Kedudukan
Perempuan Dalam Pandangan Imam Ali as
Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia
memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna
mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat
manusia kepada kesempurnaan. Allah swt menciptakan perempuan, yang merupakan
manifestasi keindahan Ilahi, yang juga tempat kaum lelaki memperoleh ketenangan
dan ketentraman, dalam rangka menghiasi rumah dan keluarga dengan pancaran
kasih sayang dan kelemah lembutannya. Imam Ali as berkata, "Perempuan adalah bagaikan sekuntum bunga yang menebar
keharuman."
Berdasarkan pernyataan Imam Ali as ini, perempuan seperti bunga yang harus
dijaga dan dipelihara agar tetap segar dan dan bugar, sehingga lembaga keluarga
akan terhias oleh keindahannya dan tersirami oleh kesegarannya. Oleh karena
nilai dan posisi perempuan yang diberikan oleh Islam, maka banyak sekali
perintah yang menekankan, pemuliaan, penghormatan dan kecintaan kepada
perempuan.
Agama Islam memberikan penghormatan kepada perempuan dari posisinya sebagai
perempuan. Dalam masalah ini, Imam Ali as menukil dari Rasul Allah saaw,
mengatakan, "Seseorang tidak akan menghormati kaum perempuan, kecuali
jika orang tersebut berjiwa besar dan mulia. Dan seseorang tidak akan
merendahkan kaum perempuan, kecuali jika orang itu berjiwa rendah dan
hina." Berkenaan dengan ibu, yang tak lain adalah perempuan, beliau
berkata, "Betapa pun seorang anak berbakti kepada ibunya, ia tidak akan
mampu menebus satu hari saja dari masa kehamilannya."
Di tengah masyarakat Arab sebelum Islam, kaum lelaki sama sekali tidak
menghargai kaum perempuan. Jika istri dari seorang suami melahirkan anak
perempuan, maka sang suami akan menguburnya hidu-hidup. Akan tetapi, setelah
munculnya Islam dan dengan perjuangan Rasul Allah saaw, terjadi perubahan besar
berkenaan dengan posisi kaum perempuan, dan muncullah pandangan baru di tengah
masyarakat, yang sangat menghormati dan memuliakan perempuan. Rasul Allah saaw
sendiri selalu memberikan contoh nyata dengan perbuatan beliau, baik terhadap
istri-istri beliau, terutama Sayidah
Khadijah alaihassalam , terlebih lagi terhadap putri
beliau Sayidah Fatimah alaihassalam.
Semua orang tahu bahwa Rasul Allah saaw sangat mencintai dan menghormati putri
beliau ini. Setiap kali beliau tengah duduk di dalam rumah beliau, lalu Sayidah
Fatimah datang, beliau berdiri, menyambut kedatangan sang putri, memeluk dan
menciumnya, lalu beliau mempersilahkan Fatimah as untuk duduk di tempat duduk
beliau, sementara beliau sendiri berpindah ke tempat duduk lain. Yang demikian
ini juga dilakukan oleh Sayidah Fatimah as terhadap Ayahanda beliau.
Pada dasarnya, penghormatan kepada kedudukan perempuan dapat disaksikan dengan
jelas di dalam perilaku dan ucapan Ahlul Bait Rasul saaw. Imam ali as berkata,
"Anak perempuan adalah kebaikan sedangkan anak lelaki merupakan nikmat.
Kebaikan mendatangkan pahala, sedangkan nikmat mendatangkan hisab."
Maksudnya ialah bahwa seseorang yang mendapat nikmat akan dihisab dan dimintai
pertanggung jawaban tentang nikmatnya itu. Di tempat lain, Imam Ali as berkata,
"Seorang yang memiliki anak perempuan, maka pertolongan, berkah dan
ampunan Allah akan meliputinya."
Salah satu masalah yang menjadi perhatian para pembesar Islam ialah
menghindarkan kaum perempuan dari berbagai ancaman dan gangguan jiwa dan
jasmani. Di masa kita saat ini, ketidakperdulian terhadap masalah ini membuat
sejumlah besar perempuan menjadi korban dekadensi moral dan penyimpangan
seksual.
Anthony Geadenz, seorang pakar sosiologi Barat, mengatakan bahwa
pelecehan seksual terhadap perempuan adalah sebuah fenomena yang lumrah di
Barat.
Menurutnya, perilaku pelecehan terhadap perempuan, sudah sedemikianparahnya di
dunia Barat, membuat kaum perempuan, terutama mereka yang bekerja di luar
rumah, tidak lagi memiliki ketenangan hidup.
Berkenaan dengan aksi kekerasan terhadap kaum perempuan di AS, Yohan Readley,
wartawan perempuan Inggris, mengatakan, "Setiap hari, sejumlah
perempuan menjadi korban aksi kekerasan suami mereka, atau teman-teman mereka,
dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian. Jumlah korban ini mengalami
peningkatan setelah peristiwa 11 September. Di tengah masyarakat seperti AS,
mungkin akan dianggap aneh, akan tetapi realitas mengatakan bahwa kaum
perempuan selalu menjadi sasaran kekerasan, diseret kepada kerusakan moral, dan
dipaksa untuk disalahgunakan dengan berbagai cara".
Imam Ali as menyinggung beberapa hal dalam rangka melindungi perempuan dari
berbagai gangguan jasmani dan ruhani. Dalam pandangan beliau, perempuan dapat
ikut aktif di tangah masyarakatnya, di dalam aktifitas ekonomi, politik dan
sosial, dengan tetap mempertahankan kemuliaan dan kesuciannya, dan mencegah
pelanggaran kaum lelaki terhadapnya. Imam Ali as menasehatkan kepada kaum
perempuan, jika mereka hadir di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga umum,
hendaklah mereka tetap menjaga pakaian dan penampilannya sesuai dengan ajaran
Islam. Dengan demikian, maka dalam pergaulannya di tengah masyarakat luas, ia
akan mendapat perlakuan yang baik dan terjaga dari hal-hal yang tak diinginkan.
Nahjul Balaghah, kitab kompilasi khotbah, surat, dan ucapan-ucapan Imam Ali bin
Abi Thalib as yang penuh makna dan hikmah
Sifat
pemalu dan kebersihan diri, meski baik dan perlu bagi setiap orang, akan tetapi
ia lebih sesuai dan lebih tepat bagi perempuan. Untuk itu kita lihat bahwa Imam
Ali as dalam salah satu khutbahnya dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan, "Pahala bagi seorang pejuang yang gugur syahid di atas
jalan Allah tidak lebih besar daripada pahala seorang yang menjaga kebersihan
dirinya dari dosa-dosa, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukan dosa-dosa
tersebut. Seorang manusia yang bersih, adalah seorang malaikat dari
malaikat-malaikat Allah swt."
Dewasa ini, banyak sekali kaum perempuan, di berbagai belahan bumi, menghormati
dan memuliakan kedudukan mulia manusia.Nadia, adalah seorang gadis
sulung dari sebuah keluarga campuran Inggris - Asia, yang tengah belajar di
fakultas kedokteran. Dia memilih busana muslimah sebagai pakaian sehari-harinya
dan mengatakan, "Sebagai seorang perempuan, saya sangat menjaga
perasaan malu dan kebersihan diri. Mengenakan hijab, membuat saya merasa
terjaga dari berbagai ancaman yang saya hadapi di tengah masyarakat."
Dengan mantap dan tegas, Nadia mengatakan, "Saya merasa sangat bangga
bahwa model kehidupan saya ialah Fatimah Az-Zahra alaihiassalam."
Imam Ali as memandang tiga sifat: kewibawaan, kehati-hatian dan kecermatan,
sebagai ciri-ciri penting perempuan muslimah. Dari ucapan beliau dapat
disimpulkan bahwa dalam pergaulan di tengah masyarakat, seorang perempuan harus
menjaga kewibawaan dan ketegasannya. Hal ini untuk menghindari kejahatan
lelaki-lelaki yang berpenyakit di dalam hatinya. Demikian pula Imam Ali as
menegaskan bahwa perempuan harus selalu bersikap hati-hati dan cerdas, sehingga
akan menghindarkannya dari ketamakan dan penyalahgunaan kaum lelaki, dan agar masyarakat
tidak memandangnya sebagai barang komoditi yang dapat dipermainkan sekehendak
mereka.
Ciri-ciri lain seorang perempuan muslimah ialah perhitungan dan sikap cermat
serta teliti, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ali as. Sikap seperti ini akan
membuat seorang perempuan selalu cermat dan berhati-hati dalam membelanjakan
uang dan kekayaan suaminya, serta menjaga kehormatan sang suami dalam masalah
ini. Dengan demikian, jika seorang perempuan memiliki tiga sifat mulia
tersebut, maka ia akan dapat berpartisipasi dalam pergaulan sosial, dengan
partisipasi yang konstruktif, bahu-membahu dengan kaum lelaki. (adil)