Imam Ali as dalam Kacamata Nahjul Balaghah

Ilyas Muhammad Bigy

Jenjang keempat dari kehidupan Imam Ali as yang berlangsung selama seperempat abad adalah masa pasca wafat Rasulullah saw, terhalangnya umat dari imam as, ketercegahan imam dari kedudukan Ilahi dan kepemimpinan umat Islami; yang berdasarkan persyaratan-persyaratan tertentu masa itu Imam Ali as terpaksa memilih diam dan menjauh dari medan sosial; walaupun demikian beliau as tidak enggan untuk menjelaskan hakekat-hakekat dan kebenaran diri dan keluarga dalam kondisi-kondisi yang tepat; dan berulang kali menjelaskan kedudukan tinggi ahlul bait as, superioritas keluarga risalah dalam kepemimpinan umat dan menumbangkan musuh dengan penjelasan yang kuat.

Kedudukan Tinggi Ahlul Bait as

Dalam penjelasan-penjelasannya, Imam Ali as menentukan kedudukan tinggi dan istimewa ahlul bait dan memperkenalkan sumber-sumber pengetahuan-pengetahuan mereka sebagai sebuah sumber di atas menusia.

قال (ع): «لا يقاس بآل محمد(ص) من هذه الامة احد و لا يسوى بهم من جرت نعمتهم عليه ابدا هم اساس الدين و عماد اليقين‏»

Imam Ali as bersabda: "Tak seorangpun di antara umat Islam yang dapat dipandang sejajar dengan Keluarga Muhammad saw. Orang yang mendapatkan kenikmatan dari mereka tak dapat dibandingkan dengan mereka. Mereka adalah fondasi agama dan tiang iman.”[1]

قال(ع): «نحن الشعار والاصحاب والخزتة والابواب لاتؤتى البيوت الا من ابوابها فمن اتاها من غير ابوابها سمى سارقا»

Beliau as bersabda: “Kami adalah orang-orang dekat, para sahabat, pemegang perbendarahan dan pintu (sunah). Rumah tidak dapat dimasuki kecuali melalui pintunya. Barangsiapa yang memasuki dari selain pintunya dinamakan pencuri.”[2]

قال(ع): «هم دعائم الاسلام و ولائج الاعتصام، بهم عاد الحق فى نصابه وانزاح الباطل عن مقامه‏»

Amirul Mukminin Ali as bersabda: “Mereka adalah tiang-tiang Islam dan tempat perlindungan[nya]. Bersama mereka kebenaran telah kembali kepada kedudukannya dan kebatilan telah meninggalkan tempatnya.”[3]

قال (ع): «انه من مات منكم على فراشه و هو على معرفة حق ربه و حق رسوله و اهل بيته مات شهيدا»

Beliau as berkata: “Sesungguhnya barangsiapa dari kalian yang mati di ranjang sementara ia mempunyai pengetahuan tentang hak Tuhannya dan hak Rasul-Nya dan para anggota keluarga beliau saw, akan mati sebagai syahid.”[4]

قال(ع): «الا ان مثل آل محمد(ص) كمثل نجوم السماء اذا خوى نجم، طلع نجم‏»

Beliau as berkata: “Ingatlah, sesungguhnya perumpamaan keluarga Muhammad saw adalah ibarat bintang-bintang di langit. Ketika satu bintang terbenam, yang lainnya timbul.”[5]

Superioritas Keluarga Risalah

Dalam penjelasan superioritas ahlul bait dan keluarga risalah dari yang lainnya seputar hal kekhilafahan dan suksesi Rasulullah saw serta kepemimpinan umat Islam, Imam Ali as memiliki ucapan-ucapan yang menarik:

قال(ع): «ان الائمة من قريش غرسوا فى هذا البطن من هاشم لا تصلح على سواهم و لا تصلح الولاة من غيرهم‏»

Amirul Mukminin as bersabda: “Sesungguhnya para imam (pemimpin Ilahi) akan ada dari Quraisy. Mereka telah ditanami dalam garis ini melalui Hasyim. Tak akan sesuai bagi orang lain, dan tidak pula orang lain sesuai sebagai kepala-kepala mereka.”[6]

قال(ع): «هم اساس الدين و عماد اليقين... ولهم خصائص حق الولاية و فيهم الوصية و الوراثة‏»

Beliau as berkata: “Mereka adalah fondasi agama dan tiang iman… Mereka memiliki ciri utama hak wilayah. Dan bagi mereka ada wasiat dan warisan [Nabi saw].”[7]

قال(ع): «اما الاستبداد علينا بهذا المقام و نحن الاعلون نسبا والاشدون برسول ‏الله (ص) نوطا فانها كانت اثرة شحت عليها نفوس قوم، وسخت عنها نفوس آخرين‏»

Imam Ali as berkata: “Adapun mengenai kelaliman terhadap kami dalam urusan ini padahal kamilah yang teritnggi dalam hal keturunan dan yang terkuat dalam hubungan dengan Rasulullah saw, itu adalah suatu tindakan keakuan yang atasnya hati manusia menjadi serakah, walaupun sebagian orang tak mempedulikannya.”[8]

Kedudukan Tinggi Imam Ali as

Prioritas Ali as untuk imamah dan kepemimpinan masyarakat religius muncul dari kesucian dan kepemilikan keutamaan-keutamaan dan manaqib khusus yang ditetapkan oleh Allah swt dalam pengganti agung Rasul-Nya yang menuntut pemahaman kelayakan beliau as untuk kepemimpinan umat Islam, pengetahuan lengkap dan komprehensif terhadap kesempurnaan-kesempurnaan spiritual, sosial dan politik beliau as dan untuk sebuah pengetahuan yang layak tidak ada ucapan yang lebih dikenal dan tidak ada jalan yang lebih dipercaya dari pada ucapan-ucapan beliau sendiri karena «الانسان على نفسه بصيرة‏» “Setiap orang lebih mengenal sisi-sisi kepribadiannya sendiri dibandingkan orang lain”. Oleh karena itu, kita akan berusaha memperoleh keistimewaan Imam Ali lebih jelas dalam kepemimpinan Umat Islami dibandingkan yang lain; keutamaan-keutamaan dan kesempurnaan-kesempurnaan khusus beliau di tengah-tengah ucapan-ucapan beliau as.

Iman yang Teguh

قال على(ع): «وانى لعلى يقين من ربى و غير شبهة من دينى‏»

Imam Ali as berkata: “Dan sesungguhnya saya berkeyakinan penuh iman kepada Tuhan saya dan saya tak ragu dalam agama saya.”[9]

قال(ع): لو كشف الغطاء ما ازددت يقينا

Imam Ali as berkata: “Sekiranya tabir disingkap, maka aku tidak akan bertambah dalam keyakinan.”[10]

قال(ع): «ما شككت فى الحق مذاريته‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Tidak pernah aku ragu dalam kebenaran semenjak mengenalnya.”[11]

«قد ساله دغلب اليمانى فقال: هل رايت ربك يا اميرالمؤمنين؟ فقال(ع): افاعبد مالا ارى؟ فقال: كيف تراه؟ فقال: لا تدركه العيون بمشاهدة العيان ولكن تدركه القلوب بحقايق الايمان‏»

“Dzi’lib al-Yamani bertanya kepada Amirul Mukminin, apakah ia telah melihat Allah. Lalu Amirul Mukminin menjawab, “Apakah saya menyembah apa yang tidak saya lihat?” Kemudian ia bertanya: Bagaimana Anda melihat-Nya?” Lalu Amirul Mukminin menjawabnya: Mata tidak melihatnya berhadap-hadapan, tetapi hati melihat-Nya melalui kebenaran iman.”[12]

قال(ع): «الهى ما عبدتك خوفا من نارك و لا طمعا فى جنتك بل وجدتك اهلا للعبادة فعبدتك‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Ya Allah! Aku menyembah-Mu bukan karena rasa takut akan siksa-Mu dan juga bukan serakah dalam surga-Mu, akan tetapi aku mendapatkan-mu layak untuk disembah maka aku menyembah-Mu.”[13]

Pengetahuan Imam Ali as

قال على(ع): «ينحدر عنى السيل و لايرقى الى الطير»

Amirul Mukminin as berkata: “Air bah mengalir [menjauh] dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya.”[14]

قال(ع) لكميل بن زياد: «يا كميل بن زياد...ها ان ههنا لعلما جما (واشار بيده الى صدره) لو اصبت له حملة‏»

Imam Ali as berkata kepada Kumail bin Ziyad: “Wahai Kumail…Lihat, sesungguhnya di sini ada setumpuk pengetahuan [lalu Amirul Mukminin as menunjuk ke dadanya]. Saya ingin mendapatkan seseorang untuk memilikinya.”[15]

قال(ع): «ايها الناس! سلونى قبل ان تفقدونى فلانا بطرق السماء اعلم منى بطرق الارض‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Wahai manusia! Bertanyalah kepada saya sebelum kalian kehilangan saya, karena sesungguhnyalah saya mengenal jalan-jalan di langit lebih dari jalan-jalan di bumi.”[16]

قال(ع): «والله لوشئت ان اخبر كل رجل منكم بمخرجه و مولجه و جميع شانه لفعلت ...»

Imam Ali as berkata: “Demi Allah, apabila saya mau, saya dapat mengetakan kepada setiap orang dari Anda sekalian, ke mana ia akan pergi dan semua urusannya…”[17]

قال رسول الله(ص): «على بن ابى طالب اعلم امتى و اقضاهم ...»

Rasulullah saw bersabda: “Ali bin Abi Thalib adalah yang paling berilmu di antara umatku dan paling bijak dalam menghukumi…”[18]

قال على(ع): «لانا اعلم بالتوراة و اعلم بالانجيل من اهل الانجيل‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Saya benar-benar lebih mengetahui Taurat dan lebih mengenal Injil dari pada ahli Injil.”[19]

Keadilan Imam Ali as

قال على(ع): «والله لو وجدته قد تزوج به النساء و ملك به الاماء; لرددته فان فى العدل سعة و من ضاق عليه العدل فالجور عليه اضيق‏»

Ali as berkata: “Demi Allah, sekalipun misalnya saya mendapatkan bahwa dengan uang [yang dikorupsi dari Baitul Mal] itu perempuan-perempuan telah dikawinkan, atau budak-budak perempuan telah dibeli [dan dibebaskan], saya akan mengambilnya kembali, karena luaslah lapangan dalam pelaksanaan keadilan, dan orang yang merasa sulit untuk bertindak adil akan lebih sulit lagi mengurusi ketidakadilan.”[20]

قال(ع): «...لو لا حضور الحاضر و قيام الحجة بوجود الناصر و ما اخذالله على العلماء الا يقاروا على كظة ظالم ولا سغب مظلوم; لالقيت‏حبلها على غاربها و لسقيت آخرها بكاس اولها»

Imam Ali as berkata: “…apabila orang-orang tidak datang kepada saya, dan para pendukung tidak mengajukan hujah, dan apabila tak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama.”[21]

قال(ع): «الذليل عندى عزيز حتى آخذ الحق له، والقوى عندى ضعيف حتى آخذالحق منه‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Yang rendah adalah dalam pandangan saya pantas mendapatkan kehormatan sampai saya mengamankan haknya baginya, sementara yang kuat adalah dalam pandangan saya lemah sampai saya mengambil hak [orang lain] dari dia.”[22]

قال (ع): «فانى سمعت رسول الله(ص) يقول فى غير موطن: «لن تقدس امة لا يؤ خذ للضعيف فيها حقه من القوى غير متعتع‏»

Imam Ali as berkata: “Karena saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda lebih dari sekali bahwa “Kaum di kalangan Anda di mana hak kalangan lemah tidak dipenuhi oleh kalangan yang kuat, tidak akan mencapai kesucian.”[23]

قال(ع): «اللهم انك تعلم انه لم يكن الذى كان منا منافسة فى سلطان ولا التماس شى‏ء من فضول الحطام و لكن لنرد المعالم من دينك و نظهر الاصلاح فى بلادك فيامن المظلومون من عبادك و تقام المعطلة من حدودك‏»[24]

Imam Ali as berkata: “Ya Allah, Tuhanku! Engkau mengetahui bahwa apa yang kami lakukan bukanlah untuk mencari kekuasaan, bukan pula untuk memperoleh sesuatu dari kehampaan dunia. Melainkan kami hendak memulihkan ayat-ayat agama-Mu dan mengantarkan kemakmuran ke kota-kota-Mu agar orang-orang yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu selamat, dan perintah-perintah-Mu yang telah dilalaikan dapat ditegakkan.”

قال(ع): «والله لان ابيت على حسك السعدان مسهدا، او اجر فى الاغلال مصفدا، احب الى من ان القى الله و رسوله يوم القيمة ظالما لبعض العباد و غاصبا لشى ء من الحطام‏» (25)

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Demi Allah, saya lebih suka melewatkan suatu malam dalam jaga di atas duri-duri as-sa’dan (tumbuhan yang mempunyai duri-duri lancip) atau digiring dalam keadaan terbelenggu sebagai tawanan daripada menemui Allah dan Rasul-Nya di Hari Pengadilan sebagai penindas terhadap seorang atau sebagai penyerobot sesuatu dari kekayaan dunia.”[25]

Tidak Memperhatikan Dunia

قال على(ع): «يا دنيا، يا دنيا! اليك عنى ابى تعرضت؟ ام الى تشوقت؟ لا حان حينك هيهات! غرى غيرى، لا حاجة لى فيك، قد طلقتك ثلاثا لا رجعة فيها! فعيشك قصير و خطرك يسير، و املك حقير آهِ مِنْ قِلَّةِ الزَّادِ، وَطُولِ الطَّرِيقِ، وَبُعْدِ السَّفَرِ، وَعَظِيمِ الْمَوْرِدِ»

Imam Ali as berkata: “Hai dunia, hai dunia! Menjauhlah dari saya. Mengapa engkau datang kepada saya? Adakah engkau sangat menginginkan saya? Engkau tak mungkin mendapat kesempatan untuk mengesankan saya. Tipulah orang lain. Saya tak ada urusan denganmu. Saya telah menceraikanmu tiga kali, yang sesudahnya tak ada rujuk lagi. Kehidupanmu singkat, urgensitasmu kecil, kegemaran Anda sederhana. Sayang! Bekal sedikit, jalan panjang, perjalanan jauh, dan tujuan sukar dicapai.”[26]

قال(ع): «والله لدنياكم هذه اهون فى عينى من عراق خنزير فى يد مجذوم‏»

Amirul Mukminin as berkata: “Demi Allah, dunia Anda ini lebih rendah dalam pandangan saya daripada isi perut babi di tangan seorang lepra.”[27]

قال(ع): «ان دنيا كم عندى لاهون من و رقة فى فم جرادة تقضمها، ما لعلي و لنعيم يفنى ولذة لا تبقى‏»

Amirul Mukminin as berkata: ”Sesungguhnya bagi saya dunia Anda lebih enteng dari daun di mulut belalang yang sedang mengunyahnya. Apa hubungan Ali dengan hadiah yang akan lewat dan kesenangan yang tidak akan langgeng?”[28]

قال(ع): «ولؤشئت لا هتديت الطريق الى مصفى هذا العسل و لباب هذا القمح و نسائج هذا القز، و لكن هيهات ان يغلبنى هواى و يقودنى جشعى الى تغير الاطعمة و لعل بالحجاز اواليمامة من لا طمع له فى القرص ولا عهد له بالشبع‏»

Imam Ali as berkata: “Apabila saya mau, saya dapat mengambil jalan yang mengantar kepada [kesenangan dunia seperti] madu murni, gandum yang halus dan pakaian sutra, tetapi tak mungkin hawa nafsu saya memimpin saya dan keserakahan membawa saya untuk memilih makanan yang bagus-bagus sementara Hijaz atau Yamamah mungkin ada orang yang tak mempunyai harapan untuk mendapatkan roti, atau tidak mempunyai cukup makanan untuk dimakan sampai kenyang.”[29]

قال(ع): «وايم الله «استثنى فيها بمشية الله‏»، لاروضن نفسى رياضة تهش معها الى القرص اذ قدرت عليه مطعوما و تقنع بالملح مادوما»

Imam Ali as berkata: “Saya bersumpah demi Allah, kecuali atas kehendak Allah, bahwa saya akan melatih diri saya sedeikian rupa, sehingga ia akan merasa gembira apabila ia mendapatkan sepotong roti untuk dimakan, dan puas dengan hanya garam untuk membumbuinya.”[30]

قال(ع): «والله ما كنزت من دنياكم تبرا و لاادخرت من غنائمها وفرا ولا اعددت لبالى ثوبى طمرا ولاحزت من ارضها شبرا»[31]

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Demi Allah, saya tidak menyimpan emas apapun dari dunia Anda dan tidak menumpuk kekayaan yang melimpah, dan tidak pula mengumpulkan selain kedua lembar [pakaian] jembel itu.”

قال الباقر(ع): «و لقد ولى خمس سنين و ما و ضع آجرة على آجرة...و لا اقطع قطيعا و لا اورث بيضاء و لا حمزاء» (32)

Imam Baqir as berkata: “Sesungguhnya Ali as memegang kekhalifahan selama lima tahun dan tidak membangun sebuah rumah…tidak mengambil sepetak tanah dan tidak mewariskan kekayaan (emas atau perak).”[32]

قال(ع): «قبض على(ع) و عليه دين ثمانماة الف درهم‏»

Beliau as berkata: “Ali as meninggal dunia sementara beliau meninggalkan hutang delapan ratus ribu dirham.”[33]

قال على(ع): «والله لقد رقعت مدرعتى هذه حتى استحييت من راقعها»

Ali as berkata: “Demi Allah, saya telah dan masih menambal baju saya sedemikian banyak sehingga saya merasa malu pada tukang tambal.”[34]

Teguh dalam Menegakkan Kebenaran

قال(ع): «ما ضعفت ولا جبنت ولا خنت و ايم الله لابقرن الباطل حتى اخرج الحق من خاصرته‏» (35)

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Saya tidak menunjukkan kelemahan atau sifat pengecut. Perjalanan hidup saya juga seperti itu. Tentulah saya akan merobek kebatilan sehingga yang hak keluar dari sisinya.”[35]

قال(ع): «انى والله لو لقيتهم واحدا و هم طلاع الارض كلها ما باليت و لا استوحشت‏» (36)

Imam Ali as berkata: “Demi Allah, apabila saya telah bertarung dengan mereka sendirian, dan mereka demikian banyak sampai memenuhi bumi hingga melimpah, saya tidak akan cemas atau bingung.”[36]

قال(ع): «انا وضعت فى الصغر بكلا كل العرب وكسرت نواجم قرون ربيعة و مضر»(37)

Imam Ali as berkata: “Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya telah merendahkan dada para lelaki Arab [yang kenamaan], dan mematahkan ujung tanduk (yakni mengalahkan para kepala) suku Rabi’ah dan Mudhar.”[37]

قال(ع): «والله لو تظاهرت العرب على قتالى لما وليت عنها و لو امكنت الفرص من رقابها لسارعت اليها» (38)

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Demi Allah, seandainya orang-orang Arab bergabung untuk memerangi saya, saya tidak akan lari dari mereka, dan apabila saya mendapat kesempatan, saya akan bergegas menangkap leher mereka.”[38]

قال(ع): «ولعمرى ما على من قتال من خالف الحق وخابط الغى من ادهان ولا ايهان‏»(39)

Imam Ali as berkata: ”Demi hidup saya, tidak akan ada penghormatan bagi seseorang dan tak akan ada pengendoran dari saya dalam bertarung melawan orang yang melawan hak atau meraba-raba dalam kesesatan.”[39]

Cinta dan Syahadah

قال على(ع): «انى الى لقاء الله لمشتاق و حسن ثوابه لمنتظر راج‏» (40)

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Sesungguhnya saya sangat merindukan pertemuan Allah dan menanti sambil berharap akan pahala-Nya yang baik.”[40]

قال(ع): «والذى نفس بن ابى طالب بيده لالف ضربة بالسيف اهون على من ميتة على الفراش فى غير طاعة الله‏». (41)

Imam Ali as berkata: “Demi Allah yang di tangan-Nya terletak [kekuatan] anak Abu Thalib, pastilah seribu pukulan pedang atas diri saya lebih enak bagi saya daripada mati di ranjang dalam keadaan tidak taat kepada Allah.”[41]

قال(ع): «والله لابن ابى طالب انس بالموت من الطفل بثدى امه‏»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan susu ibunya.”[42]

قال(ع): «ماكنت الا كقارب و رد وطالب وجد»

Imam Ali as berkata: “Saya hanyalah sebagai musafir di malam hari yang sampai ke mata air [di pagi hari], atau sebagai pencari yang mendapatkan [tujuannya].”[43]

قال(ع): «لولا طمعى عند لقائى عدوى فى الشهادة و توطينى نفسى على المنية لاحببت الا القى مع هؤلآء يوما واحدا، و لا التقى بهم ابدا»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Sekiranya saya tidak merindukan untuk menemui musuh demi kematian syahid dan tidak mempersiapkan diri saya untuk kematian, tentulah tak akan suka berada dengan orang-orang ini untuk sehari pun, dan tidak pula akan pernah menghadapi musuh dengan mereka.”[44]

قال(ع): «نسال الله منازل الشهداء و معايشة السعداء، و مرافقة الانبياء»

Amirul Mukminin Ali as berkata: “Kami memohon kepada Allah [untuk mengaruniakan kepada kita] kedudukan para syahid, sahabat orang-orang berkebajikan dan persahabatan dengan para nabi.”[45]

Mahnameh (Jurnal Bulanan) Kautsar no 22

(Penerjemah Imam Ghozali)



[1] Nahjul Balaghah (berdasarkan naskah Shubhi Shalih), khutbah 2.

[2] Ibid, khutbah 154.

[3] Ibid, 239.

[4] Ibid, 190.

[5] Ibid, 100.

[6] Ibid,144.

[7] Ibid, 2.

[8] Ibid, 162.

[9] Ibid, 22.

[10] Biharul Anwar, jilid 69, hal 209.

[11] Nahjul Balaghah, khutbah 96.

[12] Ibid, 179.

[13] Biharul Anwar, jilid 42, hal 14.

[14] Nahjul Balaghah, khutbah 3.

[15] Ibid, hikmah 147.

[16] Ibid, khutbah 189.

[17] Ibid, 175.

[18] Biharul Anwar, jilid 40, hal 144.

[19] Ibid, hal 137.

[20] Nahjul Balaghah, khutbah 15.

[21] Ibid, 3.

[22] Ibid, 37.

[23] Ibid, surat 53.

[24] Ibid, khutbah 131.

[25] Ibid, 224.

[26] Ibid, hikmah 77.

[27] Ibid, 236.

[28] Ibid, khutbah 224.

[29] Ibid, surat 45.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] Biharul Anwar, jilid 40, hal 322.

[33] Ibid, hal 338.

[34] Nahjul Balaghah, khutbah 160.

[35] Ibid, khutbah 33.

[36] Ibid, surat 62.

[37] Ibid, khutbah 192.

[38] Ibid, surat 45.

[39] Ibid, khutbah 24.

[40] Ibid, surat 62.

[41] Ibid, khutbah 123.

[42] Ibid, khutbah 5.

[43] Ibid, surat 23.

[44] Ibid, 35.

[45] Ibid, khutbah 23.