. 1101)

Juga beliau berkata,

"Dua jenis orang akan binasa berkenaan dengan Anda; orang yang mencintai Anda secara berlebih-lebihan dan pembenci yang mendengki." (Ibn Abil Hadid, V, h. 6)

Ulama besar pakar hadis Amir ibn Syurâhîl asy-Sya'bi (19-103 H./640-721 M.) telah mengukuhkan ucapan itu, bahwa kedua kategori ini telah muncul, dan keduanya menjadi kafir dan binasa. (al-Istt'ab, 111, h. 1130; al-'lqd al-Farîd, IV, h. 312)

[90] Keimanan akan Tauhid tidak sempurna sebelum didukung oleh keimanan akan kesucian Allah dari setiap ketidaksempumaan; yakni orang harus memandang-Nya di atas batas-batas jasad, bentuk, tempat atau waktu dan tak boleh menundukkan-Nya pada khayalan dan tingkah seseorang, karena wujud yang tertampung dalam imajinasi dan khayalan tidak mungkin Allah melainkan ciptaan pikiran manusia, sementara bidang kegiatan mental manusia terbatas pada hal-hal yang dilihat dan diamati. Karenanya, makin besar usaha manusia untuk menilai-Nya melalui gambaran-gambaran yang berhubungan dengan pikiran manusia atau usaha-usaha imajinasinya, makin jauh ia dari realitas. Sehubungan dengan ini, Imam Muhammad al-Baqir berkata,

"Bilamana Anda menampungnya dalam khayalan Anda, bukanlah ia Allah melainkan ciptaan sebagaimana Anda sendiri dan dapat dibalikkan kepada Anda."

Adil berarti bahwa bentuk kelaliman dan ketidakadilan mana pun tentang Allah harus ditolak dan la tak boleh diberi atribut-atribut yang buruk dan sia-sia dan yang sama sekali tak dapat diterima akal untuk diatributkan kepada-Nya. Sehubungan dengan ini Allah berfirman,

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagaimana kulimat yang benar dun adil. Tak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. 6:115)

[91] Persahabatan yang didasarkan pada cinta dan ketulusan membuat orang bebas dari formalitas seremonial, tetapi persahabatan yang untuk itu diperlukan formalisme tidaklah kokoh dan sahabat semacam itu bukanlah sahabat yang sesungguhnya, karena persahabatan yang sesungguhnya menuntut bahwa seorang sahabat tidak seharusnya menjadi suatu penyebab kesulitan yang melelahkan dan merugikan, dan sifat merugikah ini adalah tanda bahwa ia sahabat yang terburuk.