Sebagaimana para imam yang lain, Ali bin Abi Thalib
juga memberikan perhatian yang besar tentang doa dan
munajat. Tentunya, setelah al-Quran membuka masalah
ini dengan berbicara kepada Rasulullah saw. Allah Swt
berfirman, “Katakanlah, Tuhanku tidak akan mengindahkan
kalian bila tidak karena doa yang kalian panjatkan.”
Ali bin Abi Thalib menjelaskan arti penting doa lewat
nas-ans yang diriwayatkan darinya, di samping perilaku
beliau sendiri. Ali bin Abi Thalib berkata, „Doa adalah
senjata para wali Allah.
Kitab Nahjul-Balaghah sendiri memuat doa-doa
yang bernilai tinggi di berbagai bidang. Doa-doa Ali as
dikumpulkan dalam sebuah kitab yang dikenal dengan
nama Shahifah ‘Alawiyah. Di antara doa-doa pilihan
adalah Doa Kumail, Doa Shabah dan Munajat SyaÊbaniyah.
Berikut ini, beberapa penggalan dari munajat puitis yang
diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib:
Segala puji atas-Mu, wahai Pemilik derma, Kebesaran dan
Keluhuran
Berkah-Mu sampai kepada siapa yang diinginkan atau tidak
Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku dan Harapan perlindunganku
Aku akan (tetap) memohon kepada-Mu meski dalam keadaan
sulit atau senang
Tuhan!
Bila dosa-dosaku besar dan banyak
Ampunan-Mu lebih besar dan luas
Tuhan!
Andai kuikuti semua keinginanku
Kini aku di taman penyesalan, mengapa kulakukan semua itu?
Tuhan!
Engkau melihat keadaan, kefakiran dan kebingunganku
Engkau mendengar munajatku sekalipun kupelankan suaraku
Tuhan!
Jangan Engkau putuskan harapan yang kutambatkan pada-Mu
Jangan biarkan putus-asaku karena harapanku hanyalah
Engkau
Tuhan!
Bila Engkau putuskan harapanku dan mengusirku dari-Mu
Kepada siapa kuberharap dan kepada siapa kupinta syafaat
Tuhan!
Bebaskan aku dari azab-Mu karena sesungguhnya
Aku terpenjara dan rendah
Aku tunduk dan takut kepada-Mu
Tuhan!
Bila Engkau menyiksaku selama ribuan tahun
Aku tahu bahwa benang harapan dari-Mu tak akan terputus
Tuhanku!
Bila Engkau hanya mengampuni orang-orang baik
Siapa yang akan memaafkan orang-orang yang mengikuti hawanafsunya?
Tuhan!
Orang yang merindukan-Mu
Melewatkan malam-malamnya tanpa tidur
Memohon dan bermunajat hingga pagi, sampai lupa
melaksanakan salat Subuh
Mengenal Sastra Ali
Kitab Nahjul-Balaghah dan kitab-kitab lainnya yang
ditulis untuk melestarikan khazanah intelektual Ali bin Abi
Thalib dapat dijumpai secara mudah. Bahkan khazanah ini
dikemas dalam bentuk sedemikian puitis tanpa merusak
kaidah-kaidah syair Arab. Keindahan dan keunggulan
ini membuat orang sadar akan nilai dan pribadi Ali bin
Abi Thalib, dalam pidato, surat, kata-kata mutiaranya,
dan dalam puisi dan sastra Arab. Tidak berlebihan bila
dikatakan, sebagaimana penilaian para ahli sastra, bahwa
sastra Ali bin Abi Thalib adalah sastra terbaik yang pernah
dikenal oleh sejarah dari sisi kaidah, kedalaman dan pesanpesan
yang dikandungnya.
Berikut ini adalah beberapa contoh dari syair Ali bin
Abi Thalib dalam beberapa tema, tentunya setelah dapat
dipastikan bahwa syair-syiar ini tercatat dalam Diwan
(koleksium syair) yang dinisbatkan kepadanya. Ini diperkuat
oleh sebagian ahli sejarah yang memberikan kesaksian dan
mengutip bait-bait syairnya.
Ali bin Abi Thalib mengucapkan melantunkan syiar
untuk mengenang kematian sang ayah tercinta:
Abu Thalib pelindung para pendari perlindungan
Bak hujan curah, bak cahaya di kegelapan
Kepergianmu tlah merusak rantai perlindungan
Dari Allah, Pemberi nikmat salawat atasmu
Tuhanmu restui perbuatanmu
Paman terbaik bagi sang Musthafa
Jahiz Baladzuri menuturkan, „Ali bin Abi Thalib adalah
sahabat Nabi yang paling pandai dan fasih merangkai syair,
orator yang tak tertandingi, dan terutama dalam seni tulis.
Pada hari Ghadir Khum, Ali pernah melantunkan syair
demikian:
Rasul menolong kami kala mereka berselisih dan bermusuhan
Kaum Muslim yang sadar kembali padanya
Kami arahkan mereka yang sesat demi menghormati Rasul
Kala mereka belum melihat jalan dan petunjuk yang benar
Kala Rasul membawa hidayah, kami semua
senantiasa menaati Allah, kebenaran dan takwa
Dalam kitab Tadzkirah al-Khawash, Sibth bin Jauzi
meriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib bersyair:
Tamak akan dunia memaksa orang untuk mengaturnya
Bagimu kejernihan dunia telah dikeruhkan
Mereka tak temukan rezeki dunia dengan akal
Mereka temukan rezeki dengan takaran
Bahkan dengan kekuatan atau perang
Bak burung pemburu, temukan rezeki burung gereja
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib yang berujar:
Penyakitmu ada pada dirimu sendiri, sayang tak sadar
Obatnya pun dari dirimu sendiri, sayang tak peduli
Akankah kau anggap dirimu sebongkah kecil
Kala rahasia alam besar ada dalam dirimu
Salawat dan salam atasmu, wahai ayah Hasan dan
Husain! Wahai penghulu sastrawan!
Salam atasmu pada hari kelahiran, hari keimanan, hari
perjuangan, hari kesabaran, hari ketika engkau menempatkan
hukum di atas segala-galanya, hari ketika engkau syahid
dengan penuh kesabaran, dan hari ketika engkau dibangkitkan
kembali, hari di mana engkau menuntun para pecintamu
menuju telaga kautsar sampai surga na’im!