Wilayah kepada Ahlulbait dalam Al-Qur’an dan Hadis
Berikut ini akan kami bawakan teks-teks literal Islam yang menjelaskan nilai pendukung dan pengikut Ahlulbait as.:
Syi’ah Ali as. Sebagai Pemenang
Pada kesempatan menafsirkan firman Allah swt.:
﴿ Çöäøó ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æó ÚóãöáõæÇ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊö ÇõæáÆößó åõã ÎóíÑõ ÇáÈóÑöíøóÉö ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal perbuatan-perbuatan yang baik adalah manusia-manusia terbaik” (Al-Bayyinah: 7).
As-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsur membawakan sebuah riwayat dari Ibnu Asakir meriwayatkan dari Jabir bin Ab-dillah Ansari berkata: “Suatu hari, kami bersama Rasulullah saw., tiba-tiba Ali as. datang, maka beliau bersabda: “Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sesungguhnya dia—Ali—dan Syi’ahnya adalah pemenang dan orang ber-untung di Hari Kiamat”. Kemudian turunlah ayat di atas.
Maka, sejak itu setiap saat Ali as. datang, sahabat Nabi mengucapkan: “Manusia terbaik telah datang”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Allamah Abdurrauf al-Manawi dalam kitab Kunuzul Haqaiq (hal. 82) dengan redaksi ÔíÚÉ Úáí åã ÇáÝÇÆÒæä (Syi’ah Ali adalah para pemenang), kemudian ber-kata: “Ad-Dailami juga meriwayatkan hadis ini”.
Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id bab Manaqib ketika sampai pada manaqib Ali bin Abi Thalib as. (9/131) meri-wayatkan sebuah hadis dari Ali bin Abi Thalib as. berkata: “Kekasihku Rasulullah saw. bersabda: ‘Wahai Ali! Sesung-guhnya kamu akan menghadap Allah swt. bersama Syi’ah (pengikutmu) dalam keadaan rela dan diridhoi, sementara musuhmu akan menghadap-Nya dalam keadaan marah dan dimurkai’”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath.
Ibnu Hajar al-Haytsami dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqoh (hal. 96) meriwayatkan dari ad-Dailami yang berkata: “Ra-sulullah saw. bersabda:
‘Wahai Ali! Sesungguhnya Allah swt. memberi ampu-nan padamu, keturunanmu, anak cucumu, keluarga-mu, Syi’ahmu dan pecinta Syi’ahmu, maka bergembiralah!’”[1]
Ayyub as-Sajestani meriwayatkan dari Abu Qulabah berkata: “Ummu Salamah ra. mengatakan: ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Pengikut Ali as. adalah para pemenang di Hari Kiamat’”.[2]
Ali dan Syi’ahnya sebagai Manusia Terbaik
Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari Abul Jarud dari Muhammad bin Ali saat menafsirkan firman Allah swt.:
﴿ ÇõæáÆößó åõãõ ÎóíÑõ ÇáÈóÑöíøóÉö ﴾
“Sungguh Mereka adalah sebaik-baiknya makhluk.”
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Maksud ayat ini adalah kamu, wahai Ali!, dan Syi’ahmu”.[3]
As-Suyuthi dalam Durul Mantsur meriwayatkan hadis dari Jabir bin Abdillah al-Anshari yang menurut dia diriwa-yatkan juga oleh Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir secara marfu’.[4] Hadis itu berbunyi: Úáí ÎíÑ ÇáÈÑíÉ , bahwa Ali adalah sebaik-baik manusia.
As-Suyuthi juga berkata: “Ibnu Adiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata: ‘Ketika turun ayat:
﴿ Çöäøó ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æó ÚóãöáõæÇ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊö ÇõæáÆößó åõã ÎóíÑõ ÇáÈóÑöíøóÉö ﴾
‘Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: “Pada hari Kiamat, kamu dan Syi’ahmu adalah orang-orang yang bahagia dan diridhai’”.[5]
As-Suyuthi juga mengatakan bahwa Ibnu Mardiwaih meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib as. berkata: “Rasulullah saw. bersabda padaku: ‘Tidakkah kau mende-ngar firman Allah azza wa jalla yang berbunyi:
﴿ Çöäøó ÇáøóÐöíäó ÂãóäõæÇ æó ÚóãöáõæÇ ÇáÕøóÇáöÍóÇÊö ÇõæáÆößó åõã ÎóíÑõ ÇáÈóÑöíøóÉö ﴾
‘Maksud dari firman ini adalah kamu dan Syi’ahmu, tempat yang dijanjikan untukku dan untukmu adalah telaga, ketika umat-umat berdatangan untuk hisab, kalian akan dipanggil dan didudukkan secara mulia’”.
Ibnu Hajar dalam as-Shawa’iq al-Muhriqoh berkata sepu-tar ayat kesebelas surah Bayyinah: “Jamaluddin az-Zarandi meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: ‘Tatkala ayat ini tu-run, Rasulullah saw. bersabda pada Ali: “Maksud dari ayat ini adalah kamu, wahai Ali, dan Syi’ahmu yang bahagia dan diridhai di Hari Kiamat nanti, sedangkan musuhmu datang dalam keadaan marah dan dimurkai’”.[6] Hadis ini juga di-catat Syablanji dalam Nurul Abshar[7].
Kedudukan Wilayah Ahlulbait as. dalam Islam
Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Hamzah Tsumali dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir as. berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara: shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah, dan—di Hari Pembalasan—seseo-rang tidak akan dipanggil karena sesuatu yang lebih penting daripada panggilan karena wilayah”.[8]
Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan dari Ajlan Abu Shaleh berkata: “Aku berkata pada Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Beritahulah aku akan batas-batas iman!’ Maka beliau berkata: “Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah (syahadah), percaya dan mengakui apa yang datang dari Allah (swt.), shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, haji di rumah Tuhan, berpihak pada wali kita dan melawan musuh kita serta masuk bersama orang-orang yang tulus (shodiqin)”.[9]
Al-Kulaini juga mriwayatkan melalui jalur sanad yang sampai ke Zurarah bin A’yun dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir as. berkata: “Islam terbangun di atas lima perkara: shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah”.[10]
Siapakah Rafidhah?
Seorang sahabat bercerita pada Imam Ja’far Ash-Shadiq as. tentang Ammar Duhuni yang hadir suatu hari di pengadilan hakim Kufah, Ibnu Abi Laila, untuk memberikan kesaksian. Hakim memintanya agar bangkit: “Pergilah wahai Ammar, karena kita telah mengenal siapa dirimu, kesaksianmu tidak bisa diterima karena kamu seorang Rafidhah”. Ammar pun segera bangkit hendak meninggalkan majelis dalam ke-adaan urat-urat leher dan di sekitar pundaknya bergetar kuat seraya tenggelam dalam isak tangis.
Ibnu Abi Laila berkata padanya: “Kamu orang alim dan ahli hadis, jika kamu kesal karena dituduh sebagai Rafidhah lalu kamu menghindar dari tuduhan itu, tentu kamu ter-masuk saudara-saudara kita”.
Ammar menjawab: “Wahai Ibnu Abi Laila, aku tidak seperti yang kau bayangkan. Aku menangisimu dan me-nangisi diriku. Aku menangisi diriku karena kamu telah menisbatkanku pada kedudukan mulia yang tidak pantas bagiku ketika kamu menganggapku sebagai rafidhi (orang Rafidhah). Celakalah dirimu! Sesungguhnya Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: ‘Sesungguhnya orang pertama yang diberi nama Rafidhah adalah para penyihir yang beriman kepada Nabi Musa as. dan mengikutinya seketika menyak-sikan mukjizatnya, mereka menolak perintah Fir’aun dan pasrah terhadap apa saja yang akan menimpa diri mereka, maka Fir’aun menamakan mereka Rafidhah karena menolak agamanya. Oleh karena itu, rafidhi adalah setiap orang yang menolak segala apa yang dilarang oleh Allah swt. dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Coba katakan padaku, siapa orang seperti ini sekarang? ‘
“Dan aku menangisi diriku karena aku takut Allah swt. Yang Tahu akan apa yang terlintas di hatiku pada saat aku senang menerima nama yang mulia ini, niscaya Dia akan mencercaku dan berkata: ‘Wahai Ammar! Apakah kamu orang yang menolak kebatilan dan taat sepenuhnya seba-gaimana apa yang dia katakan?’ Maka itu, kalaupun aku masih dipersilahkan untuk menempati derajat tertentu, sebetulnya aku adalah orang yang gagal dan tidak pantas untuk itu. Dan kalau aku tergolong orang yang Dia cela dan dijerumuskan ke dalam siksa, niscaya hal itu menambah dahsyatnya siksa, kecuali apabila para Imam menutupi kekurangan itu dengan syafaat mereka.
“Adapun kenapa aku menangisimu, karena besarnya kebohongan yang kau katakan saat menyebutku dengan se-lain namaku yang sebenarnya, juga karena simpati atau sayangku padamu akan siksa Allah swt. ke atas orang yang menggunakan nama yang termulia bagiku. Dan jika kamu anggap itu sebagai nama yang paling rendah, bagaimana kamu bisa tahan akan siksa Tuhan atas ucapanmu itu?”
Maka Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Andaikan Ammar memiliki dosa yang lebih besar dari semua langit dan bumi, niscaya akan terhapus oleh kata-katanya ini, dan niscaya catatan kebaikannya akan bertambah di sisi Allah swt. sampai setiap kesan baik dari pahala yang dia peroleh lebih besar dari dunia seribu kali lipat”.[11]
Pecinta yang bukan Syi’ah
Seorang berkata pada Imam Musa bin Ja’far as.: “Suatu saat kami berjalan bersama seoranglelaki di pasar yang sedang berserapah: ‘Aku adalah Syi’ah tulus Muhammad dan ke-luarga Muhammad’. Dia berteriak di atas kain jualannya: ‘Siapa yang ingin tambah?’
“Maka Imam Musa as. berkata: ‘Orang yang sadar akan nilai dirinya tidak akan bodoh dan kehilangan diri, tahukah kalian siapakah orang seperti ini? (menunjuk lelaki di atas tadi). Dialah adalah orang yang menyatakan dirinya seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad dan Ammar, pada saat yang sama dia mengurangi hak orang lain dalam berjual beli, dia menyembunyikan cacat barang jualannya dari pembeli, dia menjual barang dengan harga tertentu tapi menawarkannya dengan harga yang jauh lebih tinggi kepada pendatang asing, dia meminta dan memaksa pendatang asing itu untuk membayar lebih mahal, dan jika pendatang asing itu telah pergi, dia katakan pada warga setempat bahwa aku tidak menjual pada kalian dengan harga yang aku tawarkan kepada pendatang asing tadi.
“Apakah orang semacam ini sama dengan Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Ammar?! Maha Suci Allah! Tentu dia tidak bisa disamakan dengan para sahabat besar Nabi ini. Namun demikian dia tidak dilarang untuk menyatakan bahwa dirinya adalah pecinta Muhammad saw. dan kelu-arganya serta termasuk pendukung para pengikut mereka dan melawan musuh-musuh mereka’”.[12]
Orang-orang Mukmin sebagai Pelita Penghuni Surga Selaksa Langit yang Terang karena Bintang
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin as. berkata: “Sesung-guhnya penduduk surga melihat Syi’ah kami sebagaimana orang-orang melihat bintang di langit”.[13]
Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Sesungguhnya ca-haya seorang mukmin bersinar bagi penduduk langit sebagaimana bintang bersinar bagi penduduk bumi”.[14]
Imam Musa bin Ja’far as. bercerita: “Suatu saat, sebagian orang-orang khusus Imam Ja’far Ash-Shadiq as. duduk di hadapan beliau di malam purnama yang terang benderang sehingga membuat orang terjaga, mereka berkata: ‘Wahai putera Rasulullah saw.! Betapa indahnya permukaan langit dan cahaya bintang-bintang itu!’
“Maka Imam Ash-Shadiq as. menanggapi: ‘Kalian ber-kata demikian sementara empat malaikat pengatur alam, yaitu Jibril, Mika’il, Israfil dan malaikat maut mengawasi penduduk bumi, mereka melihat kalian dan saudara-saudara kalian di segala penjuru bumi bersinar dan cahaya kalian sampai ke langit. Bagi mereka, bahkan cahaya kalian lebih indah daripada cahaya bintang, dan sungguh mereka mengatakan seperti yang telah kalian katakan: ‘Alangkah indahnya cahaya orang-orang beriman!’”[15]
Melihat dengan Cahaya Allah swt.
Abu Najran meriwayatkan bahwa saya mendengar Abul Hasan as. berkata: “Barangsiapa memusuhi Syi’ah kami, dia telah memusuhi kami, dan barang siapa mendukung me-reka, dia telah mendukung kami, karena mereka adalah dari kami; mereka diciptakan dari tanah kami. Maka barangsiapa yang mencintai mereka, dia dari kita, dan barangsiapa yang membenci mereka maka dia bukan dari kita. Syi’ah kami melihat dengan cahaya Allah, bergelimang dalam rahmat-Nya dan menjadi pemenang bersama kemuliaan-Nya. Sungguh tak seorang pun dari Syi’ah kami yang bersedih melainkan kami juga berduka cita karena dirinya, dan tidak seorang pun dari Syi’ah kami yang bergembira kecuali kami juga berbahagia karena dirinya”.[16]
Kedudukan Syi’ah di Sisi Ahlulbait as.
Ahlulbait as. Mencintai Syi’ah Mereka
Sebagaimana Syi’ah (pengikut Ahlulbait as.) mencintai Ahlulbait as., begitu juga sebaliknya Ahlulbait as. sangat mencintai Syi’ah dan pendukung mereka. Bahkan mereka as. mencintai aroma dan arwah Syi’ah. Ahlulbait as. senang melihat dan menziarahi mereka, Ahlulbait as. merindukan mereka seperti dua pasang kekasih yang saling merindukan. Hal ini wajar, karena cinta adalah hubungan imbal balik. Cinta yang sejati tidak akan ada pada satu pihak melainkan di pihak lain juga terdapat cinta yang sepadan.
Ishaq bin Ammar meriwayatkan dari Ali bin Abdul Aziz berkata: “Saya mendengar Abu Abdillah as. berkata: ‘Demi Allah! Aku sungguh mencintai aroma kalian, arwah kalian, penampilan kalian, dan menziarahi kalian. Dan sesungguh-nya aku berada di atas agama Allah dan agama malaikat-Nya, maka bantulah dengan hidup warak (karakter meng-hindari dosa). Di Madinah aku seperti sya’ir, aku berbolak balik sampai aku melihat salah satu dari kalian dan menjadi tenang dengan penglihatan ini”.[17]
“Seperti sya’ir”; maksud dari sya’ir atau sya’roh di sini adalah uban putih yang jarang dan sedikit sekali di tengah lebatnya rambut hitam. Oleh karena itu, ia akan senang dan merasa tenang apabila melihat ada pendukung yang menye-rupainya.
Abdullah bin Walid berkata: “Aku mendengar Abu Ab-dillah (Imam Ja’far) as. berkata saat kita berkumpul: “Demi Allah! Sesungguhnya aku mencintai pemandangan kalian dan merindukan komunikasi bersama kalian”[18].
Nasr bin Muzahim meriwayatkan dari Muhammad bin Imran bin Abdillah dari ayahnya dari Imam Ja’far bin Muhammad as. berkata: “Suatu saat ayahku masuk masjid, ternyata di sana ada sekelompok orang dari Syi’ah kami. Beliau pun mendekati mereka seraya mengucapkan salam lalu berkata:
“Demi Allah! Aku mencintai bau dan arwah kalian, dan sesungguhnya aku di atas agama Allah swt. Jarak antara kalian dengan detik-detik yang sangat membahagiakan se-hingga membuat orang lain iri pada kalian tidak lebih jauh dari sampainya ruh ke sini (beliau menunjuk dengan ta-ngannya ke arah tenggorokan, artinya saat kematian), maka bantulah aku dengan hidup warak dan usaha keras! Barang-siapa dari kalian mengikuti seorang imam, hendaknya dia beramal bersamanya. Kalian adalah pasukan Allah, kalian adalah pendukung Allah, dan kalianlah pembela Allah”.[19]
Muhammad bin Imran meriwayatkan dari ayahnya dari Abu Abdillah as. berkata: “Suatu hari aku bersama ayahku keluar menuju masjid, ternyata di sana ada sekelompok dari sahabat ayahku, tepatnya di antara kuburan dan mimbar. Beliau menghampiri mereka, bersalam lalu berkata: “Demi Allah! Aku mencintai aroma dan ruh kalian, maka bantulah aku untuk hal itu dengan hidup warak dan usaha keras!”[20]
Barang kali kalimat di atas ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak seseorang:
Kalimat pertama, “Sesungguhnya aku mencintai aroma dan ruh kalian”.
Kalimat kedua, “Bantulah aku dengan hidup warak dan usaha keras!”
Maksud dari kalimat imam yang pertama adalah ung-kapan mengenai puncak tertinggi dari kecintaan dan kerinduan sampai seakan-akan Ahlulbait as. menghirup aroma pintu surga dari Syi’ah mereka”. Justru saya tidak menemukan kalimat yang lebih eksperesif dan lebih fasih dari ini untuk mengungkapkan klimaks cinta dan kerin-duan.
Adapun maksud dari kalimat imam yang kedua adalah cara menentukan standar cinta tersebut, karena cinta ini berbeda dengan cinta biasa pada umumnya antarmanusia biasa. Cinta ini merupakan perpanjangan (perluasan) dari cinta Allah, dan cinta demi Allah adalah kualitas terkuat dari makna cinta. Tentunya, cinta ini tunduk pada standar-standar yang berbasis pada dalam ketaatan dan pengabdian, warak dan takwa. Cinta ini terus mengembang sejalan de-ngan peningkatan tingkat warak dan takwa seseorang. Oleh karena itu, Imam as. meminta Syi’ahnya agar membelanya dalam kecintaan dengan hidup warak, takwa, ketaatan dan pengabdian pada Allah swt.
Sesungguhnya merekalah Syi’ah Ahlulbait as., dan Ahlulbait as. tahu persis seberapa tulus cinta Syi’ah pada mereka. Ahlulbait as. ingin sekali menimpal balik cinta Syi’ah mereka dengan cinta yang sepadan bahkan lebih da-lam. Maka itu, Ahlulbait as. meminta Syi’ah mereka untuk mempersiapkan diri sehingga layak menerima cinta Ahlul-bait as. tersebut. Persiapan ini akan terpenuhi dengan warak, takwa, ketaatan dan pengabdian pada Allah swt. Saat itulah cinta Ahlulbait as. pada Syi’ah mereka merupa-kan kepanjangan dan perluasan dari cinta demi Allah swt.
Perumpamaan Ahlulbait as. dalam cinta tak ubahnya orang tua yang mencintai anaknya, dan seyogyanya si anak menjaga statusnya sebagai orang yang layak mendapatkan cinta orang tua dengan budi pekerti yang mulia, dan dia tidak melakukan perbuatan seperti durhaka yang menye-babkan mereka berdua mencabut cinta itu dari hatinya.
Musuh Syi’ah adalah Musuh Ahlulbait dan Cinta Syi’ah adalah Cinta Ahlulbait
Cinta dan benci adalah dua perkara yang berelasi secara imbal balik. Maka dari itu, tidak ada cinta bagi satu pihak pada pihak yang lain kecuali pihak kedua ini memiliki cinta yang seimbang dengan cinta yang dimiliki pihak pertama itu.
Begitu pula pembelaan dan perlawanan adalah dua per-kara yang juga bersifat imbal balik. Yakni, sebagaimana kita menentang musuh Ahlulbait as. dan membenci mereka serta mendukung pecinta Ahlulbait as. dan mencintai mereka, begitupula Ahlulbait as. menentang orang yang memusuhi Syi’ah mereka dan membela orang yang mencintai Syi’ah mereka.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najran: “Aku mendengar Abul Hasan as. selalu berkata: “Barangsiapa memusuhi Syi’ah kami maka telah memusuhi kami, dan barangsiapa mendukung mereka maka dia telah mendukung kami, karena Syi’ah kami adalah dari kami; mereka diciptakan dari tanah kami. Barangsiapa mencintai mereka maka dia juga dari kami, dan barangsiapa membenci mereka maka dia bukanlah dari kami. Syi’ah kami melihat dengan cahaya Allah swt., mereka bergelimang dalam rahmat-Nya dan menjadi pemenang dengan kemuliaan-Nya”.[21]
Diriwayatkan pula[22] bahwa Abul Hasan as. berkata: “Ba-rang siapa memusuhi Syi’ah kami maka dia telah memusuhi kami, dan barang siapa yang mendukung mereka maka dia telah mendukung kami, karena mereka dari kami, mereka diciptakan dari tanah kami. Barang siapa mencintai mereka berarti dia dari kami, dan barang siapa membenci mereka berarti dia bukan dari kami. Syi’ah kami melihat dengan cahaya Allah swt., mereka bergelimang dalam rahmat Allah dan menjadi pemenang dengan kemuliaan-Nya.
“Tak seorang pun dari Syi’ah kami yang sakit melainkan kami juga sakit karena dia, tak ada seorang pun dari Syi’ah kita yang bersedih melainkan kami juga berduka karena dia, tak ada seorang pun dari Syi’ah kami yang gembira mela-inkan kami pun bergembira karena dia, dan tak ada seorang pun dari Syi’ah kami yang meninggal dunia di manapun dia berada, di timur bumi maupun di barat, dan dia masih berhutang kepada orang lain melainkan hutangnya menjadi tanggungan kami, dan jika dia meninggalkan kekayaan maka kekayaan itu untuk para pewarisnya.
“Syi’ah kami adalah orang-orang yang menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, ber-puasa di bulan Ramadhan, membela Ahlulbait as. dan menentang musuh-musuh mereka. Syi’ah kami adalah mereka yang kuat iman, takwa, dan warak.
“Barang siapa menolak mereka berarti menolak Allah swt., dan barang siapa memfitnah mereka dia telah mem-fitnah Allah swt., karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang sebenarnya, mereka adalah wali-wali Allah yang sejujurnya. Demi Allah! Tiap-tiap mereka memberi syafaat kepada sekian penduduk suku Rabi’ah dan Madhar (baca: banyak sekali), maka Allah menerima mereka sebagai pem-beri syafaat karena kedudukan mereka yang mulia di sisi-Nya”.
Imbal Balik Hak-hak antara Ahlulbait as. dan Syi’ah
Ahlulbait as. dan Syi’ah tidak hanya berimbal balik untuk membela mereka dan pecinta mereka. Selain dalam keben-cian dan penentangan terhadap musuh, di antara Ahlulbait as. dan Syi’ah juga terdapat imbal balik dalam hak. Yakni, sebagaimana Ahlulbait as. menanggung hak-hak yang harus mereka penuhi untuk Syi’ah seperti memberi petunjuk dan jalan yang benar menuju Allah swt., penhajaran hudud atau undang-undang Allah, ibadah kepada Allah… Begitu pula Syi’ah menanggung hak-hak yang harus mereka penuhi untuk Ahlulbait as.
Abu Qatadah meriwayatkan dari Abu Abdillah Imam Ja’far as. berkata: “Hak-hak Syi’ah kami yang harus kami penuhi lebih wajib dari hak-hak kami yang harus mereka penuhi”.
“Seseorang bertanya kepada Imam Ja’far as.: ‘Bagaimana demikian itu terjadi, wahai putera Rasulullah saw.?’
Beliau menjawab: ‘Ya, karena mereka menimpa kita sementara kita tidak menimpa mereka’”.[23][]
2. Marfu' ialah hadis yang dinisbatkan kepada manusia suci (Rasulullah dan imam setelahnya) dan bukan yang dinisbatkan pada sahabat atau tabi’in. Istilah kedua dari marfu' adalah hadis yang di tengah atau akhir silsilah sanadnya ada satu perawi atau lebih yang terbuang, dan secara terang-terangan menggunakan kata rafa'ahu.