Para Penentang Saqifah
Pada peristiwa Saqifah, sangat alamiah bila ada
kelompok-kelompok. Hal itu diperkuat dengan ketidaklayakan
sikap orang yang terpilih sebagai khalifah. Dalam
peristiwa Saqifah ada tiga kelompok:
1. Anshar. Kaum Anshar termasuk kelompok politik yang
berpengaruh. Dari sisi kuantitas, mereka memiliki jumlah
yang tidak kecil. Oleh karenanya, kaum Anshar perlu
mendapat perhitungan yang serius sebagai kandidat
dalam pemilihan. Mereka tidak setuju dengan khalifah
terpilih dan pendukungnya di Saqifah Bani SaÂidah.
Sempat terjadi adu mulut yang cukup alot yang berakhir
dengan kemenangan Quraisy.
Abu Bakar dan pendukungnya mendapat keuntungan
dalam menghadapi Anshar dari dua sisi:
a. Mengkristalnya pemikiran pewarisan agama dalam benak
bangsa Arab. Dan hal itu dapat ditelusuri dari ucapan
yang mengatakan bahwa Quraisy masih serumpun dengan
Nabi dan lebih dekat dibandingkan dengan suku lainnya.
Dengan alasan ini, mereka merasa lebih layak ketimbang
kaum Muslim yang lain dan selanjutnya, yang paling
layak menjadi khalifah adalah dari Quraisy.
b. Kaum Anshar sendiri tidak memiliki satu pendapat. Suara
mereka terpecah antara yang mendukung Abu Bakar dan
yang menentangnya. Alasan perpecahan mereka dapat
ditafsirkan dengan mengakarnya pemikiran kesukuan
dan kedengkian antara satu dengan yang lain, atau
sebuah upaya untuk lebih dekat dengan khalifah terpilih
dari Quraisy. Pemikiran ini tampak dalam ucapan Usaid
bin Hudhair di Saqifah, „Bila kalian menjadikan SaÂd
sebagai khalifah, kekhalifahan akan senantiasa bersama
kalian, demikian pula dengan keutamaan. Namun jika
diperhatikan! Bahwa SaÂd tidak akan membagi-bagikan
kekuasaan ini dengan kalian selama-lamanya. Sekarang,
bangkitlah dan Baiatlah Abu Bakar!
Pertemuan Saqifah sendiri memberi kekuatan kepada
Abu Bakar dari dua sisi:
a. Melemahnya peran Ali bin Abi Thalib dalam mengarahkan
suku-suku karena Anshar adalah kekuatan
yang tidak mungkin berada di barisan Ali bin Abi
Thalib pasca Saqifah, apa lagi membela dan membantu
Ali untuk merebut kekhalifahan.
b. Munculnya Abu Bakar sebagai satu-satunya pembela
hak-hak kaum Muhajirin secara keseluruhan dan
Quraisy secara khusus di tengah-tengah kaum Anshar.
Kondisi saat itu memang sangat mendukung, karena
tidak adanya kelompok dari Muhajirin sendiri yang
dapat mencegah mereka meraih tujuan yang telah
direncanakan sebelumnya.
2. Bani Umayah. Keturunan Umayah memiliki ambisi
yang luar biasa besar akan kekuasaan. Dari kejadian
ini, mereka berharap dapat memperoleh posisi dan
mengembalikan segalanya seperti di zaman Jahiliah.
Bani Umayah dipimpin oleh Abu Sufyan. Abu Bakar
dan kelompoknya telah melakukan kerjasama dengan
Bani Umayah, karena tahu betul keinginan-keinginan
mereka, baik secara politis maupun material. Sangat
mudah bagi Abu Bakar untuk kemudian tidak
mengindahkan sebagian prinsip dan hukum-hukum
syariat lalu memberikannya kepada Abu Sufyan. Abu
Bakar memberikan kepada Abu Sufyan sebagian harta
dan hasil zakat kaum Muslim yang dikumpulkannya
sejak ia ditugaskan oleh Nabi.
Pada sisi yang lain, kelompok yang menang di Saqifah
tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Bani
Umayah dan tidak menekan Abu Sufyan atas apa yang
diucapkannya sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib dan
Bani Hasyim.
Tidak itu saja. Abu Bakar dan kelompoknya malah
memanfaatkan Bani Umayah untuk melemahkan peran
Bani Hasyim, mulai sejak itu hingga masa-masa yang akan
datang. Abu Bakar dan kelompoknya memberikan posisiposisi
penting dalam pemerintahan kepada Bani Umayah.
3. Bani Hasyim dan beberapa sahabat pengikut mereka
seperti Ammar bin Yasir, Salman Farisi, Abu Dzar
Ghiffari dan Miqdad _semoga Allah meridai mereka
semua- dan sejumlah besar sahabat yang memandang
keluarga Hasyim sebagai yang layak memiliki legitimasi
dari syariat untuk menjadi khalifah.
Bani Hasyim adalah pewaris Rasulullah saw dengan dukungan naswahyu di
peristiwa Ghadir Khum.
Mereka tidak tunduk pada argumentasi-argumentasi
lemah yang disampaikan para pendukung Saqifah.
Mereka melihat para pendukung Saqifah bagaikan
kumpulan kepentingan-kepentingan yang mencoba
untuk menguasai dan mengeksploitasi kekuasaan demi
memenuhi hasrat dan kerakusan, dan sebagai sebuah
upaya untuk menyesatkan perjalanan dan eksperimen
Islam dari jalannya yang sah dan benar.
Hasil-hasil Saqifah
Abu Bakar dan kelompoknya telah menjadi pemenang
dalam menghadapi Anshar dan Bani Umayah. Kekhalifahan
telah jatuh di tangan mereka. Namun, kemenangan ini
tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena setelah itu,
muncul masalah yang lebih besar tentang pertikaian.
Tentunya ini bermula dari argumentasi mereka untuk
meraih kursi kepemimpinan yang bertumpu pada kesukuan
dan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Atas dasar inilah,
tidak salah bila pasca Saqifah muncul mazhab rasialis dan
keturunan dalam kepemimpinan agama.
Keberadaan Bani Hasyim sebagai kelompok yang
menentang proses Saqifah mampu membalikkan situasi.
Mereka berargumentasi dalam menghadapi kelompok
Saqifah dengan alasan yang sama yang dipakai Abu
Bakar dan kelompoknya ketika menghadapi kaum Anshar.
Argumentasi itu demikian; bila Quraisy merasa lebih layak
dan dekat dengan Rasulullah dari sekian kabilah-kabilah
Arab, maka Bani Hasyim lebih tepat dan layak untuk
memegang tampuk kekhalifahan dibandingkan dengan
kelompok Quraisy lainnya.
Argumentasi inilah yang diangkat oleh Ali bin Abi
Thalib ketika ia berkata, „Kaum Muhajirin berargumentasi
dengan kedekatan mereka dengan Rasulullah saw. Ini
juga argumentasi kami terhadap kaum Muhajirin. Bila
argumentasi yang dipakai adalah kedekatan hubungan
kekeluargaan, maka itu dapat benar atas yang lain, tidak
atas kami, Bani Hasyim. Bila argumentasi mereka juga
berlaku atas kami, maka kaum Anshar tetap kuat dengan
klaimnya.
Abbas juga menjelaskan hal yang sama dalam obrolannya
dengan Abu Bakar, „Ucapanmu ketika diSaqifah bahwa
kami serumpun dengan Rasulullah saw, sesungguhnya kalian
hanya tetangga sedangkan kami adalah rantingnya.
Pada intinya, Ali bin Abi Thalib adalah sumber
ketakutan bagi mereka yang bermain di Saqifah. Ali adalah
satu-satunya penghalang yang mampu melenyapkan semua
ambisi yang selama ini terpendam. Ali mampu menahan
tangan-tangan yang bermain di Saqifah, dan jumlah mereka
sangat banyak; yaitu orang-orang yang pada umumnya
ikut ke mana angin bertiup tanpa memiliki identitas, ikut
berteriak bersama mereka yang menjual suaranya di bursa
kekuasaan politik. Mereka adalah orang-orang yang ingin
mengenyangkan perut-perut mereka sepeninggal Nabi
dengan harta khumus (seperlima dari harta pampasan
perang) dan hasil perkebunan Madinah, begitu juga tanah
subur Fadak (tanah milik Nabi yang diwariskan kepada
putrinya Sayidah Fathimah Zahra as).
Ali bin Abi Thalib enggan menjadi khalifah dengan
tujuan-tujuan hina semacam itu atau demi ketenaran
pribadi. Dari sisi lain, ia berusaha untuk berargumentasi
di hadapan tokoh-tokoh penting Saqifah dengan prinsip
yang sama; yaitu kedekatan keluarga. Argumentasi yang
pada gilirannya menjadi koin keberuntungan di tangan Ali
dengan ucapannya, „Mereka berargumentasi dengan pohon
(kedekatan mereka dengan Nabi), namun pada saat yang
sama mereka lupa akan buah dari pohon itu.
Sebagian besar masyarakat Islam masih menguduskan
Ahlulbait Nabi dan menghormati mereka, karena mereka
adalah buah dari pohon kenabian yang pada gilirannya,
kekuasaan politik memasuki masa paling kritis yang tidak
ada jalan keluarnya. Untungnya, Ali adalah seorang pribadi
yang lebih mulia dari sekedar perebutan kekuasaan. Ia
lebih mengedepankan maslahat umat Islam ketimbang
kepentingan pribadinya sebagai penguasa yang sah yang
mendapat legitimasi langsung dari Nabi.
Untuk mengantisipasi kemungkinan Ali bin Abi Thalib
menggoyahkan rencana yang telah dijalankan, kelompok
Saqifah berada dalam keraguan di antara dua sikap:
1. Meninggalkan prinsip kedekatan kekeluargaan sebagai
argumentasi utama untuk menjadi khalifah. Namun
ini sama dengan mengabaikan legitimasi wahyu atas
kekhalifahan Abu Bakar yang telah direbutnya sejak
peristiwa Saqifah.
2. Memerkuat dan menegaskan kembali prinsip-prinsip
yang telah diperjuangkan sejak Saqifah (dengan dalih
kedekatan kekerabatan) dalam menghadapi kelompokkelompok
penentang. Sosialisasi harus dilakukan sehingga
hak Bani Hasyim sekaitan dengan kepemimpinan dan
kekhalifahan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting,
sekalipun kekerabatan mereka termasuk yang paling
dekat dengan Nabi. Sekalipun kekhalifahan masih
merupakan hak Bani Hasyim, namun itu tidak pada
saat-saat masyarakat menyepakati pemerintahan yang
telah terbentuk.
Tampaknya, kemungkinan kedua menjadi pilihan yang
lebih menguntungkan pemerintahan yang ada.
Kelompok Quraisy dan Anshar di Saqifah
Umar bin Khaththab belum mengetahui pertemuan
yang dilakukan oleh kelompok Anshar di Saqifah, sampai
ia menuju rumah Nabi dan menemukan Abu Bakar di sana.
Keadaan Umar bin Khaththab tetap tidak bisa tenang
hingga Abu Bakar tiba di rumah Nabi dan menyingkap
kain yang menutupi wajah Rasulullah saw dan dengan cepat
keluar sambil berkata, „Wahai kalian semua! Barangsiapa
yang menyembah Nabi, maka ketahuilah bahwa Nabi
telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah,
maka ketahuilah bahwa Allah senantiasa hidup dan tidak
pernah mati. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat,
“Muhammad hanyalah seorang rasul (utusan) Allah. Telah
berlalu beberapa orang utusan sebelumnya.”
Setelah kondisi agak tenang, Abu Bakar, Umar bin
Khaththab dan Abu Ubaidah secara bersamaan keluar
dari rumah Nabi dan meninggalkan jasad beliau bersama
Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang masih merasa
kehilangan dengan wafatnya beliau. Musibah ini telah
membuat mereka lupa akan segalanya.
Yang menjadi pikiran mereka adalah bagaimana melaksanakan tugas
sebaik-baiknya terhadap jasad suci Nabi hingga salat dan
memakamkannya. Sementara itu, pada saat yang sama,
kaum Anshar tengah melakukan pertemuan di Saqifah
Bani SaÂidah untuk memikirkan suksesi (kepemimpinan
umat) sepeninggal Nabi saw.
Segera ia menyuruh orang untuk memanggil Abu Bakar
agar bertemu dengannya. Orang yang disuruhnya kembali
dan menjawab bahwa Abu Bakar masih sibuk. Umar
bersikeras untuk mengirim orang tersebut kedua kalinya
agar keluar menemuinya mengingat sebuah kejadian sangat
penting yang harus diikutinya.
Abu Bakar keluar menemui Umar. Setelah menemuinya,
dengan bercepat-cepat keduanya menuju Saqifah bersama
Abu Ubaidah dan beberapa orang lain. Mereka menemukan
kaum Anshar sedang berbincang-bincang dan perkumpulan
mereka selesai dan urusan sahabatnya telah selesai. Didatangi
dalam kondisi demikian, air muka Sa’d bin Ubadah berubah
dan apa yang ada di tangan mereka terjatuh. Perasaan malu
dan salah tingkah menghantui mereka. Abu Bakar, Umar
dan Abu Ubaidah berhasil menguasai keadaan. Mereka
mengenal betul titik-titik lemah yang dimiliki oleh kaum
Anshar, dan dengan itu mereka mampu menguasai suasana.
Umar hendak berbicara namun dilarang oleh Abu Bakar.
Ia tahu betul bahwa Umar adalah orang yang sangat keras
sementara kondisi sedang kritis. Pada kondisi yang seperti
ini, diperlukan kecakapan diplomasi dengan memakai
kata-kata yang lembut untuk dapat menguasai keadaan.
Bila tahap pertama ini tidak diterima, baru menggunakan
cara kedua, yaitu kekerasan.
Abu Bakar membuka ucapannya dengan cara yang
lembut. Ia berkata kepada kaum Anshar dengan pelan dan
hati-hati. Ia tidak mempergunakan kata-kata yang dapat
membangkitkan kemarahan kaum Anshar, „Kami adalah
kaum Muhajirin yang lebih dahulu memeluk Islam, dan
secara keseluruhan, kaum yang terhormat. Tempat tinggal
mereka adalah yang terbaik, dan posisi mereka adalah yang
paling utama. Kaum Muhajirin paling merasakan kasihsayang
Nabi Muhammad saw.
Sedangkan kalian, Anshar, adalah saudara kami dalam Islam dan sahabat dalam
agama. Kalian telah menolong dan membantu kami, semoga
Allah Swt membalas kebaikan kalian dengan sebaik-baik
balasan! Kami dilahirkan sebagai pemimpin, sementara
kalian adalah pembantu dan menteri kami. Kalian adalah
tempat bermusyawarah. Kami tidak akan memutuskan
perkara tanpa kalian.
Hubab bin Mundzir bin Jumuh berkata, „Wahai kaum
Anshar! Pertahankan apa yang menjadi milik kalian! Semua
orang saat ini berada dalam lindungan kalian, tidak ada
yang berani untuk melawan kalian. Tidak boleh ada satu
ucapan pun yang keluar tanpa izin kalian. Kalian, Anshar,
adalah kaum yang mulia dan mampu menghalau apasaja.
Jumlah kalian banyak dan memiliki kekuatan yang bisa
diandalkan. Orang-orang selain kalian hanya dapat melihat
apa yang kalian lakukan. Jangan berselisih, karena akan
membuat rusak apa yang kalian ingin raih. Bila mereka
tidak mau menerima semua ini, maka jadikan dua orang
pemimpin, satu dari kita dan satu dari mereka.
Mendengar ucapan itu, Umar lalu berkata, „Tidak
mungkin itu! Dua buah pedang tidak mungkin dapat
dimasukkan pada satu sarung secara bersamaan. Demi
Allah! Arab tidak akan pernah rela menjadikan kalian
sebagai pemimpin sementara Nabi adalah orang Arab tidak
dari kalian. Arab hanya akan rela bila yang mengatur
kehidupannya adalah orang yang kenabian berasal darinya.
Siapakah yang ingin menggoyahkan kekuasaan Muhammad
dari kami sementara kami adalah wali dan keluarganya?
Hubab bin Mundzir menjawab ucapan Umar, „Wahai
kaum Anshar! Miliki dan kuasai apa yang ada pada
kalian. Jangan dengarkan apa yang diucapkan oleh dia
(Umar bin Khaththab) dan teman-temannya, karena apa
yang diucapkannya berarti hilangnya kesempatan kalian
untuk berkuasa. Bila mereka menolak, padahal kalian telah
memuliakan mereka di kota ini, kalian lebih berhak untuk
memimpin, bukan mereka. Dengan pedang kalian, orangorang
memeluk agama ini. Aku adalah orang yang paling
bisa dipercaya dalam masalah kepemimpinan ini.
Aku adalah ayah dari singa kecil yang masih menyusu di sarang
singa. Demi Allah! Bila kalian menginginkan, kita dapat
menjadikannya seekor kambing.
Kedua kelompok saling bersikeras hingga hampir saja
terjadi pertempuran di antara keduanya. Abu Ubaidah bin
Jarrah berdiri menjadi penengah di antara kelompok yang
bertikai sambil berbicara dengan suara yang lemah-lembut
kepada Anshar, „Wahai orang-orang Anshar! Kalian adalah
orang pertama yang menolong dan memberikan tempat
perlindungan, namun tidak berarti kalian berada pada urutan
pertama dalam masalah ini. Abu Ubaidah makin mengecilkan
volume suaranya sehingga semua menjadi terdiam.
Pada kondisi itu, Basyir bin Sa’d mengambil kesempatan
demi keuntungan kaum Muhajirin. Dengan tangkas, ia
melontarkan ungkapan tanda ketidaksukaannya kepada
SaÂd bin Ubadah, „Wahai kaum Anshar! Ketahuilah
bahwa Muhammad dari kabilah Quraisy dan ia pasti
mengutamakan kaumnya. Demi Allah! Semoga Allah tidak
melihatku sedang memperebutkan hak Quraisy dalam
masalah kepemimpinan.
Untuk kali ketiganya, kaum Muhajirin berhasil meraih
keuntungan berhadap-hadapan dengan Anshar. Kaum
Muhajirin mulai saling mengutamakan tokoh-tokoh yang
dimilikinya. Di sini, menjadi lebih jelaslah bagaimana
mereka tidak mendapatkan pembenaran dan penjelasan
langsung dari wahyu mengenai kelayakan tokoh-tokoh
yang mereka usulkan untuk menjadi khalifah.
Abu Bakar berkata, „Ini Umar bin Khaththab dan Abu
Ubaidah, baitlah salah satu dari mereka jika kalian ingin!
Umar bin Khaththab sendiri berkata, Wahai Abu Ubaidah!
Ulurkan tanganmu, aku akan membaitmu. Engkau adalah
orang yang tepercaya umat ini. Abu Bakar tidak mau kalah
dan berkata, Wahai Umar! Ulurkan tanganmu, aku akan
membaitmu. Umar berkata, Engkau, Abu Bakar, lebih
utama dariku. Abu Bakar berkata, Tapi engkau lebih kuat
dan perkasa dariku. Umar menambahkan, Kekuatan dan
keperkasaanku kupersembahkan untukmu dengan segala
keutamaan yang engkau miliki. Ulurkan tanganmu, aku
pasti akan membaitmu.
Ketika Abu Bakar mengulurkan tangannya untuk
dibaiat oleh Umar, Basyir bin SaÂd mendahului dan membait
Abu Bakar. Hubab bin Mundzir kemudian berteriak,
„Wahai Basyir! Engkau telah merusak segalanya. Apakah
engkau ingin bersaing dengan anak pamanmu dalam
masalah kepemimpinan?
Ketika kabilah Aus melihat apa yang diperbuat oleh
Basyir dan dengan memerhatikan apa yang diinginkan
kabilah Khazraj untuk menjadikan SaÂd sebagai Khalifah,
mulai timbul bisik-bisik di antara mereka. Suara mereka
mulai terpecah. Usaid bin Khudhair, salah satu dari kabilah
Aus yang dikenal akan kebaikan budi pekertinya, berkata,
„Demi Allah! Seandainya sekali saja Khazraj memberikan
kesempatan dalam urusan ini, niscaya kalian senantiasa
dalam keutamaan selama-lamanya. Bangunlah dan baiat
Abu Bakar!
Kekuatan SaÂd menjadi terbelah. Khazraj yang sebelum
nya sepakat memilih SaÂd menjadi semakin lemah.
Kemudian para pengikut Usaid berdiri dan membaiat Abu
Bakar. Sementara sebagian Anshar berkata, „Kami hanya
akan membaiat Ali bin Abi Thalib.
Setelah berlangsung proses pembaiatan Abu Bakar,
mereka semua kembali menuju mesjid sambil mengarak Abu
Bakar bak seorang pengantin baru, sementara Nabi masih
tergeletak di atas pembaringan. Umar dengan cepat selalu
berada di depan Abu Bakar; mengucapkan pembaiatan
dan membuka mulutnya lebar-lebar sementara orangorang
mengelilinginya. Mereka memakai kain dari Shana
(sebuah tempat di Yaman yang terkenal dengan kainnya
yang bagus dan mahal). Ketika bertemu dengan seseorang,
mereka akan menutunnya ke depan dan tangannya ditarik
agar terulur kemudian diusapkan ke tangan Abu Bakar
agar membaiatnya, apakah orang itu suka atau tidak.
Argumentasi kelompok Quraisy di Saqifah ketika
berhadapan dengan kaum Anshar bertumpu pada dua
prinsip:
1. Orang-orang Muhajirin adalah yang lebih dahulu
memeluk Islam.
2. Orang-orang Muhajirin adalah kelompok yang paling
dekat dengan Rasulullah saw dan paling mengasihinya.
Mereka yang mencalonkan dirinya menjadi kandidat
pemimpin sepeninggal Nabi berargumentasi dengan
dua prinsip di atas. karena kekhalifahan hanya diraih
dengan lebih dahulu memeluk Islam dan kedekatan secara
kekeluargaan dengan Rasulullah saw. Bila kedua prinsip ini
diklaim sebagai syarat kepemimpinan, maka yang paling
layak untuk memimpin adalah Ali bin Abi Thalib. Ali
adalah orang pertama yang memeluk Islam, beriman dan
yang lebih dahulu membenarkan risalah Islam. Di samping
itu, ia adalah saudara Rasulullah saw yang dikukuhkan
lewat persaudaraan di Hari Persaudaraan antara kaum
Muhajirin dan Anshar yang dilakukan di Madinah. Ali
sendiri pada dasarnya adalah putra paman Rasulullah saw
dan paling dekatnya orang pada diri dan hati beliau.
Analisis atas Pertemuan Saqifah
Anshar bercepat-cepat menuju Saqifah Bani Saidah
untuk mengadakan pertemuan rahasia. Dalam pertemuan
itu, hadir tokoh Khazraj Sad bin Ubadah yang tengah
sakit. Sad berkata kepada sebagian keluarganya bahwa
mereka yang hadir tidak akan dapat mendengar suaranya
karena penyakit yang dideritanya. Ia memerintahkan salah
seorang anaknya menjadi perantara apa yang diucapkannya
agar yang hadir dapat mendengar apa yang diinginkannya.
Sad kemudian berkata dan anaknya dengan serius
mendengar apa yang diucapkannya lalu dengan suara yang
tinggi mengulang apa yang diucapkan Sad. Sad berkata
kepada yang hadir, „Kalian, wahai Anshar, lebih dahulu
memeluk Islam dan memiliki keutamaan dalam Islam yang
tidak dimiliki oleh kabilah Arab lainnya. Rasulullah saw
tinggal sekitar 10 tahunan di tengah-tengah kaumnya dan
mengajak mereka untuk menyembah Allah Sang Pengasih
dan meninggalkan penyembahan kepada berhala. Setelah
berusaha keras, hanya sedikit yang beriman kepadanya.
Akhirnya, Nabi menginginkan sebaik-baik keutamaan
pada kalian.
Nabi menuntun kalian kepada kemuliaan dan
kehormatan dan mengkhususkan kalian dengan agamanya.
Kalian adalah orang-orang yang bersikap keras dengan
mereka yang menentang Nabi. Sikap kalian sangat keras
terhadap musuh-musuh Nabi dibandingkan dengan yang
lainnya. Sekarang, Allah telah memanggil Nabi-Nya dan ia
rela dengan kalian. Oleh karenanya, pertahankan masalah
kekhilafahan dengan segenap kekuatan. Kalian lebih
berhak dari orang lain.
Namun, dengan kembali melacak kejadian pertemuan
itu, dapat ditemukan bahwa pertemuan kaum Anshar pada
awalnya tidak untuk mengeksploitasi peninggalan Nabi dan
berusaha untuk mengambil kekhalifahan dari pemiliknya
yang sah. Klaim ini dapat dibuktikan dengan beberapa
poin berikut ini:
1. Tidak hadirnya tokoh-tokoh terbaik Anshar pada
pertemuan tersebut seperti: Abu Ayyub Anshari, Hudzaifah
bin Yaman, Barra bin Azib dan Ubadah bin Shamit.
2. Kaum Anshar mengetahui dengan baik nas-nas Nabi
dan selalu berusaha untuk melindunginya. Salah satu nas
hadis tersebut menyebutkan bahwa Aimmah min Quraisy
(para pemimpin, imam, adalah dari Quraisy). Kaum
Anshar mengetahui secara pasti hukum-hukum yang
dijelaskan menganai posisi keluarga suci Nabi. Mereka juga
menyaksikan bagaimana Nabi mengangkat Ali bin Abi
Thalib sebagai khalifah sepeninggalnya di Ghadir Khum.
Beliau juga mewasiatkan mereka untuk tetap bersama Ali
dan keluarganya. Bila mereka mendapatkan kenyataan
bahwa Ali tidak memiliki peran penting dalam masalah
pemerintahan, mereka serentak akan berkata, „Kami tidak
akan membaiat seorang pun kecuali Ali.
3. Saat itu, Nabi masih tergeletak di atas pembaringan
menunggu dikuburkan. Kondisi ini menguatkan bahwa
sangat tidak rasional sekali bila tokoh-tokoh terbaik
Anshar tidak ikut dalam acara penguburan Nabi dan
menyempatkan diri berkumpul untuk memilih seorang
khalifah.
4. Pertemuan Anshar dapat ditafsirkan sebagai usaha mereka
untuk menetapkan sikap mereka terhadap pemerintahan
baru setelah mereka mengetahui rencana Quraisy untuk
mewujudkan semboyan kenabian dan kekhalifahan tidak
boleh berkumpul di Bani Hasyim.
Kaum Anshar tidak memiliki alasan sebagaimana yang ada pada tokoh-tokoh
Quraisy. Kekhawatiran mereka ini bukan tanpa alasan.
Kekhawatiran ini berawal dari Fatuh Mekah (pembebasan
kota Mekah). Orang-orang Anshar khawatir bila setelah
itu, Nabi tidak kembali bersama mereka ke Madinah.
Sebenarnya, kekhawatiran yang alami ini (adalah berasal)
dari keterasingan politis dan kekuasaan.
Bila dapat dipastikan bahwa Quraisy akan mengambil
kekhalifahan dari pemiliknya yang sah, yaitu Ali bin Abi
Thalib, maka peran apa yang dapat dilakukan oleh Anshar?
Bukankah mereka adalah kelompok kedua terbesar setelah
Muhajirin?! Bukankah mereka memiliki peran penting
dalam mengembangkan dakwah Islam?!
Pertemuan Anshar di Saqifah sebenarnya belum sepakat
untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka. Pertemuan
tersebut baru membicarakan kemungkinan-kemungkinan
yang bakal muncul terkait dengan khilafah sepeninggal
Nabi. Di sisi lain, kaum Anshar belum sepakat tentang apa
pun. Yang ada adalah keinginan-keinginan yang masih
tersimpan dalam dada dan kelihatannya berbeda satu
dengan yang lain. Untuk itu, tampak bagaimana sebagian
dari mereka menjawab ucapan Sa’d, „Engkau benar dalam
masalah ini, dan ucapanmu juga benar. Kita tidak boleh
melangkah lebih jauh dari pandangan Sa’d. Untuk masalah
ini, kami siap menjadikanmu sebagai pemimpin.
Kemudian mereka saling berbicara dan menyanggah.
Akhirnya, mereka berkata, „Bila kaum Muhajirin menolak
kesepakatan kita ini, maka kitalah yang menjadi wali dan
juga keluarga Nabi.
Sebagian yang lain tidak menyetujui usulan sebelumnya
dan memberikan usulan baru; bahwa kita akan memilih
pemimpin kita sendiri, dan kaum Muhajirin akan memilih
pemimpin mereka sendiri. Sa’d mengomentari pendapat
ini, „Ini adalah pendapat pertama yang menunjukkan
kelemahan.
Dengan sikap yang diambil, Anshar telah menyiapkan
sebuah kesempatan berharga secara politis untuk menghadapi
lawan politik dan mencapai kemenangan. Mereka
telah membuka pintu untuk berhadapan dengan Quraisy
dengan argumentasi yang jauh dari hukum-hukum
Islam.
Mereka membuat perhitungan dalam menghadapi
kemungkinan yang bakal muncul dengan argumentasi
kesukuan. Keuntungan yang bakal diraih kembali kepada
kabilah, bukan kepada Islam.
Umar bin Khaththab tidak setuju dengan sikap Anshar
yang berkumpul di Saqifah. Ia berkata, „Demi Allah! Kami
tidak melihat masalah yang lebih besar keuntungannya
selain membaiat Abu Bakar. Kami khawatir bila ada kaum
lain yang tidak setuju dengan ide ini dan tidak membaiat
Abu Bakar, karena ada kemungkinan sepeninggal Abu
Bakar bahwa mereka akan membaiat orang lain. Tawaran
yang ada adalah kami mengikuti kaum Anshar sekalipun
kita tidak setuju, atau kami tidak mengikuti mereka
walaupun akan terjadi kekacauan.
Demikianlah sikap yang diambil secara politis semakin
membuat keadaan bertambah keruh dan kompleks.